Sunday

nuralitayu
Chapter #4

TANGGUNG JAWAB

Masa depan adalah tanggung jawab milik setiap insan. Itu adalah apa yang terpatri dalam sanubari Sunday sejak dulu. Bahwa ia harus berusaha untuk menjadi yang terbaik jika ingin memiliki masa depan yang indah. Bahwa masa depan yang kelak akan ia miliki harus secerah sinar mentari pagi jika ingin melihat senyuman terbaik ibunya, melihat Rojannah bangga.

Tapi bagaimana jika tidak ada sinar mentari di pagi hari itu, yang ada hanyalah cahaya mendung bercampur kabut karena badai dan hujan akan datang?

Sunday terdiam di tempat duduknya masih sambil memegangi pipinya yang memerah akan tamparan ibunya tadi. Bu Anika dan Bu Titi sempat mengecek kondisinya tadi menanyakan apa ia baik-baik saja tapi Sunday memilih untuk tidak menjawab kali ini, diam tanpa bereaksi apa-apa kecuali sedikit ringisan akibat rasa perih yang menghiasi pipinya.

Kepala sekolah yang sejak tadi hanya bisa duduk terdiam sambil memijat dahinya, akhirnya memperbaiki posisi duduknya setelah berdehem untuk beberapa saat. Setelah cukup lama kelabakan dan kebingungan menghadapi kekacauan hebat di ruangan itu, ia mengatur pelan suaranya untuk mengambil alih kendali situasi.

"Ibu Rojannah, mohon dengarkan saya terlebih dahulu," ujar Kepala Sekolah dengan nada suara yang berat dan berwibawa, meski sorot matanya tidak bisa menyembunyikan rasa sesal yang mendalam.

"Ada peraturan yang berlaku di sekolah ini. Peraturan yang sangat jelas tertulis di dalam buku tata tertib siswa, bahwa siswa tidak boleh sampai melakukan pelanggaran asusila seperti hamil di luar nikah. Apa yang sudah Sunday dan Damar lakukan... ini sudah jauh di luar batas dari yang namanya kenakalan remaja biasa."

Beliau menghela napas pendek, menatap Sunday dan Damar bergantian sebelum kembali mengarahkan pandangannya pada Rojannah.

"Sekolah harus mengambil tindakan tegas. Sunday dan Damar sudah jelas-jelas melanggar peraturan sekolah. Dan perlu Ibu ketahui, ini adalah salah satu pelanggaran yang sangat berat, yang konsekuensinya... membuat mereka berdua harus dikeluarkan dari sekolah ini."

Mendengar keputusan itu, jeritan histeris kembali lolos dari tenggorokan Rojannah. Dada wanita bertubuh tambun itu naik turun dengan cepat, matanya melotot tajam menembus langsung ke arah Kepala Sekolah. Ia sama sekali tidak terima dengan keputusan tersebut.

"Dikeluarkan?! Anak saya dikeluarkan?!" teriak Rojannah sambil memukul meja kerja di hadapannya.

"Bapak Kepala Sekolah, tolong pakai hati nurani Bapak! Sunday anak saya itu selalu berprestasi selama hampir tiga tahun berturut-turut di sini! Dia memenangi berbagai lomba dan olimpiade! Setiap tahun dia membawa pulang penghargaan, menyumbang prestasi, dan memberikan piala-piala yang berjejer di lemari depan sekolah Bapak itu! Bagaimana bisa sekolah bersikap sangat jahat dan tidak tahu diri untuk mengeluarkan putri saya sekarang?!"

Mendengar protes keras yang dilayangkan dengan penuh luka itu, Kepala Sekolah tidak membantah. Ia justru mengangguk pelan, mengakui kebenaran dari setiap kalimat yang diucapkan oleh Rojannah.

"Ibu Rojannah, demi Tuhan, saya pribadi juga sangat ingin mempertahankan Sunday," jawab Kepala Sekolah dengan nada yang melunak, mencoba meredam amarah sang ibu.

"Bukan hanya Sunday, tapi juga Damar. Mereka berdua semuanya adalah siswa saya, anak-anak saya di sini, yang sangat ingin saya perjuangkan masa depannya. Masalahnya, kita harus kembali lagi pada kenyataan bahwa apa yang sudah Sunday dan Damar lakukan adalah pelanggaran berat untuk institusi ini." Kepala Sekolah menyandarkan punggungnya, menatap seluruh orang yang ada di ruangan tersebut dengan raut wajah frustrasi.

"Jika sekolah tetap mempertahankan mereka berdua, citra dan nama baik sekolah ini pasti akan dipertanyakan oleh publik. Bukan cuma itu, guru-guru, orang tua murid yang lain, bahkan siswa-siswa lainnya pasti akan mengamuk dan memprotes keras karena menganggap peraturan sekolah tidak dijalankan dengan benar dan tebang pilih. Tolong pahami posisi kami, Ibu."

Tubuh tambun Rojannah tiba-tiba luruh begitu saja ke lantai. Ia bersujud di depan kaki Kepala Sekolah, seakan membuang habis seluruh harga diri yang ia punya.

Lihat selengkapnya