Bau khas cairan antiseptik dan dengung lembut alat pemantau jantung menyambut kesadaran Banyu yang kian pulih. Dua hari telah berlalu sejak peristiwa mencekam di tepi Telaga Warna. Cahaya matahari pagi RSUD Wonosobo menerobos masuk melalui celah tirai jendela, membiaskan sinar hangat di atas ranjang tempat Banyu terbaring.
Dokter Aris melangkah masuk seraya memeriksa papan stetoskop dan grafik medis di ujung ranjang. Dokter muda itu menggelengkan kepalanya penuh ketakjuban, menatap Banyu yang kini sudah bisa duduk bersandar.
"Secara logika medis, kondisi tubuhmu saat membawa adikmu berlari itu seharusnya sudah berada di tahap syok hipovolemik berat," ujar Dokter Aris dengan nada takjub yang tak mampu ia sembunyikan. "Tapi sel-sel tubuhmu pulih dengan kecepatan yang luar biasa. Luka tembak di pahamu sudah menjahit rapat, dan luka bakar di kakimu mengering tanpa infeksi."
Banyu mengulas senyum tipis. Ia tahu bahwa pemulihan ini bukan sekadar bantuan obat-obatan medis, melainkan sisa-sisa pendar penyembuhan dari Batu Wilis yang meresap ke dalam aliran darahnya sebelum pusaka itu dilarung ke dasar telaga.
Pintu kamar VIP itu perlahan terbuka. Seorang perwira polisi berseragam dinas dari Polres Wonosobo melangkah masuk bersama Mbah Danu. Perwira bernama AKP Bambang itu mengangguk hormat ke arah Banyu sebelum menarik kursi di samping ranjang.
"Mas Banyu, terima kasih sudah mau menerima kami," tutur AKP Bambang dengan nada lugas dan penuh empati. "Pihak kepolisian sudah mengamankan seluruh barang bukti dan menahan delapan anggota kelompok Pak Broto yang tersisa. Kami juga menemukan dokumen penggalian liar, perdagangan benda cagar budaya ilegal, serta senpi ilegal di kediaman pribadinya."