Sumpah Wilis Anak Bajang Dieng

kholid alamsyah
Chapter #21

JEJAK YANG TERTINGGAL

Seminggu kemudian, pintu RSUD Wonosobo akhirnya resmi tertutup di belakang Banyu. Udara dingin pegunungan Kejajar menyambut paru-parunya saat pikap baru milik Mbah Danu melaju membelah kelokan terjal jalur utama Wonosobo-Dieng.

Di samping Banyu, Sekar menempelkan hidungnya ke kaca jendela mobil yang berembun, menatap deretan pohon pinus dan tebing-tebing hijau yang tersiram cahaya matahari pagi. Tidak ada lagi rasa lelah atau aura pucat di wajah adiknya. Kulit Sekar merona segar, dan rambut lurusnya yang baru tumbuh menutupi telinga bergoyang pelan setiap kali mobil melewati tanjakan berlubang.

"Mas Banyu, lihat deh! Kebun kentang Pak RT sudah hijau lagi!" seru Sekar gembira seraya menunjuk ke arah lereng bukit.

Banyu mengelus bahu adiknya dengan tangan kanannya. Bahu kirinya masih disangga kain sling medis pascaoperasi pengangkatan sisa proyektil, namun rasa nyeri tajam yang dulu menghantuinya kini berganti menjadi pegal biasa yang sepenuhnya bisa ia toleransi.

"Iya, Dek. Bun upas-nya sudah jadi embun biasa. Kebun-kebun warga sudah selamat," jawab Banyu dengan senyuman hangat.

Pikap Mbah Danu membanting kemudi memasuki pelataran rumah kayu peninggalan Kakek Subroto di lereng Desa Kejajar. Begitu roda mobil berhenti di atas tanah berbatu, Banyu tertegun.

Di pelataran rumah mereka yang biasanya sepi dan dipandang penuh desas-desus mistis oleh warga desa, kini berkumpul puluhan tetangga. Ibu-ibu membawa bakul berisi nasi tumpeng, tempe kemul hangat, dan sayur bobor, sementara para sesepuh desa berdiri berjajar memegang cangkir teh hangat.

Pak RT melangkah paling depan saat Banyu turun menyangga langkahnya dengan tongkat ketiak. Pria paruh baya itu mencengkeram tangan Banyu dengan mata berkaca-kaca.

Lihat selengkapnya