Sumpah Wilis Anak Bajang Dieng

kholid alamsyah
Chapter #19

DI ANTARA DUA DUNIA

Kegelapan yang menyelimuti kesadaran Banyu tidak terasa dingin maupun menakutkan. Kegelapan itu hangat, hening, dan hampa sebuah ruang melayang di mana rasa sakit dari luka tembak di paha, lecet mendalam di bahu, serta nyeri lebam di sekujur tubuhnya melenyap tanpa bekas. Tak ada lagi deru napas tersengal, tak ada lagi bau belerang kawah yang mencekik paru-paru.

Di tengah kehampaan tak bertepi itu, sebuah pendar cahaya keemasan lembut membias pelan, membentuk hamparan padang rumput hijau yang luas di bawah langit fajar yang cerah. Di kejauhan, berdiri dua sosok yang amat Banyu kenal: Kakek Subroto dengan pakaian blangkon sederhananya yang kini bersih bercahaya, dan Kyai Kolodete yang memegang tongkat kayu cendananya dengan penuh keagungan.

Kakek Subroto tersenyum tulus, melangkah mendekat dan mengelus bahu Banyu dengan telapak tangan gaib yang hangat.

"Tugasmu wis tuntas, Banyu..." bisik Kakek Subroto dengan suara yang begitu riang dan damai. "Sumpah Wilis wis diruwat, penderitaan trah kita wis terhapus sepenuhnya. Kowe wis dadi ksatria sejati kanggo adhimu lan tanah Dieng."

"Kakek..." suara Banyu bergetar di dalam dada spiritualnya. "Apakah ini akhir perjalanan saya?"

Kyai Kolodete melangkah maju, menatap mata Banyu dengan sorot kebijaksanaan abadi. "Gerbang swarga lan kedamaian wis terbuka kanggo jiwa-jiwa sing berkorban, Banyu. Tapi ing dunya nyata... ana swara sing terus memanggil namamu."

Lihat selengkapnya