Hantaman cakar batu raksasa Banaspati Kawah meremukkan pelataran obsidian di Rongga Inti Wilis. Serpihan batu hitam melesat bagai tembakan proyektil, menyayat pipi dan lengan Banyu saat ia melempar tubuhnya berguling ke sisi kiri.
BOOOMMMM!
Lantai tempat Banyu berdiri sejurus lalu hancur membentuk kawah selebar tiga meter. Semburan lahar merah yang membara meluap naik dari rekahannya, membakar bagian bawah jaket parasit Banyu hingga menjadi abu. Hawa panas yang mematikan membuat udara di dalam rongga bawah tanah itu bergetar hebat.
"Banyu!"
Suara parau Ki Wandira terdengar samar di antara gemuruh lahar. Sang prajurit terkulai di dalam cengkeraman cakar batu raksasa kedua monster tersebut, dadanya bersimbah darah dan napasnya tersengal-sengal.
"Jangan hiraukan aku! Naik ke atas... ambil Batu Wilis sebelum kawah ini menelan tempat ini!" jerit Ki Wandira seraya memukulkan sisa-sisa gagang tombaknya yang patah ke jemari batu raksasa itu.
Di atas mahkota batu Banaspati Kawah, sosok Ki Rangga terkekeh gila. Wajahnya yang kini bersisik lahar memancarkan pendar merah kejahatan yang amat pekat.
"Tidak ada yang akan keluar dari sini!" raung Ki Rangga dengan gema tiga suara iblis kawah. "Kalian semua akan menjadi tumbal pembuka gerbang takhta abadi ini!"
Lengan batu raksasa yang tadi meremukkan lantai kembali terangkat. Kali ini, empat jemari tajamnya melengkung panjang bagai bilah pedang obsidian, menyapu melintang ke arah Banyu yang masih terkapar di atas tumpukan batu reruntuhan.
Di saat yang paling kritis, Banyu tidak memejamkan mata.
Darah murni trah Wilis yang membasahi telapak tangan kirinya yang telah menyatu dengan energi suci Pengasihan Arjuna mendadak bergejolak hebat. Pendar keemasan dari Rantai Sukma Kakek Subroto yang baru saja dilepaskan masih menyelimuti seluruh tubuh Banyu, menciptakan pendar pelindung murni yang bergetar seirama dengan detak jantungnya.
Banyu menggemeretakkan giginya, menyapu darah kental yang mengalir di dagunya, lalu memancangkan belati Ki Wandira tepat ke sela-sela lantai obsidian.
"Aku tidak akan membiarkanmu mengorbankan siapa pun lagi!" teriak Banyu.
Ia memutar gagang belati itu. Pendar cahaya keemasan meledak dari dalam bilahnya, merambat cepat mengikuti alur retakan lantai obsidian dan membentuk kubah cahaya suci yang menahan hantaman cakar batu raksasa!
CRANGGG!
Lengan raksasa Banaspati Kawah memercikkan jutaan bunga api saat membentur kubah cahaya keemasan tersebut. Getaran dahsyat melempar tubuh monster itu sedikit oleng ke belakang.
Pada detik kelengahan itu, sebuah bayangan melompat turun dari rekahan atap yang runtuh.
Kyai Kolodete!
Sang pendiri tanah Dieng meluncur deras bagai kilat keemasan. Keris berluk tujuh di tangannya terhunus penuh, memancarkan pendar putih murni yang membakar asap belerang. Dengan satu gerakan tebasan yang amat cepat dan presisi, Kyai Kolodete memotong pergelangan lengan batu raksasa yang mencengkeram tubuh Ki Wandira!
SLAASSHHH!
Semburan darah hitam bercampur lahar meletup ke udara! Lengan raksasa itu terputus, membuat Ki Wandira terlepas dan meluncur jatuh ke bawah.