"Juara kelas untuk semester kali ini, murid yang unggul bukan hanya di kelasnya namun di seluruh angkatan kelas sebelas, murid peringkat pertama selama dua tahun berturut-turut..."
Suara Pak Ahmad bergema di mikrofon dengan penuh semangat, mengumumkan murid dengan peringkat pertama seakan itu adalah ajang bakat yang wajib didengar dan disimak oleh para penghuni seantero sekolah yang datang menghadiri aula pagi itu.
"Murid dari kelas XI IPA 1, Sunday Pelita!" seru lelaki berdasi dengan bingkai kacamata bulat itu. Sesaat kemudian, suara tepukan tangan yang riuh pun terdengar memenuhi ruangan. Seorang gadis yang sejak tadi duduk di deretan agak depan perlahan bangkit dari kursinya sembari melangkah perlahan menuju ke arah podium tempat Pak Ahmad menunggunya untuk memberikan bukti penyerahan nilai hasil ujian dan sebagainya.
"Sudah kuduga, Sunday memang tidak pernah mengecewakan," bisik seorang guru berambut pendek sebahu yang sontak membuat Bu Anika langsung tersenyum saat mendengarnya.
Anika Wulandari, guru bahasa Inggris di sekolah ini sekaligus wali kelas XI IPA 1. Ketika muridnya adalah pemegang rekor juara kelas seangkatan untuk dua tahun berturut-turut tentu saja sebagai wali kelas ia juga akan kecipratan bahagianya. Prestasi murid di kelas yang ia bina adalah tanda sukses bahwa wali kelas berhasil membimbing pendidikan anak muridnya, sekaligus sebuah pengakuan bagi sang pengajar bahwa ia telah menjadi guru yang profesional di bidangnya.
Anika yang perfeksionis merasa beruntung ada murid seperti Sunday Pelita di kelasnya. Anak itu sejak tahun pertama selalu rajin, tekun, pintar, tidak pernah mengecewakannya persis seperti apa yang Bu Titi bilang tadi. Jujur, Anika jarang menjumpai murid yang seperti Sunday di zaman yang sudah penuh perubahan akan tingkah laku dan pola pikir manusia masa kini. Sunday mengingatkan Anika pada dirinya di masa lalu.
Murid teladan pintar nan berbakat yang penurut. Murid yang tidak neko-neko.
Murid yang memang terlahir untuk mengungguli semua orang, seakan itu adalah salah satu berkat dari semesta yang harus dipergunakan tanpa perlu banyak berusaha.
"Kalau kamu konsisten terus seperti ini, bukan tidak mungkin tahun depan kamu dapat undangan untuk masuk ke universitas bergengsi, bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri," ujar Bu Anika saat menyerahkan rapor semester milik Sunday secara langsung di ruangannya setelah acara penutupan akhir semester di aula sekolah usai dilaksanakan.
Sunday hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan wali kelasnya itu seperti biasa, khas sang murid andalan. Sunday memang tidak banyak bicara dan gaya di kehidupan sehari-hari selain urusan pelajaran, karena itu Bu Anika menyebut senyum simpul gadis itu barusan adalah senyuman khas sang murid andalan.
Ya, Sunday Pelita memang adalah murid andalannya.
Jika ada lomba, olimpiade, atau tugas receh seperti organisasi sekolah yang membutuhkan partisipasi siswa Bu Anika pasti akan langsung merekomendasikan Sunday, murid andalannya. Karena Sunday, muridnya ini bisa dipercaya untuk melakukan apa saja.
Memikirkan ini membuat Bu Anika tersadar bahwa ia memang sangat mempercayai Sunday. Jarang seorang guru dapat mencurahkan segala kepercayaan yang ia miliki pada seorang murid, bukan? Tapi Sunday berbeda. Anak satu ini tidak banyak mengeluh, tidak banyak sesumbar juga tapi hasil dan prestasinya nyata. Karena itu, Anika menaruh harapan yang besar padanya.
"Ibumu tidak datang untuk mengambil rapor hari ini?" tanya Bu Anika dengan nada sedikit berbasa-basi sebelum Sunday keluar dari ruangannya.