Gemuruh runtuhnya dinding Labirin Candi Gaib memekakkan telinga. Pilar-pilar batu andesit raksasa rubuh meluncur ke dalam jurang lahar Kawah Sileri yang menggelegak di bawah. Uap belerang membara bercampur racun perak air raksa membumbung tinggi, mengubah udara di sekitar altar teratai menjadi neraka cair yang mendidih.
Di tengah guncangan dahsyat itu, cakar batu raksasa Banaspati Kawah mencengkeram fondasi altar, menarik seluruh tatanan batu tempat Batu Wilis berada menuju bibir jurang lahar. Di atas mahkota batu raksasa itu, wujud Ki Rangga yang telah bersatu dengan lahar meraung gila, dua mata merahnya memancarkan pancaran gelombang kejahatan murni.
"Kamu tidak akan pernah kembali ke masa depanmu, Banyu!" raung Ki Rangga, suaranya bergetar melapisi gema ribuan iblis kawah. "Batu ini, jiwamu, dan takdir adikmu akan tenggelam bersamaku di dasar kawah ini!"
Banyu tersungkur di atas tangga altar yang condong enam puluh derajat ke arah jurang. Rasa sakit dari luka tusuk di bahunya, luka bakar di kakinya, dan serpihan batu yang menyayat kulitnya serasa melenyap, digantikan oleh dorongan adrenalin liar.
Di atas kepala Banyu—meretas langit-langit labirin yang hancur—Batu Wilis yang meresap darah murni Banyu mendadak melepaskan pendar cahaya keemasan yang amat dahsyat!
DONGGGG...
Gema dentang lonceng perunggu Kyai Semar membahana membelah gemuruh kawah!
Dari pusat kristal Batu Wilis, sebuah pilar cahaya keemasan membumbung lurus ke atas, membelah asap belerang dan menciptakan pusaran portal gerbang waktu yang berputar liar di udara terbuka. Melalui pusaran cahaya yang bergetar itu, Banyu bisa melihat kilasan samar lanskap kompleks Candi Arjuna tahun 2026 beku, dipenuhi kristal es bun upas, dan diselimuti kegelapan subuh!
Gerbang Atas Angin telah terbuka!
Namun, saat Banyu merangkak naik menjangkaukan jemarinya yang berdarah untuk merengkuh kristal Batu Wilis, cakar batu raksasa milik Banaspati Kawah menyambar lurus dari samping!
SWOOSH!
Empat bilah batu obsidian tajam siap memotong tubuh Banyu menjadi tiga bagian!
"BANYU!"
Sebuah teriakan melengking bergaung dari arah bawah reruntuhan lantai.
Dari dalam gulungan lahar mendidih di dasar rongga, sebuah tombak bermata tiga yang dipenuhi pendar doa keemasan meluncur deras bagai kilat! Tombak milik Ki Wandira itu menancap tepat di persendian siku lengan batu Banaspati Kawah, menahan gerak cakar raksasa itu beberapa inci dari dada Banyu!
"Kyai... sekarang!" jerit Ki Wandira dari dasar rongga, tubuhnya yang bersimbah darah berdiri kaku di atas bongkahan batu kawah seraya menahan tali spiritual tombaknya.
Kyai Kolodete melompat berdiri di atas pilar batu yang tersisa. Keris berluk tujuh di tangannya terangkat tinggi, memancarkan pendar pendar cahaya suci yang membakar seluruh wujud gaib Ki Rangga.
"Mantra Kunci Kawah... Tirta Ning Hening!" seru Kyai Kolodete menggelegar!
Semburan gelombang es gaib yang luar biasa murni meledak dari ujung keris Kyai Kolodete, merayap cepat membekukan lahar merah Kawah Sileri menjadi batu hitam kaku! Cengkeraman Banaspati Kawah pada fondasi altar mendadak membeku, menyegel monster batu dan Ki Rangga di dalam sangkar es abadi di dasar labirin!
"TIDAK! KOLODETE!" raung Ki Rangga saat lelehan es suci merayap naik membekukan mulut dan tubuh batunya.
Kyai Kolodete menengadahkan kepalanya menatap Banyu yang berada di puncak altar, tersenyum dengan raut wajah penuh kedamaian yang teramat dalam.