Udara di dalam ruang utama Labirin Candi Gaib tidak lagi beraroma sulfur menyengat, melainkan dingin membeku dengan bau kayu cendana lapuk dan besi berkarat. Dinding-dinding batu andesit yang melingkupi ruangan melengkung itu penuh dengan relief ukiran dewata abad ke-8 yang telah tertutup lapisan kristal es tipis.
Di tengah ruangan, di atas altar batu berbentuk bunga teratai mekar, bertengger Batu Wilis.
Pusaka itu berwujud kristal oval berukuran sebesar kepalan tangan pria dewasa. Permukaannya memancarkan cahaya biru kobalt yang hangat, berselang-seling dengan pendar keemasan murni yang berdenyut lembut persis seperti ritme detak jantung manusia. Setiap kali pendar emas itu meletup, gelombang hawa hangat menyapu ke seluruh ruangan, menahan luapan lahar dan uap racun Kawah Sileri yang menggelegak tepat di bawah fondasi batu tempat itu.
Namun, pemandangan di sekeliling altar itulah yang membuat buku-buku jari Banyu membiru kaku karena gemetar.
Tujuh sosok mumi manusia dalam posisi duduk bersila melingkari altar teratai tersebut. Kulit tubuh mereka telah mengering hitam bagai kayu terbakar, membalut tulang-belulang kaku yang masih terbungkus sisa-sisa kain mori dan pakaian prajurit lapuk. Dari pusat dada masing-masing mumi, menjulur rantai-rantai besi hitam tebal yang tertancap langsung ke dalam inti kristal Batu Wilis. Rantai-rantai itu bergetar halus, mengeluarkan bunyi gemerincing dingin yang konstan.
Dan mumi yang duduk tepat di hadapan Banyu yang memegang sabuk kuningan berukir lambang Sumpah Wilis perlahan menengadahkan kepalanya yang terbalut sisa kain putih kusam.
Rongga mata mumi itu bolong tanpa bola mata, tetapi dari kedalaman tengkoraknya, dua titik pendar cahaya kebiruan menyala redup.
"Cucuku... akhirnya kamu datang untuk menggantikan posisiku sebagai rantai abadi batu ini..."
Suara itu tidak keluar dari bibir mumi yang telah mengering kaku. Suara itu bergaung langsung di dalam tempurung kepala Banyu suara serak, tua, dan dipenuhi penyesalan mendalam yang sangat Banyu kenal. Suara Kakek Subroto.
Banyu melangkah mundur satu pijakan, napasnya tersengal kaku. "Kakek...? Enggak... ini enggak mungkin! Kakek meninggal lima belas tahun lalu di rumah!"
Mumi di hadapannya bergetar pelan. Rantai besi hitam di dadanya berdenting kencang saat tubuh kaku itu bergeser beberapa sentimeter ke depan.
"Yang kamu makamkan di desa lima belas tahun lalu hanyalah jasad kosongku, Banyu..." bisik gema suara Kakek Subroto di benak Banyu. "Jiwa dan sukmaru telah terikat di sini sejak malam berdarah tahun 1944. Aku memang berhasil membawa batu ini keluar untuk menyembuhkan Karsan... tapi hukum alam Dieng tidak pernah bisa dikelabui."
"Kakek..." Banyu menatap sosok Kakek Subroto dengan mata berkaca-kaca. Rasa marah yang selama ini membakar dadanya atas penderitaan Sekar mendadak meleleh, berganti menjadi rasa kasihan dan kepedihan murni yang sangat dalam. Kakek yang selama ini ia kenal sebagai sosok pemarah dan pendiam, ternyata telah menderita dalam siksaan abadi selama belasan tahun di alam gaib ini.
"Aku melarikan diri dari takdirku..." lanjut gema suara Kakek Subroto, nadanya bergetar penuh duka. "Aku mengunci jiwaku sendiri di labirin ini untuk menahan gejolak Batu Wilis agar keluargaku selamat. Tapi penahananku tidak sempurna. Karena aku tidak melakukan ritual penebusan darah murni, ikatan rantai ini rapuh... dan iblis kawah menagih kekurangannya pada darah cucuku yang paling polos... Sekar."
"Gusti Allah..." Ki Wandira yang berdiri di samping Banyu membisikkan doa khidmat, mencengkeram erat gagang tombaknya. "Iki Rantai Sukma... Ritual kuno para penjaga altar. Dheweke menumbalkan jiwanya sendiri agar pusaka iki ora jatuh ke tangan siluman kawah!"
"Ki Wandira!" Banyu menoleh cepat dengan waut wajah histeris. "Bagaimana cara melepaskan Kakek dan ambil Batu Wilis ini?!"
Ki Wandira menatap Banyu dengan ekspresi wajah yang sangat berbobot dan kelam. "Aja gegabah, Banyu! Rantai besi hitam iku dibuat dari pasak energi jiwa. Yen kowe memutus rantai iku secara paksa tanpa ritual penebusan, jiwa Kakekmu bakal hancur lebur dadi abu abadi, lan energi Batu Wilis bakal meledak membakar seluruh tanah Dieng ing dua zaman!"