Deru mesin mobil ambulans puskesmas desa meraung memecah keheningan lereng Kejajar. Lampu sirine merah memantulkan pendar pucat pada kristal-kristal es bun upas yang membungkus pepohonan di sepanjang jalan. Di dalam kabin belakang yang sempit, Banyu duduk bersandar pada dinding logam, memegang erat jemari Sekar yang terasa sekaku bilah kayu terendam air es.
Di sampingnya, seorang perawat muda berwajah pucat berulang kali memeriksa tabung oksigen dan monitor detak jantung portabel. Angka di layar berkedip-kedip tidak menentu kadang melonjak gila-gilaan, kadang meluncur turun hingga garis datar yang memicu bunyi bip panjang nan mengerikan.
"Suhu tubuhnya tidak masuk akal..." bisik perawat itu dengan suara gemetar, menyapu keringat dingin di dahinya sendiri. "Suhu rektal menunjukkan 31 derajat Celsius, tapi kulit dada dan keningnya begitu panas sampai stetoskop saya terasa hangat. Mas Banyu, adikmu ini secara medis..."
"Tolong lakukan saja apa yang bisa Mas lakukan!" potong Banyu dengan napas tersengal. Suaranya serak, matanya merah berdarah. "Jangan berhenti pompa oksigennya!"
Di pojok kabin, Mbah Danu duduk membisu. Sesepuh desa itu memangku wadah kuningan berisi minyak tirta dan bunga kantil. Tatapannya tak pernah lepas dari gumpalan rambut gimbal Sekar yang menjuntai kasar di atas kasur lipat ambulans. Setiap kali roda mobil menghantam lubang jalan, gumpalan rambut itu tampak bergerak pelan, seolah-olah memiliki nyawa tersendiri yang menolak sentuhan dunia modern.
"Rumah sakit kota tidak akan bisa menyembuhkan apa yang diikat oleh gaib, Banyu," Mbah Danu akhirnya bersuara, tenggorokannya berderak berat. "Tabung gas dan jarum suntik itu cuma menunda napasnya. Roh adikmu sudah separuh ditarik ke dalam kawah."
Banyu meremas buku harian Kakek Subroto dan peta kain kuno yang tersembunyi di balik jaket tebalnya. "Saya tahu, Mbah. Saya tidak akan membiarkan Sekar mati."
"Malam ini puncak bun upas," lanjut Mbah Danu pelan, matanya menembus kaca jendela belakang yang mulai membeku tertutup embun es. "Suhu di kompleks Candi Arjuna sudah menyentuh minus empat derajat. Kabut es yang turun malam ini adalah kabut kematian. Kalau kamu nekat melangkah ke sana tanpa pusaka penyeimbang, kamu cuma menyerahkan nyawamu secara cuma-cuma."
"Kalau saya diam saja di rumah sakit, Sekar yang mati, Mbah!" Banyu menegaskan dengan nada bergetar hebat. "Kakek yang memulai utang ini. Kalau harus ada darah yang dibayar untuk menebusnya, biarlah darah saya, bukan darah bocah sepuluh tahun yang tidak tahu apa-apa ini!"
Mbah Danu menghela napas panjang, tatapannya menyiratkan kepedihan mendalam. Ia merogoh kantong jas pintalnya dan mengeluarkan sebuah kantong kain bludru hitam berisi serbuk kayu kemenyan dan sebongkah batu akik hitam tak terasah.
"Pegang ini," Mbah Danu menjejalkan kantong itu ke telapak tangan Banyu. "Ini batu Pengasihan Arjuna peninggalan leluhur desa. Batu ini tidak akan melindungimu dari serangan iblis kawah, tapi setidaknya bisa menjaga kesadaranmu agar jiwa serta ingatanmu tidak hancur saat menghirup kabut es di pusat candi."
Banyu menggenggam batu dingin itu erat-erat. "Terima kasih, Mbah."
"Banyu..." Mbah Danu menatap mata pemuda itu dalam-dalam. "Ingat satu hal. Di mana pun kamu berada nanti, saat malam menyeberangi batas alam, jangan pernah memanggil nama asli adikmu di depan penguasa gaib. Panggil dia dengan nama Anak Bajang. Nama asli adalah tali jiwa. Kalau mereka tahu nama aslinya, jiwanya akan terkunci selamanya di tanah itu."
Mobil ambulans akhirnya berhenti di halaman Puskesmas Kecamatan Kejajar. Petugas medis berhamburan keluar membopong brankar Sekar menuju ruang perawatan darurat. Saat para dokter dan perawat sibuk memasang selang infus dan monitor medis di dalam ruangan berlampu neon terang, Banyu berdiri membeku di balik pintu kaca.