Tiga minggu berlalu sejak hari kepulangan Banyu dari rumah sakit. Pagi itu, sinar matahari memancar cerah dari balik Gunung Prau, menyapu kabut tipis yang membumbung anggun di atas kompleks Candi Arjuna. Hawa dingin khas Dieng masih terasa menggigit, tetapi kehangatan di pelataran rumah kayu Banyu tidak pernah sesegar hari ini.
Di depan cermin tua kamar depan, Sekar berdiri seraya merapikan kerah seragam merah-putih SD yang sudah hampir dua tahun tersimpan kaku di dalam lemari. Rambut hitam halus yang tumbuh rapi di kepalanya diikat pita merah kecil oleh Banyu.
"Mas... seragam Sekar masih muat, kan?" tanya Sekar seraya memutar tubuhnya di depan cermin, bola mata cokelatnya berbinar-binar penuh kegembiraan.
Banyu, yang berdiri di ambang pintu seraya merapikan kemeja pandu wisatanya, tersenyum lebar. Ia berlutut di hadapan adiknya, membetulkan pita rambut Sekar dengan jemari tangannya yang kini sudah bebas dari balutan perban.
"Muat banget, Dek. Sekar kelihatan cantik banget hari ini," tutur Banyu lembut. "Ingat ya, nanti di sekolah mainnya santai aja. Kalau ada yang nanya tentang rambut Sekar dulu, Sekar jawab apa?"
Sekar membusungkan dadanya yang kecil seraya tersenyum bangga. "Jawab kalau Sekar udah diruwat sama Mas Banyu paling keren se-Dieng!"
Banyu tertawa lepas, mengacak pelan rambut adiknya sebelum merangkul bahu kecil itu keluar rumah. Di pelataran, Mbah Danu sudah menunggu dengan mobil pikap barunya, siap mengantar Sekar di hari pertama sekolahnya setelah bertahun-tahun terisolasi oleh teror Sumpah Wilis.
Setelah melepas Sekar dengan lambaian tangan hangat di depan gerbang SD Negeri Kejajar, Banyu melangkah kaki menuju pelataran Candi Arjuna. Langkah kakinya tidak lagi pincang. Bahunya yang dulu tertembak kini sudah kuat menyangga tas punggung pemandu wisatanya.