Sumpah Wilis Anak Bajang Dieng

kholid alamsyah
Chapter #8

KOMA DUA DUNIA

Sensasi melayang di udara mendadak lenyap, berganti dengan kehampaan mutlak yang memutus seluruh koordinat indera Banyu. Rasa panas menyengat dari uap belerang, bau busuk bangkai, dan cengkram keras cakar batu Banaspati Kawah yang meremukkan lehernya melebur menjadi satu titik kegelapan pekat.

Di dalam titik gelap itu, tidak ada gravitasi. Tidak ada ruang, tidak ada waktu.

Hanya ada satu suara yang bergaung memekakkan telinga suara nada tunggal yang konstan, melengking kaku, dan tanpa jeda:

BIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIP...

Suara garis datar monitor jantung.

Pandangan Banyu terlempar secara paksa menembus dinding dua zaman. Jiwanya tercabut dari raga abad ke-17 dan melayang di sudut langit-langit ruang perawatan darurat Puskesmas Kejajar tahun 2026.

Di bawah sana, di balik pendar lampu neon yang berkedip-kedip liar, suasana berantakan bagai neraka kecil. Dokter Aris seorang dokter muda berpakaian serba hijau sedang menggosokkan dua padel alat defibrillator dengan tangan gemetaran hebat.

"Isi dua ratus Joule! Cepat!" teriak Dokter Aris, suaranya parau oleh kepanikan.

"Siap, Dok! Dua ratus Joule terisi!" sahut perawat wanita di sampingnya dengan napas terengah-engah.

"Semua lepas kontak! Clear!"

THUMP!

Dada kecil Sekar terangkat tinggi dihantam sengatan listrik bertegangan tinggi, lalu jatuh terkulai kaku kembali ke atas sprei putih yang ternoda darah kehitaman. Namun, monitor medis di samping ranjang tidak bergerak sedikit pun. Angka detak jantungnya tetap menunjukkan angka nol. Garis hijau di layar LCD itu tetap lurus tanpa gelombang.

"Dokter... napas dan refleks pupilnya sudah hilang..." tangis perawat wanita itu pecah, menjatuhkan selang oksigen ke lantai.

Di pojok ruangan, Mbah Danu berlutut di lantai dingin. Sesepuh desa itu meremas rosario kayu di tangannya, air mata membasahi wajah tuanya yang makin berkerut. "Gusti Pangeran... ampuni dosa para leluhur tanah ini... jangan ambil nyawa anak yang tidak berdosa ini..."

Banyu—yang menyaksikan adegan itu dalam wujud kesadaran roh yang tak kasatmata meraung histeris. Ia berusaha meluncur turun dari langit-langit, berusaha merengkuh tubuh adiknya, berusaha menjejalkan udara ke dalam paru-paru Sekar. Namun, tangannya menembus tubuh Sekar bagai memegang udara kosong.

"Sekar! Bangun, Dek! Mas ada di sini! Mas belum kalah!" jerit Banyu. Suaranya tidak terdengar oleh siapa pun di ruang medis itu.

Tiba-tiba, hamparan dinding putih Puskesmas Kejajar runtuh menjadi serpihan es yang membeku. Alam nyata modern itu terbilas oleh kabut abu-abu pekat, membawa jiwa Banyu terlempar ke sebuah padang suram yang dingin tak bertepi titik limbo, tempat bertemunya jiwa-jiwa yang berada di ambang kematian.

Di tengah padang kabut suram itu, berdiri sebuah sosok kecil.

Sekar.

Bocah sepuluh tahun itu berdiri membelakangi Banyu. Gumpalan rambut gimbal di kepalanya kini menjelma menjadi akar-akar pohon hitam raksasa yang merayap turun ke tanah membeku, melilit kedua kaki kecilnya dengan erat dan menariknya perlahan menuju sebuah pusaran jurang lahar merah yang menganga di kejauhan.

"Sekar!" Banyu berlari kencang, menerjang kabut es yang membakar kulit rohnya.

Sekar menoleh perlahan. Wajah adiknya pucat pasi, matanya dihiasi lingkaran hitam tebal, tetapi tatapannya tidak lagi keruh oleh gangguan gaib. Itu adalah tatapan asli Sekar tatapan adiknya yang polos, rapuh, dan kelelahan.

"Mas Banyu..." bisik Sekar dengan suara yang sangat pelan. "Sekar capek banget... Kaki Sekar sakit ditarik sama akar-akar ini..."

Lihat selengkapnya