Sorot lampu tembak dari tiga mobil SUV hitam memotong pekatnya kabut fajar yang membungkus pelataran Puskesmas Kejajar. Raungan mesin empat roda berkapasitas besar itu menggetarkan dinding-dinding kaca yang retak. Di dalam koridor yang berantakan, Mbah Danu mengintip dari balik celah tirai yang terkoyak, wajah tuanya menegang kaku saat melihat sepuluh pria berseragam hitam keluar seraya mengacungkan senapan serbu taktis.
"Mereka membendung seluruh gerbang depan dan samping," bisik Mbah Danu, suaranya tercekat di tenggorokan. "Anak buah Broto tidak akan membiarkan kita keluar hidup-hidup."
Banyu menggemeretakkan giginya menahan nyeri di dada dan paha kanannya yang terus mengucurkan darah. Ia mengikatkan kain mori berisi Batu Wilis dan potongan rambut gimbal Sekar erat-erat ke dadanya dengan sisa-sisa kain perban. Setelah itu, ia berlutut di hadapan Sekar.
"Sekar, pegang leher Mas kuat-kuat," kata Banyu, suaranya tenang meskipun napasnya tersengal parau. "Apapun yang terjadi di luar, jangan pernah lepas pelukanmu, ya?"
Sekar mengangguk polos, melingkarkan kedua tangan kecilnya di leher Banyu dengan erat. Banyu mendorong tubuhnya berdiri, menahan bobot adiknya di punggung meski kakinya melepuh dan pergelangan tangannya bergetar hebat.
"Dokter Aris!" seru Mbah Danu menoleh ke arah dokter muda yang meringkuk di balik meja. "Nyalakan sirine semua ambulans di garasi belakang! Buat kegaduhan seramai mungkin!"
Dokter Aris mengangguk cepat seraya mengusap keringat dingin di dahi. Tanpa membuang waktu, dokter muda itu melompat menerobos pintu belakang menuju panel kendali darurat.
NEET-NOOT-NEET-NOOT!
Dua sirene ambulans di garasi belakang mendadak melengking nyaring memecah keheningan subuh! Lampu rotasi merah kebiruan meletup-letup liar, membiaskan cahaya di atas permukaan kabut tebal. Tembakan rambang dari para pengawal sekte Pak Broto langsung mengarah ke arah garasi belakang, menyangka rombongan Banyu melarikan diri lewat sana.
"Sekarang, Mbah!" teriak Banyu.
Mbah Danu menghempaskan pintu samping menuju tempat parkir pikap tua miliknya. Banyu berlari dengan pincang, mengabaikan rasa sakit menyengat dari luka tembak di pahanya, melompat masuk ke dalam kabin samping pikap tua itu bersama Sekar. Mbah Danu menyambar roda kemudi, memutar kunci kontak, dan menancap pedal gas hingga dasar lantai!
BRRRRRRRMMMM!