Hawa panas dari letupan kayu bakar menusuk permukaan kulit Banyu yang sebelumnya membeku. Baunya amat berbeda dari bau udara modern yang biasa ia hirup; tidak ada aroma jelaga mesin diesel, asap apotek, atau zat kimia. Yang menguar di sekitar Banyu adalah aroma resin pinus terbakar, asap kemenyan jawa yang manis membakar tenggorokan, serta bau tanah humus murni dari hutan perawan yang belum tersentuh polusi.
Banyu berusaha menggerakkan jemarinya. Tanah di bawah tubuhnya terasa gembur dan hangat, dilapisi dedaunan kering yang tebal. Saat mata merahnya perlahan terbuka dan menyesuaikan diri dengan pendar pendar api unggun, jantungnya melonjak drastis.
Ia tidak lagi berada di pelataran dingin Candi Arjuna yang sepi dan hancur dimakan zaman.
Di sekelilingnya, berdiri puluhan pria berpawakan kekar dengan kulit gelap terbakar matahari. Mereka mengenakan pakaian kain lurik kasar tanpa lengan, selendang batik kusam terlilit rapi di pinggang, dan ikatan kepala kain hitam yang menyembunyikan rambut panjang mereka. Di tangan masing-masing, terikat erat gagang tombak bermata besi tajam yang memantulkan kilatan merah api unggun. Beberapa di antaranya memegang obor bambu yang apinya menari-nari tertiup angin malam.
"Aja obah!" [Jangan bergerak!]
Sebuah teriakan keras bernada ancaman memecah hening. Ujung tombak bermata tiga yang dingin dan tajam menempel tepat di bawah dagu Banyu, memaksa pemuda itu menengadahkan kepalanya kaku.
Pria yang memegang tombak itu bertubuh tinggi besar dengan kumis tebal melintang dan mata menusuk bagai burung elang. Di selipan pinggang bagian belakangnya, bertengger sebuah keris bersarung kayu cendana dengan ukiran kepala naga.
"Sapa kowe? Penyusup saka tanah pesisir, utawa iblis malihan kawah?!" [Siapa kamu? Penyusup dari tanah pesisir, atau iblis penjelmaan kawah?!] bentak pria berkumis tebal itu dengan bahasa Jawa kuno yang bernada patah-patah dan penuh tekanan intimidasi.
Banyu menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Tenggorokannya sangat kering. Ia mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih simpang siur akibat guncangan portal waktu.
"Saya... saya bukan musuh," jawab Banyu dengan suara parau. Ia mencoba menggerakkan tangannya ke atas sebagai tanda menyerah, tetapi gerakan kecil itu langsung memicu kibasan tombak lain yang mengunci kedua pergelangan tangannya ke tanah.
Para prajurit di sekelilingnya saling berbisik cemas dengan raut wajah penuh kewaspadaan. Pandangan mereka tertuju pada pakaian yang dikenakan Banyu. Jaket parasit tebal berwarna biru tua, celana jeans hitam yang ketat, dan sepatu hiking bersol karet tebal adalah wujud pakaian yang asing, ganjil, dan tidak masuk akal bagi penglihatan manusia abad ke-17. Bagi mereka, bahan sintetis mengkilap pada jaket Banyu tampak bagai kulit ular raksasa yang belum pernah ada di alam Nusantara.
"Agemane aneh... Ora kaya manungsa biasa," [Pakaiannya aneh... Tidak seperti manusia biasa,] bisik salah seorang prajurit bertubuh agak kurus sambil mendekatkan obornya ke wajah Banyu. "Deleng sepatune! Kulit kewan apa sing kaya ngono?" [Lihat sepatunya! Kulit hewan apa yang seperti itu?]
"Aja-aja iki utusane Ki Ageng Pesisir sing panuju ngrusak papan iki!" [Jangan-jangan ini utusan Ki Ageng Pesisir yang berniat merusak tempat ini!] sahut prajurit lainnya seraya mengacungkan parang panjang.
Banyu mencoba mengingat pelajaran sejarah dan kosakata bahasa Jawa halus yang pernah diajarkan kakeknya. "Ngapunten... Kula sanes tiyang jahat. Kula... kula nggoleki tempat iki," [Maaf... Saya bukan orang jahat. Saya... saya mencari tempat ini,] tutur Banyu terbata-bata, lidahnya kaku menyesuaikan dialek kuno tersebut.