Sumpah Wilis Anak Bajang Dieng

kholid alamsyah
Chapter #24

PESTA RAKYAT DAN RUWATAN AGUNG

Lampion-lampion kain berwarna kuning keemasan bertaburan menggelantung di sepanjang dermaga kayu Telaga Warna hingga ke pelataran utama kompleks Candi Arjuna. Uap hangat danau yang kini mengepul jernih beradu dengan keharuman racikan bumbu mie ongklok, satai sapi, dan kuah panas bakso yang dijajakan gratis untuk seluruh warga desa serta wisatawan.

Malam itu, Dataran Tinggi Dieng tidak lagi mencekam. Langit di atas pegunungan bertabur jutaan bintang jernih, membiaskan pendar keemasan di atas permukaan air telaga yang tenang bagai kaca.

Ribuan warga dari Desa Kejajar, Dieng Kulon, hingga wisatawan dari berbagai daerah tumpah ruah memadati area pelataran. Di panggung kayu berukir motif bambu dan bunga kantil, sebuah baliho besar terpajang anggun dengan tulisan: "Pesta Rakyat & Ruwatan Agung Dieng: Merayakan Kedamaian dan Pelestarian Warisan Atas Angin."

Banyu berdiri di balik panggung seraya merapikan jas batik lurik khas Wonosobo yang ia kenakan. Luka-luka di tubuhnya memang telah meninggalkan bekas parut tipis di paha dan bahunya, namun bekas itu kini bukan lagi lambang penderitaan, melainkan medali ketabahan seorang kakak yang berhasil menyelamatkan adiknya dari cengkeraman takdir.

"Mas Banyu! Lihat deh, bando pita Sekar nyala di kegelapan!"

Sekar melompat mendekat seraya memamerkan bando plastik berlampu LED merah yang melingkar di kepalanya. Kebaya encim putih dengan bawahan kain batik pesisiran membuat bocah yang malam ini genap berusia 11 tahun itu tampak begitu anggun dan menggemaskan.

Banyu tersenyum hangat, berlutut untuk membetulkan lipatan kain kebaya adiknya. "Cantik banget adik Mas. Gimana, seneng nggak ulang tahunnya dirayakan ramai-ramai sama seluruh warga desa?"

"Seneng bangat, Mas!" jawab Sekar dengan mata berbinar-binar penuh tawa. "Tadi Pak RT ngasih Sekar kue bolu salak raksasa, terus teman-teman sekolah Sekar semuanya datang bawa kado!"

Mbah Danu melangkah mendekati mereka, disusul oleh Pak RT dan perwakilan dari Dinas Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Sesepuh desa itu mengenakan beskap hitam lengkap dengan blangkon gaya Surakarta, memegang mikrofon nirkabel di tangannya.

"Banyu, waktunya sambutan pembuka dan pemotongan tumpeng pertama," tutur Mbah Danu seraya menepuk pelan bahu Banyu. "Seluruh warga sudah tidak sabar mendengar pesat dari Konsultan Budaya kita."

Banyu mengangguk tegas. Ia menggenggam erat jemari mungil Sekar, lalu melangkah naik ke atas panggung utama diiringi alunan lembut petikan kecapi dan seruling bambu yang mendayu-dayu merdu.

Lihat selengkapnya