Pasar Laris Jaya.
Asap tipis nampak mengepul dari kukusan kue tradisional di lapak milik Rojannah. Perempuan bertubuh tambun itu sibuk membungkus pesanan dengan senyum lebar, matanya berbinar dengan bangga menceritakan bagaimana Sunday, putri semata wayangnya yang kini duduk di kelas dua belas, bersiap lulus, dan menanti beasiswa ke universitas bergengsi Universitas Indonesia atau kampus top lainnya.
Sambil sesekali mengelap keringat di dahi dengan ujung selendang, tangan Rojannah tak pernah berhenti menata jajanan pasar di atas tampah anyaman bambu. Aroma manis dari klepon dan kue putu ayu hingga risol mayo yang baru matang berpadu sempurna dengan riuhnya suasana pasar tradisional pagi itu. Langkahnya yang lincah seolah menepis rasa lelah.
Ia adalah potret seorang ibu rumah tangga pekerja keras yang ceria. Setiap kali ada langganan atau sesama pedagang yang mampir membeli kue atau sekadar menyapa, bibir Rojannah tak henti-hentinya mengulas senyum hangat. Ia sangat menikmati perannya, bukan hanya sebagai penjual kue yang handal, tetapi juga sebagai seorang ibu tunggal yang penuh semangat.
Di sela-sela melayani pembeli yang menawar harga, beberapa pedagang tetangga kios pun menyempatkan diri untuk berbincang dengannya.
"Wah, Jeng Rojannah, kelihatan sibuk sekali hari ini. Si Sunday yang pintar itu sekarang sudah kelas berapa?" tanya Bu Sumi, pedagang sayur di seberang losnya, sambil tersenyum ramah seperti biasa. Mendengar nama putrinya disebut, wajah Rojannah semakin cerah. Pekerjaan membungkus kue seketika ia tunda sejenak, digantikan dengan sorot mata yang memancarkan kebanggaan luar biasa. Ia menepuk dadanya pelan, tawanya yang renyah mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya.
"Alhamdulillah, Bu Sumi! Doakan ya. Tahun ini anak saya itu sudah kelas dua belas. Sebentar lagi dia ujian, sebentar lagi lulus sekolah!" seru Rojannah dengan suara yang lantang dan penuh semangat.
"Pintar sekali anakmu itu, Rojannah. Memangnya mau lanjut ke mana dia nanti?" sambung Pak RT yang kebetulan sedang lewat untuk menarik uang kebersihan. Rojannah semakin melebarkan senyumnya, menunjuk ke arah udara seolah cita-cita Sunday sudah sangat dekat untuk digapai. Dengan bangga ia menceritakan rencana masa depan Sunday yang cemerlang.
"Oh, tentu saja mau lanjut ke universitas bergengsi! Sudah banyak tawaran beasiswa yang menanti dia di luar sana," ujarnya dengan nada suara yang semangat yang semakin bertambah.
"Dia anak yang berprestasi, selalu membanggakan hati ibunya. Pokoknya, tinggal pilih saja nanti mau kuliah di mana, semua pintu sudah terbuka lebar untuk Sunday saya!"
Para pedagang di sekitarnya mengangguk-angguk kagum mendengar cerita Rojannah. Mereka tahu betul perjuangan seorang ibu tunggal sekaligus pedagang pasar yang membanting tulang demi pendidikan anaknya. Kehidupan antara Rojannah dan anaknya Sunday selalu membuat mereka para penghuni pasar lainnya kagum atas kerja keras mereka berdua menjajakan dagangan pasar tanpa kehadiran sosok ayah, sang kepala keluarga yang sudah lama tidak ada dalam hidup mereka. Di kehidupan dan ekonomi sekarang, mampu bertahan di tengah himpitan hidup sehari-hari lalu tetap mempunyai anak yang berpendidikan bagus adalah sebuah berkah tersendiri dari kacamata kaum menengah ke bawah.
Rojannah kembali melanjutkan aktivitasnya dengan hati yang berbunga-bunga, sapaan demi sapaan dari para pedagang lainnya ia balas satu-satu seakan tidak pernah jengah. Saat itulah ia merasakan ponselnya bergetar, menandakan sebuah pesan masuk. Sebuah pesan yang tertulis dari Bu Anika, seseorang yang ia kenal adalah wali kelas anaknya.
Pesan teks itu berbunyi,
"Ibunda Rojannah, ibu dari anak wali saya Sunday Pelita. Saya mohon kesediaannya besok untuk ke sekolah menemui saya dan pihak sekolah. Ada yang ingin kami bicarakan terkait keadaan Sunday ke depannya."
Keadaan Sunday ke depannya? Rojannah agak sedikit kebingungan saat membaca bagian itu. Ah, tapi itu mungkin tentang masa depan anaknya. Mungkin tentang tawaran beasiswa lanjutan, sesuatu yang sering Bu Anika kabarkan pada dirinya.
Rojannah memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celemek dengan gerakan cepat. Wajahnya yang bulat kini bersemu merah, memancarkan binar kebahagiaan yang semakin menjadi-jadi.
"Luar negeri! Pasti beasiswa ke luar negeri!" bisiknya pada diri sendiri sambil menepuk-nepuk kedua tangannya yang masih sedikit berlumur tepung.
