Sumpah Wilis Anak Bajang Dieng

kholid alamsyah
Chapter #6

PERTEMUAN DENGAN KYAI KOLODETE

Langkah kaki Banyu terasa amat berat menembus pekatnya Hutan Dieng abad ke-17. Sepatu hiking modern yang dikenakannya berkali-kali terperosok ke dalam lapisan tanah humus yang basah dan empuk oleh tumpukan daun-daun jati purba. Di sekelilingnya, lima prajurit pimpinan Ki Wandira berjalan mengapit dengan obor bambu menyala terang, memancarkan pendar oranye yang menari-nari membelah kegelapan malam.

Atmosfer tempat ini luar biasa asing sekaligus menakjubkan. Tidak ada suara gemuruh mesin, tidak ada pijar lampu listrik di kejauhan. Yang ada hanyalah deru angin gunung yang bertiup murni, suara jangkrik hutan bermata merah, serta bau harum wangi kemenyan jawa yang berpadu dengan uap sulfur dari kawah-kawah liar yang belum terjamah pemukiman.

Saat rombongan kecil itu menaiki celah bukit batu, pandangan Banyu seketika terkunci pada pemandangan di hadapannya.

Di dasar lembah, berdiri kompleks Candi Arjuna—utuh, megah, dan memancarkan keagungan yang belum pernah Banyu bayangkan selama hidupnya sebagai pemandu wisata. Batu-batu andesit hitam penyusun candi tampak bersih berkilau, tidak ada rumput liar atau bagian yang runtuh. Di sekeliling kompleks candi, puluhan kemah kayu beratap ijuk dan rumah-rumah panggung berdiri rapi, dilingkupi obor-obor raksasa yang menyala terang di sepanjang jalur jalan batu. Umbul-umbul kain berukir aksara Jawa kuno berkibar megah ditiup angin malam.

"Iki pendopo agung tanah atas angin," bisik Ki Wandira seraya menepuk bahu Banyu, melunakkan sedikit sikap kerasnya. "Tempat di mana Kyai Kolodete memimpin para pembuka lahan dan menjaga ketenangan alam Dieng."

Banyu menelan ludah. Hatinya bergetar hebat. Sosok yang selama ini hanya ia baca dalam buku sejarah dan mitos rakyat Dieng—Kyai Kolodete, sang pembimbing legendaris—kini berjarak beberapa belas langkah saja dari tempatnya berdiri.

Mereka menaiki tangga batu menuju pendopo utama yang beratap tajug kayu jati raksasa. Aroma bunga melati, asap kayu cendana, dan embun es terasa pekat di udara. Di dalam pendopo, belasan tetua adat dan prajurit senior duduk bersila melingkari tempat pembakaran dupa yang membumbungkan asap tipis ke udara.

Dan di bagian tengah pendopo, duduk seorang pria paruh baya di atas tatanan batu bertatah kain batik wulung.

Pria itu berpawakan tegap dengan kulit matang terbakar matahari. Rambut hitamnya yang mulai memutih di bagian pelipis dikepang panjang rapi hingga menutupi punggungnya. Pakaiannya berupa busana lurik pekat tanpa lengan, memperlihatkan otot-otot lengannya yang kencang dan penuh bekas luka pertempuran. Namun, yang paling menyita perhatian Banyu adalah tatapan matanya—tajam, tenang, dan memancarkan aura kewibawaan spiritual yang begitu dalam hingga membuat siapa pun terdorong untuk menundukkan kepala.

Dialah Kyai Kolodete.

"Sugeng dalu, Ki Wandira," [Selamat malam, Ki Wandira,] suara Kyai Kolodete bergaung lembut namun berbobot, memecah kesunyian pendopo. "Sapa bocah sing kowe gawa ing tengah wengi iki? Sandangane aneh, lan tatapane kebak keputusasaan." [Siapa bocah yang kamu bawa di tengah malam ini? Pakaiannya aneh, dan tatapannya penuh keputusasaan.]

Ki Wandira maju dua langkah, membungkuk kaku memberi penghormatan, lalu meletakkan peta kain Kakek Subroto dan buku harian bersampul kulit kerbau di atas papan kayu di hadapan Kyai Kolodete.

"Ngapunten, Kyai," tutur Ki Wandira khidmat. "Bocah iki teka saka pusaran kabut Candi Arjuna. Dheweke nggawa tanda darah Wilis... lan peta iki."

Mendengar kata "Wilis", para tetua adat yang duduk bersila di sekeliling pendopo mendadak berdengung cemas. Beberapa di antara mereka meraba gagang keris di pinggang masing-masing dengan raut wajah tegang.

Kyai Kolodete mengulurkan tangannya yang kasar oleh kapalan, mengambil peta kain milik Kakek Subroto, lalu membukanya perlahan. Mata cantingnya menelusuri garis demi garis tinta hitam dan ukiran lambang Sumpah Wilis.

Lihat selengkapnya