Enam bulan berlalu sejak bayang-bayang kelam Sumpah Wilis sirna dari bumi Dieng. Udara pagi di tepian Telaga Warna terasa sejuk dan menenangkan. Tidak ada lagi uap sulfur menyengat yang membawa aura teror, melainkan wangi tanah basah dan kesegaran air danau yang memancarkan pendar gradasi hijau toska yang amat indah di bawah sinar mentari pagi.
Di atas meja kayu teras rumah dinas Banyu yang baru di kawasan Balai Konservasi Budaya, tertumpuk lembaran-lembaran naskah tebal. Banyu sedang merampungkan bab terakhir dari buku panduan kebudayaan yang ia tulis sendiri: “Warisan Atas Angin: Menjaga Keseimbangan Budaya dan Alam Dieng.”
Buku itu bukan lagi catatan penderitaan seperti harian Kakek Subroto dulu, melainkan sebuah mahakarya berisi sejarah asli trah Kyai Kolodete, kearifan lokal ritual ruwatan, serta pentingnya menjaga kelestarian alam kawah tanpa rasa takut berlebihan. Banyu ingin generasi mendatang memahami Dieng bukan lewat takhayul murahan, melainkan lewat penghormatan dan kasih sayang pada bumi tempat mereka berpijak.
"Mas Banyu! Tebak Sekar bawa apa!"
Suara langkah kaki mungil yang berlari renyah memotong keheningan teras. Sekar melompat gembira seraya memamerkan sebuah buku gambar tebal dengan sampul bergambar Telaga Warna dan Candi Arjuna yang diwarnai memakai krayon terang.
Banyu tertawa pelan, mengusap pucuk kepala adiknya yang kini berambut halus sebahu. "Wah, lukisan Sekar dapat nilai berapa hari ini di sekolah?"
"Dapat angka seratus sama bintang empat dari Bu Guru!" seru Sekar bangga seraya duduk di pangkuan Banyu. "Bu Guru bilang, lukisan Sekar tentang Candi Arjuna kelihatan paling hidup!"