Sumpah Wilis Anak Bajang Dieng

kholid alamsyah
Chapter #25

WARISAN ATAS ANGIN (EPILOG)

Satu tahun kemudian.

Sinar fajar keemasan menerobos celah gumpalan awan tipis di atas puncak Gunung Prau, menyapu hamparan hijau ladang kentang dan megahnya tatanan batu andesit Candi Arjuna. Hawa dingin khas Dataran Tinggi Dieng masih menyapa kulit dengan kelembutan yang akrab, tetapi tidak ada lagi jejak hawa kematian bun upas atau teror gaib yang dulu menghantuil setiap sudut desa.

Di pelataran depan Gedung Pusat Edukasi & Kebudayaan Dieng, riuh suara tawa anak-anak sekolah berseragam pramuka membahana hangat. Di dinding depan gedung berarsitektur kayu dan batu kali itu, terukir prasasti kuningan yang berkilauan dihantam pendar mentari pagi:

"Tanah Atas Angin dudu papan kanggo dikuasai, nanging warisan suci kanggo dijaga kanthi katresnan lan keselarasan alam."

Banyu melangkah keluar dari dalam gedung seraya membawa tumpukan buku panduan budaya yang baru saja dicetak. Pemuda berusia 23 tahun itu mengenakan kemeja lurik khas Wonosobo dengan selendang penanda jabatan sebagai Konsultan Utama Kebudayaan Dieng. Langkah kakinya tegap, napasnya panjang dan teratur. Luka tembak di paha dan parut bekas cengkeraman lahar di bahunya kini hanya menjadi pengingat bisu atas perjuangan hidup dan matinya menembus tiga ratus tahun sejarah.

"Mas Banyu! Rombongan siswa dari Semarang sudah datang di pelataran candi!" seru seorang staf muda balai budaya dari kejauhan.

"Iya, Mas! Saya langsung ke sana!" jawab Banyu ramah seraya melambaikan tangannya.

Lihat selengkapnya