Sumpah Wilis Anak Bajang Dieng

kholid alamsyah
Chapter #18

LARUNGAN AGUNG TELAGA WARNA

Asap tebal mengepul dari radiator pikap tua yang ringsek menghantam fondasi batu dermaga. Di dalam kabin, Mbah Danu terkulai pingsan dengan dahi berdarah, sementara di luar, empat pria berseragam hitam melangkah maju di atas tanah membeku. Senapan taktis mereka teracung lurus ke arah pintu mobil yang penyok.

"Keluar! Serahkan kain itu kalau tidak mau kepalamu bocor!" raung salah satu pengawal dengan suara berat menembus raungan angin subuh.

Di bawah kolong kursi penumpang, Sekar menggigil, jemari kecilnya mencengkeram lengan Banyu yang basah oleh darah. "Mas... Sekar takut..."

Banyu menatap mata adiknya. Rasa sakit di paha kanannya yang tertembak dan panggulnya yang terhantam besi mobil serasa menguap, digantikan oleh kobaran nekad yang membakar seluruh jiwanya.

"Pegang Mas rapat-rapat, Dek," bisik Banyu, suaranya pelan namun amat mantap. "Jangan pernah lepas, apapun yang terjadi."

Banyu menyambar kain mori berisi Batu Wilis dan untaian rambut gimbal Sekar, mendekapnya di dada. Dengan satu dorongan liar, Banyu menendang pintu pikap yang ringsek ke arah luar!

BAM!

Pintu besi itu menghantam paha pengawal terdepan hingga terjungkal! Banyu memanfaatkan pecahan detik itu untuk merangsek keluar, menggendong Sekar di punggungnya, lalu berlari pincang menerobos kabut es menuju dermaga kayu Telaga Warna!

"Tembak! Tembak kakinya!" raung komandan pengawal.

PLUK! PLUK! PLUK!

Suara tembakan berperedam membahana! Peluru-peluru timah menembus tanah membeku dan memercikkan serpihan es di sekeliling kaki Banyu. Satu peluru menyayat betis kirinya, membuat Banyu tersungkur keras ke atas papan kayu dermaga.

BUK!

"AGHHH!" Banyu menjerit, dadanya menghantam papan kayu yang berembun es.

Namun, tepat pada detik ia tersungkur, garis sinar matahari pertama menembus puncak Gunung Prau, membias garis-garis cahaya keemasan yang tepat mengenai kain mori di dada Banyu!

SLRRRRRRR!

Lihat selengkapnya