Sumpah Wilis Anak Bajang Dieng

kholid alamsyah
Chapter #10

PENGKHIANATAN DI LEMBAH ANJIR

Darah hangat mengalir membasahi bilah batu andesit altar, merembes cepat ke celah-celah ukiran teratai yang berdebu. Rasa sakit di bahu kanan Banyu bukan lagi sekadar rasa perih luka robek, melainkan dorongan sengatan racun dingin yang menjalar cepat mengikuti alur pembuluh darah menuju jantungnya. Ujung mata tombak besi hitam itu terbenam dalam, mengunci tubuhnya ke permukaan altar, sementara telapak kaki berlapis karut kulit milik Panglima Ki Rangga menekan dadanya tanpa belas kasihan.

Banyu terbatuk keras, memuntahkan gumpalan darah kental yang memercik ke wajahnya sendiri. Penglihatannya samar-samar, bergoyang antara pendar biru kristal Batu Wilis dan wujud Ki Rangga yang berdiri angkuh di atas tubuhnya.

"Kenapa..." bisik Banyu parau, tenggorokannya bagai tersumbat pecahan kaca. "Kyai Kolodete... mempercayaimu..."

Panglima Ki Rangga terkekeh pelan. Suara tawanya berat, pecah, dan bergema kaku di dalam ruangan labirin, bergetar melapisi gema ganjil yang sama persis dengan raungan siluman Kawah Sileri.

"Kolodete itu orang tua yang terlalu dungu dan tertutup oleh kenaifan moral," desis Ki Rangga seraya makin menekan tumit kakinya ke dada Banyu. Banyu menjerit kaku saat tulang rusuknya berderit kencang. "Dia pikir manusia dan penguasa gaib bisa hidup berdampingan hanya dengan menjaga keseimbangan absurd ini. Padahal, kekuatan Batu Wilis adalah kunci mutlak untuk menguasai alam fisik dan alam gaib sekaligus!"

Di samping Ki Rangga, Ki Wandira berdiri mematung bagai patung batu. Matanya sepenuhnya hitam tanpa bagian putih, sementara dari tengkuk lehernya, ruam hitam berbentuk parasit gaib merayap pelan, mengendalikan seluruh sistem saraf dan kesadaran sang prajurit.

"Tidakkah kamu paham, bocah?" Ki Rangga membungkuk sedikit, menatap mata Banyu dengan sorot mata merah menyala penuh kejahatan. "Aku yang membocorkan rahasia altar ini kepada kakekmu puluhan tahun lalu. Aku yang menghasut Subroto untuk mencuri batu ini agar Sumpah Wilis terputus! Semua agar pertahanan gaib Dieng runtuh, dan aku bisa mengambil alih pusaka ini saat saatnya tiba!"

Kenyataan pahit itu menghantam dada Banyu lebih menyakitkan daripada tusukan tombak di bahunya. Kakek Subroto bukan sekadar mencuri karena keputusasaan; beliau adalah korban manipulasi keji Panglima Ki Rangga sejak awal!

BIP... BIP... BIP-BIP-BIP!

Di dalam celah inderanya yang melompati dimensi, gema monitor medis di Puskesmas Kejajar tahun 2026 kembali meraung liar! Serangan fatal yang dialami Banyu di abad ke-17 langsung berdampak destruktif pada tubuh Sekar. Di ruang perawatan modern, grafik detak jantung adiknya mendadak melonjak tidak teratur sebelum akhirnya meluncur turun secara drastis menuju batas bawah yang mematikan.

"Dokter! Tekanan darah pasien drop ke empat puluh per tiga puluh! Nadi karotisnya melemah lagi!" jerit perawat di ruang medis masa kini.

"Siapkan epinefrin! Cepat!" raung Dokter Aris panik.

Banyu mendengar seluruh kepanikan itu di dalam kepalanya. Gambar wajah Sekar yang pucat, terbaring kaku dengan gumpalan rambut gimbal di atas kasur puskesmas, terbayang begitu nyata. Adik kecilnya kembali berada di ambang jurang kematian karena pengkhianatan pria di hadapannya ini.

Enggak... aku enggak akan biarkan iblis ini menang...

Amarah murni membakar sisa-sisa kesadaran Banyu. Rasa takut pada kematian meleleh sepenuhnya, berganti menjadi daya juang liar seorang kakak yang tidak sudi melihat adiknya dijadikan korban permainan kekuasaan.

Di atas altar, darah Banyu yang telah menyerap energi spiritual Pengasihan Arjuna dan pengorbanan Kakek Subroto meresap makin dalam ke dalam serat-serat kristal Batu Wilis.

Pusaka penyeimbang itu mendadak bergetar hebat!

Pendar cahaya biru kobalt yang semula lembut berubah menjadi letupan gelombang cahaya keemasan yang sangat menyilaukan! Suara dentang lonceng perunggu Kyai Semar bergema maha dahsyat dari dalam inti kristal, memancarkan gelombang kejutan spiritual yang membelah udara labirin!

BOOOMMMM!

"ARGHHH!"

Lihat selengkapnya