Getaran di bawah lantai kayu itu perlahan surut, menyisakan keheningan yang mencekam dan aroma tanah basah yang kian menyengat. Mbah Danu berdiri mematung di ambang pintu, tongkat kayunya yang tergeletak di lantai tak berani ia pungut kembali. Matanya yang kabur menatap Banyu dengan campuran rasa takjub dan teror yang amat sangat.
"Sumpah Wilis..." bisik Mbah Danu, suaranya parau bergetar. "Perjanjian darah antara penguasa gaib Dieng dengan para pembuka tanah di era Kyai Kolodete. Leluhurmu tidak sekadar tinggal di sini, Banyu. Mereka adalah para penjaga."
Banyu menyapu darah kehitaman di bibir Sekar dengan ujung lengan bajunya. Tubuh adiknya kini dingin bagai mayat yang disimpan di dalam ruang pendingin, tetapi napasnya meski sangat tipis masih mengembun kaku di udara.
"Mbah... tolong jelaskan sama saya. Kakek Subroto sebenarnya kenapa?" desak Banyu, keputusasaan terdengar jelas dari nada bicaranya. "Kenapa Sekar yang harus menanggung semua ini?"
Mbah Danu menggelengkan kepala kaku, melangkah mundur perlahan menuju pintu keluar. "Mbah tidak tahu secara utuh apa yang dilakukan Kakek Subroto-mu puluhan tahun lalu. Tapi yang Mbah tahu, Kakekmu pernah menghilang selama tiga hari tiga malam di lembah Candi Arjuna sebelum gempa besar tahun 1944. Saat dia kembali, dia membawa sesuatu yang seharusnya tidak pernah disentuh oleh manusia biasa."
Sesepuh desa itu berhenti di ambang pintu, menatap Banyu penuh peringatan. "Mbah mau pergi ke rumah Ki Ageng untuk mengambil minyak tirta dan dupa suci buat menahan napas adikmu. Tapi ingat pesan Mbah, Banyu... ilmu ghaib orang tua zaman dulu tidak bisa disembunyikan selamanya. Cari apa yang ditanam Kakekmu di rumah ini sebelum malam benar-benar jatuh. Kalau kamu tidak menemukan kuncinya, adikmu tidak akan pernah melewati malam es nanti!"
Tanpa menunggu balasan Banyu, Mbah Danu bergegas pergi. Langkah kakinya yang terburu-buru menghilang di balik gumpalan kabut putih bun upas yang kian tebal membungkus pemukiman warga.
Banyu berdiri sendirian di tengah ruangan yang mendingin. Kata-kata Mbah Danu terus bergema di tempurung kepalanya: Cari apa yang ditanam Kakekmu di rumah ini.
Banyu menatap tubuh Sekar yang terbaring kaku, lalu mengunci pintu depan rapat-rapat. Ia melangkah menuju kamar belakang—sebuah ruangan kecil berdinding papan kayu jati tua yang dulu menjadi kamar pribadi Kakek Subroto sebelum beliau wafat lima belas tahun lalu. Ruangan itu selama ini hanya dijadikan gudang penyimpanan perkakas pertanian dan karung-karung kentang kosong.
Aroma debu lapuk, tanah lembap, dan bau sangit kayu tua menyambut Banyu saat ia menggeser pintu sorong ruangan tersebut. Cahaya temaram fajar yang tertutup kabut menembus ventilasi udara yang berdebu.
Di sudut ruangan, berdiri sebuah lemari kayu jati berukir raksasa. Lemari itu sangat berat, telah berdiri di sana sejak Banyu masih balita dan tidak pernah dipindahkan satu inci pun. Banyu mendekati lemari tersebut, meletakkan kedua telapak tangannya di sisi kayu yang kusam, lalu mendorongnya dengan seluruh tenaga.
"Arghhh!"
Otot-otot lengan Banyu menegang keras. Gesekan dasar lemari dengan lantai kayu menimbulkan bunyi derit tajam yang memecah kesunyian. Setelah berjuang beberapa menit dengan napas tersengal, lemari raksasa itu akhirnya bergeser setengah meter, menyingkapkan sudut lantai kayu yang selama ini tertutup rapat dari jangkauan mata.
Banyu berlutut di tanah. Di balik sapuan debu tebal, terdapat susunan empat papan kayu lantai yang berbeda dari yang lain. Papan-papan itu tampak pernah dibongkar dan dipasang kembali secara kasar, serta terikat oleh paku-paku kuningan berukuran besar yang sudah berkarat hijau.
Banyu berlari ke luar kamar, mengambil sebuah linggis besi pendek dari rak perkakas, lalu kembali ke sudut lemari. Tanpa ragu, ia menyisipkan ujung tajam linggis itu ke celah papan kayu dan menekan gagangnya kuat-kuat.