Semangatnya mendadak berlipat ganda. Tangan tambunnya bergerak super lincah, membungkus lumpia dan nagasari pesanan pelanggan dengan kecepatan luar biasa. Setiap kali ada pembeli yang datang, Rojannah menyambut mereka dengan tawa yang lebih renyah dari biasanya. Di kepalanya, bayangan Sunday mengenakan jubah wisuda di universitas megah di Eropa atau Amerika sudah menari-nari, mengaburkan fakta bahwa ia hanyalah seorang penjual kue di sudut pasar yang pengap.
Bu Anika tidak pernah memaksanya untuk hadir ke sekolah selama ini karena paham situasinya yang sibuk berjualan di pasar, tapi pesan ini mengundangnya dengan jelas untuk datang. Apalagi coba, kalau bukan perihal beasiswa ke luar negeri. Begitu pikir Rojannah.
"Baiklah, mungkin sudah waktunya aku ke sekolah dan mendengarkan langsung pilihan universitas yang tepat untuk Sunday," lanjut wanita itu sekali lagi seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Ia jadi tidak sabar untuk besok. Tidak apa-apa besok ia akan menutup kedai jajanan pasarnya dan ke sekolah, demi menentukan universitas yang tepat untuk Sunday, putri semata wayangnya.
Sementara itu, beberapa kilometer dari hiruk-pikuk pasar, keheningan yang mencekam justru menyelimuti ruang guru SMA Bakti Jaya. Bu Anika bersandar pada kursi kerjanya, menatap layar komputer jinjing yang menampilkan data nilai Sunday yang nyaris sempurna.
Tangan sang wali kelas masih gemetar setelah baru saja mengirimkan pesan kedua. Pesan dengan narasi dan permintaan yang sama itu ditujukan kepada orang tua Damar, siswa laki-laki dari kelas yang sama dengan Sunday berada.
"Ya Tuhan... bagaimana aku harus mengatakannya besok?" gumam Bu Anika lirih. Ia memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri.
Sebagai guru yang mendampingi mereka selama hampir tiga tahun, Bu Anika tahu betul bagaimana perjuangan Sunday. Anak itu adalah permata sekolah, lambang harapan bagi seorang ibu tunggal di pasar tradisional. Namun, kejadian yang baru saja terjadi sungguh memang membuat rahangnya jatuh di tempat. Sunday Pelita, siswi teladan itu, dinyatakan positif hamil. Dan Damar, remaja yang selama ini dikenal sebagai murid pembuat onar yang suka membolos pelajaran adalah ayah dari bayi dalam kandungan Sunday. Keduanya berasal dari kelas yang sama dan itu berarti keduanya adalah tanggung jawab Bu Anika, bagaimana Bu Anika tidak frustasi memikirkannya.
Bu Anika mengembuskan napas panjang yang sarat akan beban. Besok, dua dunia yang bertolak belakang akan dihantam badai di ruangannya. Di satu sisi ada kehancuran masa depan seorang anak emas, dan di sisi lain, ada hati seorang ibu pekerja keras bernama Rojannah yang sebentar lagi akan hancur berkeping-keping.
"Tuhan, kuatkan aku untuk menghadapi hari esok," pinta Bu Anika sambil mengatupkan tangannya ke depan dada sambil membereskan barang-barangnya, bersiap untuk pulang demi mengumpulkan tenaga karena ia tahu besok akan menjadi hari yang panjang dan berat.
Di perjalanan pulang yang lain, langkah kaki Sunday terasa begitu berat seolah semen basah telah mengikat kedua pergelangan kakinya. Jalanan gang sempit menuju rumahnya yang biasa ia lalui, kini terasa begitu panjang dan asing. Seragam putih-abu-abunya yang biasa tersetrika rapi, sebuah kebanggaan yang selalu ia jaga dan menjadi citra dirinya hari itu tampak sangat kusut, mencerminkan kekacauan yang sedang berkecamuk di dalam dadanya.
Wajah gadis itu nampak sangat sembab. Matanya merah dan membengkak karena air mata yang tak berhenti mengalir sepanjang hari di sekolah. Hari ini... adalah hari yang panjang dan juga melelahkan. Di dalam genggaman tangannya yang bergetar hebat, ia masih meremas sebuah benda plastik pipih berujung putih dengan dua garis kecil itu.
Sebuah testpack, benda kecil yang sejak tadi menemani langkah pulangnya. Begitu juga dengan angin sepoi-sepoi sore hari yang semakin menambah sesak yang rasanya tak kunjung usai. Hari yang sempurna untuk merasakan kehancuran.
Tepat beberapa puluh meter sebelum mencapai belikan gang rumahnya yang sederhana, keheningan sore itu dipecahkan oleh getaran pendek dari ponsel di saku seragamnya.
Sunday tersentak.
Dengan tangan yang masih gemetar bercampur lemas, ia mengeluarkan ponsel tersebut. Sebuah nama muncul di layar, membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
Damar.
Remaja itu mengirimkan sebuah pesan singkat. Hanya satu kalimat, namun cukup untuk membuat seluruh pertahanan Sunday runtuh seketika.
"Kamu benar hamil?"
Begitu kira-kira bunyinya.
Langkah Sunday mendadak terkunci di atas tanah. Ia menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong, sementara angin sore berembus dingin, menerpa air mata baru yang kembali meleleh di pipinya. Gadis itu menggoyangkan jemarinya sesaat, mengetikkan balasan singkat untuk pesan yang baru saja ia terima.
Benar-benar singkat.
Hanya jawaban mengiyakan lalu ia kembali melanjutkan langkahnya, tidak lupa sebelum itu ia memasukkan testpack miliknya ke dalam tas dan menghapus bekas air mata yang masih menggenang di pipinya.