Uap panas belerang dari dasar Kawah Sileri menyengat hidung Banyu, bercampur dengan bau tengik darah kering dan aroma kayu cendana tua yang lapuk. Di atas altar teratai, Batu Wilis melayang anggun, memancarkan pendar cahaya biru kobalt yang berdenyut lembut bagai ritme detak jantung. Namun, kehangatan pusaka itu kini terhalang oleh bayangan hitam yang berdiri tegap di hadapannya.
Panglima Ki Rangga.
Pria yang selama ini dipercaya oleh Kyai Kolodete sebagai benteng pertahanan tanah Dieng itu berdiri dengan senyuman dingin. Di tangan kanannya, bertengger sebuah keris berluk sembilan yang membara merah darah mengeluarkan aroma racun gaib yang membuat udara di sekitar labirin kaku membeku.
"Kowe bingung, bocah?" terkekeh Ki Rangga dengan suara berat yang melapis gema iblis kawah. "Kowe mikir yen kakekmu Subroto iku pencuri tunggal sing teka tanpa petunjuk?"
Banyu menggemeretakkan giginya, mencoba berdiri meski kedua kakinya gemetaran hebat akibat guncangan energi portal. "Jadi... kamu yang menghasut Kakek Subroto puluhan tahun lalu?!"
Ki Rangga melangkah pelan melingkari altar teratai, ujung keris membarnya menggores lantai batu andesit hingga memercikkan bunga api merah.
"Subroto iku cuma pemuda ringkih sing gampang dibodohi oleh rasa welas asih," desis Ki Rangga penuh penghinaan. "Satus taun aku nunggu momen iki. Aku sing mbukak celah altar iki kanggo Subroto, aku sing bisiki carane njupuk Batu Wilis... kabeh supaya Sumpah Wilis terputus lan benteng gaib Kolodete runtuh saka njero!"
"Jahanam!" raung Banyu, meremas belati berukir milik Ki Wandira di tangannya.
"Dengan terputusnya sumpah suci," lanjut Ki Rangga, matanya memerah penuh aura kejahatan yang sangat pekat, "kekuatan para penguasa kawah bisa tak kendalikan. Lan Batu Wilis iki... bakal dadi takhta kekuasaanku kanggo nguasai tanah Jawa ing rong jaman!"
"Langkahmu mandheg ing kene, Rangga!"
Sebuah suara menggelegar bergaung dari arah lorong masuk labirin, memotong ucapan sang panglima.
Ki Wandira melompat masuk menembus kepulan asap belerang, tombak bermata tiganya teracung lurus memancarkan pendar doa keemasan. Di belakangnya, lima prajurit terbaik pendopo bersiap dalam formasi tempur.
"Wandira..." Ki Rangga menoleh lambat, senyum mengejek menghiasi wajah tegasnya. "Kowe prajurit setia yang idiot. Kowe gelem dadi budak aturan kuno Kolodete sing membiarkan kita hidup menderita ing tanah tiratan iki?"
"Aku prajurit sing njaga ketenteraman tanah atas angin!" bentak Ki Wandira penuh ketegasan. "Pengkhianat kaya kowe ora pantes menyangkut nama Kyai Kolodete!"
Ki Wandira menghentakkan gagang tombaknya ke lantai batu. BUM!
Gelombang angin spiritual meluncur deras menerjang Ki Rangga. Namun, sang panglima pengkhianat itu bahkan tidak bergeser satu inci pun. Ia mengibaskan selendang batik pekatnya ke udara—sebuah tirai kegelapan berwujud uap belerang hitam meledak seketika, membiaskan serangan Ki Wandira dan melempar lima prajurit di belakangnya menghantam dinding labirin hingga muntah darah!
"Aja membandhingkan kekuatanku karo prajurit kelas teri!" raung Ki Rangga.