Hawa dingin bun upas menusuk hingga ke dalam sumsum tulang Banyu. Di atas permukaan batu andesit Candi Arjuna yang dilapisi kristal es tipis, darah merah pekat yang menetes dari bahu dan kakinya membeku menjadi serpihan kristal merah. Di dadanya, Batu Wilis berdenyut pelan, memancarkan pendar keemasan redup yang menjadi satu-satunya sumber kehangatan penopang nyawanya.
Pak Broto melangkah maju dua pijakan. Tongkat perunggu berukir naga di tangan kanannya berdenting kaku saat dihantamkan ke lantai es. Di belakangnya, dua pria tegap berseragam hitam tanpa atribut memegang pistol berperedam suara yang mengarah lurus ke dada dan kepala Banyu.
"Kakekmu Subroto dulu berpikir bahwa dia adalah orang paling cerdas di desa ini," ujar Pak Broto dengan nada suara yang teratur, halus, namun dipenuhi kekejaman yang amat dingin. "Dia mengira telah menyembunyikan rahasia Sumpah Wilis di dalam tanah dan membawa dosanya ke dalam kubur."
Banyu menggemeretakkan giginya, menyapu lelehan darah bercampur es dari bibirnya. Tangannya meremas Batu Wilis kian erat di balik jaket parasitnya yang robek. "Kamu... kamu yang membiayai restorasi Candi Arjuna selama tiga tahun ini... cuma buat mencari pintu portal ini?!"
Pak Broto terkekeh pelan—sebuah tawa berat yang menyisakan gema ganjil milik Ki Rangga di masa lalu.
"Restorasi candi, bantuan dana untuk desa, hibah peralatan medis ke Puskesmas Kejajar... semua itu hanyalah umpan, Banyu," jawab Pak Broto seraya memiringkan kepalanya. "Keluarga kami telah menjaga gema gaib Ki Rangga selama tiga abad. Kami tahu bahwa ketika Sumpah Wilis mencapai batas tiga ratus tahun, darah murni dari trah Subroto akan secara alami ditarik kembali oleh alam untuk membuka pintu Gerbang Atas Angin."
Ruam kehitaman di leher belakang Pak Broto membara merah redup, bergetar seirama dengan denyut Batu Wilis di dada Banyu.
"Aku hanya perlu menunggu seseorang dari keluargamu yang cukup putus asa untuk mengorbankan jiwanya," lanjut Pak Broto seraya melangkah makin dekat. "Dan adikmu... Sekar... adalah umpan terbaik yang pernah diciptakan oleh takdir."
Darah Banyu mendidih mendengar nama adiknya diucapkan oleh bibir pria jahanam di hadapannya. "Jahanam... Kamu yang membuat kondisi Sekar memburuk dari awal?!"
"Bukan aku, Banyu. Itu adalah hukum alam yang dipicu oleh benih racun Ki Rangga," Pak Broto menghentikan langkahnya tiga meter di hadapan Banyu. Ia merogoh saku mantel hitamnya dan menarik keluar sebuah pisau ritual kuno berukir lambang kawah. "Tapi malam ini, penderitaan keluargamu akan berakhir. Setelah aku merebut Batu Wilis ini dan menyembelihmu di atas batu candi ini, aku akan pergi ke puskesmas untuk mengakhiri nyawa adikmu. Garis keturunan Subroto akan punah sepenuhnya!"
"Ambil batunya!" perintah Pak Broto dingin kepada dua pengawalnya.
Dua pria tegap di belakangnya bergerak cepat. Pria di sebelah kanan melangkah maju seraya mengarahkan moncong pistolnya ke pelipis Banyu, sementara pria di sebelah kiri merangsek untuk mencengkeram dada Banyu dan merebut Batu Wilis secara paksa!
Di tengah kepungan maut itu, Banyu tidak menyerah.
Meskipun tubuhnya hancur, kakinya melepuh, dan bahunya tertembak, refleks Banyu sebagai pemandu wisata yang menguasai setiap jengkal relief, celah, dan struktur rahasia Candi Arjuna bekerja dalam hitungan milidetik.
Saat tangan pria di sebelah kiri hendak mencengkeram kerah jaketnya, Banyu menghantamkan siku kanannya lurus ke arah tempurung lutut pria tersebut!
KRAAAK!
"AGHHH!" Pria itu menjerit kaku saat tempurung lututnya terlipat ke belakang, tersungkur keras menghantam lantai es yang licin!
Pria kedua yang memegang pistol terperanjat, menekan pemicu senjatanya!
PLUK!
Suara tembakan berperedam bergema tipis. Namun, Banyu sudah membanting tubuhnya berguling ke arah celah sempit di antara pilar Candi Semar. Peluru timah panas menembus pilar batu hitam, memercikkan bunga api dan serpihan es!
Banyu memanfaatkan momen itu untuk menarik belati Ki Wandira yang terselip di pinggangnya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menggoreskan mata belati itu tepat pada simpul pendar keemasan Batu Wilis di dadanya!
SLRRRRRRR!
Cahaya biru kobalt dan emas meledak memancar dari dalam kristal Batu Wilis!