Suara derak kayu pendopo yang tertekan oleh gelombang hawa dingin luar biasa bersahut-sahutan bagai tulang-tulang raksasa yang dipatahkan secara paksa. Aroma kemenyan manis yang semula menenangkan di dalam pendopo mendadak disapu bersih oleh bau busuk bangkai terendam sulfur yang sangat menyengat. Bau itu begitu pekat hingga membuat beberapa prajurit muda muntah-muntah di tempat, sementara mata mereka berair hebat menahan pedihnya uap racun kawah.
Dari balik kegelapan hutan rimba, kabut hitam tak bertepi merayap masuk bagai tumpahan tinta pekat di atas kain putih. Kabut itu tidak tertiup angin, melainkan bergerak secara aktif, menggulung dan menelan satu per satu pendar api obor di sekeliling pemukiman. Setiap kali obor padam ditelan kabut hitam, jeritan melengking dari para penjaga gerbang terdengar terputus secara mengerikan, disusul bunyi gemeretak tulang yang remuk dihantam benda tumpul.
"Cepat Ambil Tirta Kemuning! Lingkari Pendopo!" teriak seorang tetua adat seraya melemparkan segenggam garam berajah ke dalam pembakaran dupa.
Letupan api kebiruan memercik kencang, membumbungkan benteng uap suci yang menahan laju kabut hitam beberapa meter dari pelataran pendopo. Namun, dari balik gulungan kabut yang tertahan itu, muncul wujud-wujud mengerikan yang membuat darah Banyu membeku di dalam pembuluh darahnya.
Makhluk-makhluk itu tidak berwujud manusia utuh. Mereka adalah bayangan hitam tinggi berbulu kasar dengan jemari melengkung panjang bagai bilah obsidian tajam. Wajah mereka meliuk kaku tanpa hidung dan bibir, menyingkapkan deretan gigi taring panjang yang berlumuran lendir hitam. Dan di tengah rongga mata mereka yang bolong, menyala bara merah menyala yang memancarkan kebencian murni.
Siluman Penagih Janji. Makhluk-makhluk gaib penunggu Kawah Sileri yang bangkit menuntut "utang darah" akibat terputusnya Sumpah Wilis!
"Darah... Wilis..." desis puluhan suara serak yang bergema bersamaan dari balik kabut. Suara itu meliuk-liuk merayap di lantai kayu, menggetarkan gendang telinga Banyu hingga kepalanya serasa mau pecah. "Serahkan... darah... trah Wilis..."
"Aja mengos!" [Jangan gentar!]
Kyai Kolodete melangkah maju ke garis depan pelataran pendopo. Sosoknya berdiri tegak bagai batu karang di tengah badai. Dari selipan pinggangnya, ia menarik sebuah keris berluk tujuh dengan sarung kayu cendana yang terukir indah. Saat bilah keris itu terhunus sepenuhnya, pendar cahaya putih keemasan meletup murni dari permukaannya, mengusir kegelapan dan membuat wujud-wujud siluman di dalam kabut meraung kesakitan sembari menarik diri beberapa langkah ke belakang.
"Iki tanah atas angin yang disucikan!" tegur Kyai Kolodete dengan suara menggelegar penuh aura kewibawaan spiritual yang menggetarkan jiwa. "Kowe iblis kawah ora nduweni hak merusak tempat iki sebelum masa penagihan resmi dijatuhkan!"
Satu siluman berukuran paling besar—dengan dua tanduk melengkung menyerupai tanduk banteng dan tubuh diselimuti kobaran api hitam—melompat ke depan. Suara tawanya berat dan pecah, merusak keheningan malam.
"Janji sudah terputus ratusan malam yang lalu, Kolodete!" raung siluman bertanduk itu, menunjuk Banyu yang sedang merangkak di lantai dengan cakar hitamnya yang meneteskan cairan gatal. "Bocah itu membawa racun trah pencuri! Darahnya adalah milik kami, dan jiwa adiknya di masa depan sudah tertancap di tiang kawah kami!"
Banyu yang mendengar kata-kata itu mengepalkan tangannya kencang. Rasa nyeri di dadanya kian menjadi-jadi. Di dalam pendengarannya yang terdistorsi oleh dua dimensi, ia tidak hanya mendengar raungan siluman kawah, tetapi juga gema sirine ambulans dan detak kaku mesin monitor medis di Puskesmas Kejajar tahun 2026.
BIP... BIP... BIP...
Detak jantung Sekar di masa kini kian cepat, tidak teratur, dan melemah drastis. Banyu bisa merasakan paru-parunya sendiri serasa dipenuhi air es saat ia membayangkan tubuh kecil Sekar yang sedang berjuang keras melawan kematian di ranjang rumah sakit.