"Bagaimana ini bisa terjadi, Sunday? Bagaimana bisa kamu kehilangan akal sehat seperti ini? Apakah kamu tidak berpikir? Akhir bulan ini kamu harus mengikuti ujian sekolah, beberapa bulan ke depan kamu sudah lulus, tapi... kamu malah hamil? Kamu sadar atau tidak, sih, Sunday?!"
Suara Bu Anika terdengar bergetar dengan sangat hebat. Lembaran kertas administrasi yang sedari tadi dipegangnya kini remuk dalam cengkeraman tangannya yang mendadak dingin seakan bersinergi dengan suara bergetar miliknya, menandakan adanya sebuah emosi tak terduga di sana. Di dalam ruangan personalnya yang kedap suara, terpisah jauh dari hiruk-pikuk ruang guru utama, tiba-tiba saja kenyataan pahit itu menghantam atmosfer ruangan seperti sebuah godam yang tak kasat mata.
Sunday hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air matanya luruh menetes di atas lipatan rok abu-abunya, sementara jemarinya meremas ujung seragam dengan tubuh yang gemetar menahan isak dan tangisan.
Di samping gadis itu, ada Bu Titi yang nampak mengembuskan napas berat sembari melipat kedua tangan di dada. Raut wajah guru matematika yang biasanya kaku itu kini dipenuhi gurat kecemasan yang mendalam. Ia menggeser kursi duduknya agar lebih dekat ke arah meja Bu Anika, mencoba menenangkan rekan kerjanya yang tampak hampir kehilangan napas karena terkejut setengah mati.
"Saya juga terpukul, Bu Anika," sela Bu Titi dengan suara setengah berbisik, memastikan rahasia ini tetap terkunci di antara mereka bertiga.
"Saya juga pikir anak ini hanya sakit perut biasa, tapi siapa yang sangka," lanjut wanita itu sambil melirik sejenak ke arah Sunday yang masih terdiam menunduk di tempat duduknya
Bu Titi mengambil napas sejenak, mengenang kembali momen mengerikan yang tidak pernah ia duga beberapa jam yang lalu. Saat ia menerima telepon dari rekan kerjanya Bu Anika yang meminta tolong untuk mengantarkan salah satu anak muridnya yang mengeluh sakit perut, Bu Titi tidak punya pikiran apa-apa selain ingin membantu.
"Awalnya saya pikir dia punya bawaan asam lambung, sakit perut akut atau salah makan saja. Tapi dokter di sana langsung meminta Sunday melakukan tes urine karena melihat gejala fisiknya, itu bukan sakit perut biasa seperti yang anak ini ceritakan. Begitu hasilnya keluar... dokter memanggil saya ke dalam. Positif, Bu Anika. Sunday, anak ini... sedang mengandung. Mendengar itu, saya tidak berpikir dua kali untuk langsung membawanya ke ruangan pribadi Anda sebelum kabar ini bocor ke murid-murid atau guru lain."
Bu Anika terduduk lemas di kursinya. Pandangannya yang semula dipenuhi kemarahan perlahan luluh menjadi rasa kecewa yang teramat dalam saat menatap murid kesayangannya, sang juara kelas yang masa depannya kini mendadak berada di tepi jurang hancur.
Bu Anika memijat pangkal hidungnya yang berdenyut kencang, berusaha keras menahan limpahan emosi yang mengancam sisa-sisa ketenangannya karena masih banyak hal yang ia ingin tanyakan dan ia tidak ingin kehilangan kendali sebelum menanyakan segalanya. Wanita itu menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke arah gadis belia yang masih tergugu di hadapannya.
"Sekarang, jawab jujur pertanyaan Ibu, Sunday," suara Bu Anika merendah, namun setiap kata yang keluar terdengar begitu menuntut dan dingin, tegas, dan menuntut.
"Ibu tidak mau mendengarkan omong kosong lagi. Ibu mau sebuah nama. Siapa laki-laki yang sudah berbuat kurang ajar seperti ini kepadamu? Siapa ayah dari bayi itu?"
Sunday tidak langsung menjawab pertanyaan wali kelasnya itu. Gadis itu bergeming, mempertahankan isak tangisnya yang justru semakin keras seolah-olah nama tersebut adalah sebuah kutukan yang haram untuk diucapkan.
"Sunday!" bentak Bu Anika, membuat Bu Titi spontan memegang bahu sang wali kelas agar menahan diri. Suara yang kian meninggi akan membuat orang di luar sana berpotensi mendengarkan percakapan mereka, dan Bu Titi tidak ingin masalah ini keluar sebelum Bu Anika mendapatkan penjelasan yang ia inginkan dari murid walinya.
"Kamu tidak bisa terus-terusan diam seperti ini! Masalah ini tidak akan selesai hanya dengan air mata dan sikap diam seribu bahasa. Siapa orangnya? Katakan pada Ibu!"
Desakan yang bertubi-tubi itu akhirnya meruntuhkan pertahanan Sunday. Dengan tubuh yang bergetar hebat dan napas yang terengah-engah akibat tangis yang sesak, gadis itu akhirnya mendongak dengan tatapan mata yang memerah menandakan sebuah kehancuran.
"Da... Damar, Bu," bisik Sunday lirih, nyaris tak terdengar.
"Siapa?" Bu Anika bertanya lagi dengan nada memastikan, dadanya berdegup kencang karena firasat buruk yang mendadak melintas menghinggapi perasaannya.
"Damar Mahesa, Bu... anak kelas XII IPA 1," aku Sunday sebelum kembali menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan.
Keheningan yang mencekam seketika menyergap ruangan pribadi itu. Pengakuan Sunday barusan telak menghantam kesadaran Bu Anika untuk kedua kalinya, menyisakan rasa terkejut yang jauh lebih hebat dari sebelumnya. Kepala Bu Anika mendadak kosong, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Damar Mahesa. Lelaki itu bukan sekadar murid di sekolah ini, dia adalah anak wali Bu Anika sendiri di kelas XII IPA 1, kelas yang sama dengan kelas tempat Sunday berada. Namun, yang membuat jantung Bu Anika mencelos adalah fakta mengenai betapa mustahilnya kombinasi kedua murid ini.
Bagaimana bisa seorang Sunday Pelita, sang murid andalan yang selalu duduk di bangku paling depan, peraih juara kelas berturut-turut, dan harapan utama sekolah untuk olimpiade sains dan beberapa lomba bergengsi bisa terlibat hubungan sejauh itu dengan Damar Mahesa?
Damar Mahesa adalah antitesis dari semua kebaikan Sunday. Dia adalah berandal sekolah, langganan ruang BK karena kasus perkelahian, anak yang jarang masuk kelas, murid yang acuh dalam proses pembelajaran dan selalu menatap guru dengan pandangan tidak ada gairah untuk melanjutkan pendidikan. Mereka berdua bagaikan minyak dan air yang mustahil menyatu di dalam kelas. Jadi... bagaimana itu mungkin?
Bu Anika menatap Bu Titi dengan pandangan tidak percaya bercampur kehilangan kata-kata. Di sudut ruangan, kenyataan pahit itu kini terasa berkali-kali lipat lebih rumit daripada sekadar kasus kehamilan remaja biasa.