Sumpah Wilis Anak Bajang Dieng

kholid alamsyah
Chapter #12

RANTAI SUKMA SUBROTO

BLAARRR!

Dentuman dahsyat mengguncang fondasi batu andesit Labirin Candi Gaib. Runtuhan batu raksasa berjatuhan menembus uap belerang membara, hancur berkeping-keping begitu menghantam lantai bawah yang terbelah. Di atas, Kyai Kolodete melompat ke udara dengan sabetan keris berluk tujuh, menciptakan benteng angin keemasan yang menahan hantaman empat lengan batu milik Banaspati Kawah yang telah menyatu dengan jiwa gelap Ki Rangga.

"Melompat, Banyu! Sebelum celah ini tertutup lahar!" teriak Ki Wandira dari balik asap, tombaknya menancap di leher salah satu siluman pengawal yang mencoba mendekati bibir reruntuhan.

Banyu memejamkan mata rapat-rapat. Dengan sisa tenaga di kakinya yang melepuh, ia melempar tubuhnya ke dalam rekahan gelap di dasar altar teratai!

WUUUSSSHHH!

Tubuh Banyu meluncur bebas menembus lorong vertikal berinding obsidian hitam yang dilapisi ukiran aksara Kawi kuno. Hawa panas menyengat dari danau lahar di atas mendadak surut, berganti dengan hawa dingin spiritual yang teramat pekat—dingin yang tidak berasal dari es, melainkan dari sisa-sisa keputusasaan dan penderitaan jiwa manusia yang terisolasi selama berpuluh-puluh tahun.

BUK!

Banyu terhempas kaku di atas lantai batu bundar di dasar rongga raksasa.

Ia terbatuk-batuk hebat, memuntahkan darah kental yang mengolesi batu hitam di bawah dadanya. Saat pandangannya yang kabur perlahan menyesuaikan diri dengan remang ruangan, dada Banyu bergetar kencang.

Ruangan bawah tanah ini adalah Rongga Inti Wilis.

Di tengah ruangan, di atas tatanan pilar batu bundar yang dikelilingi ceruk air raksa yang memantulkan pendar biru redup, melayang sebuah wujud yang membuat napas Banyu terhenti seketika.

Itu adalah bayangan sosok manusia.

Sosok itu berwujud pria tua berpenampilan ringkih, mengenakan pakaian kain blangkon kusam era 1940-an. Tubuhnya transparan, dilingkupi tujuh rantai besi hitam tebal berukir mantra berdarah yang tertancap langsung menembus dada, kedua pergelangan tangan, dan kedua kakinya. Rantai-rantai itu menjalar naik, menyatu dengan fondasi batu altar di atas tempat Batu Wilis bertengger.

Wajah sosok itu dipenuhi guratan penderitaan yang luar biasa. Dan saat mata hampa sosok itu perlahan terbuka menatap Banyu, air mata cahaya membias turun di pipinya yang pucat.

"Kakek... Subroto...?" bisik Banyu, suaranya tercekat di tenggorokan.

"Banyu... cucuku..."

Gema suara Kakek Subroto memantul di dalam benak Banyu—bukan suara tegas atau pemarah yang Banyu ingat waktu kecil, melainkan suara seorang pria tua yang telah hancur oleh beban penyesalan seumur hidupnya.

"Kenapa... kenapa kamu harus turun ke tempat terkutuk ini, Le...?" rintih Kakek Subroto, rantai besi di dadanya bergemerincing nyaring saat sukmanya bergetar kaku.

Banyu merangkak mendekati pilar batu, air matanya menetes bebas membasahi lantai obsidian. "Kakek... Sekar... Sekar kena kutukan Sumpah Wilis! Rambutnya tumbuh gimbal gaib, dan jiwanya sedang ditarik ke kawah! Saya datang buat ambil Batu Wilis dan bebaskan Kakek!"

Mendengar nama Sekar, sukma Kakek Subroto menjerit kaku di dalam sangkar rantainya.

"Gusti Pangeran..." tangis Kakek Subroto pecah, menggetarkan pilar-pilar batu di ruangan itu. "Dosaku... dosaku yang teramat besar pada adikku Karsan dulu... ternyata benar-benar menimpa cicitku yang tak berdosa..."

"Ceritakan pada saya, Kakek!" seru Banyu dengan nada bergetar hebat. "Apa yang sebenarnya terjadi tahun 1944?!"

Lihat selengkapnya