Sunday

nuralitayu
Chapter #5

KETAKUTAN

Di lorong sekolah yang mulai berangsur sepi, Bu Anika membalikkan badannya, menatap Pak Danu dan Damar yang masih berdiri terpaku dengan sisa-siga ketegangan yang terlihat. Sebagai wali kelas, tugasnya belum benar-benar selesai. Ia perlu tahu apa yang akan terjadi pada kedua anak didiknya setelah gerbang sekolah ini benar-benar tertutup untuk mereka.

"Pak Danu, Damar... setelah keputusan dari sekolah ini, apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?" tanya Bu Anika, memecah keheningan dengan nada suara yang masih menyiratkan rasa berat hati.

Pak Danu menghela napas panjang, membenarkan letak kacamata yang sempat agak miring. Wajahnya yang tegas kini tampak jauh lebih lelah dari sebelumnya.

"Nasi sudah jadi bubur, Bu," aku Pak Danu dengan jujur.

"Bohong kalau saya bilang bahwa saya tidak kecewa pada Damar. Pada semua kekacauan ini. Tapi meratapi hal yang sudah terlanjur terjadi tidak akan membawa untung apa-apa. Hidup harus tetap berjalan," ujar Pak Danu yang membuat Bu Anika cukup terkesan atas betapa bijaksananya pria itu.

Pak Danu menepuk pundak Damar sekilas, lalu sorot matanya mulai terasa menerawang jauh.

"Dulu, harapan saya sangat besar untuk Damar bisa menyelesaikan sekolahnya dengan baik di sini. Tapi takdir berkata lain. Kejadian ini membuat saya tersadar, mungkin selama ini saya terlalu memaksakan keadaan, terlalu ambisius, namun ujung-ujungnya justru tidak berjalan sesuai keinginan saya. Karena itu, saya tidak ingin menyalahkan siapa pun lagi sekarang."

Pak Danu kemudian menatap Bu Anika dengan sisa ketegasan yang ia miliki. "Namun, saya tetap bersikeras untuk membuat Damar menunaikan tanggung jawabnya. Meskipun tadi keluarga Sunday menolak keras dan mengatakan tidak butuh tanggung jawab kami, kami tidak akan mundur. Bagaimanapun juga, janin yang ada di dalam kandungan Sunday adalah cucu saya. Darah daging Damar."

Damar yang sejak tadi menunduk, akhirnya mendongak. Remaja yang biasanya tampak acuh tak acuh itu kini menunjukkan tatapan mata yang tegas.

"Iya, Bu. Sejak awal saya tidak pernah ada niat untuk lari dari kenyataan. Saya akui saya sangat terkejut saat pertama kali tahu Sunday hamil, tapi saya akan bertanggung jawab. Kami melakukannya secara sadar, itu adalah suatu tindakan yang kami pilih, jadi ini adalah konsekuensi yang harus saya pikul."

Mendengar penuturan Damar, dahi Bu Anika perlahan berkerut. Rasa janggal yang sejak tadi mengganjal di dadanya kembali menuntut jawaban. Rasa penasaran itu mendorongnya untuk menanyakan satu hal yang selama ini luput dari pengawasannya sebagai wali kelas.

"Damar... kalau boleh Ibu tahu, sejak kapan sebenarnya hubungan kalian berdua dimulai?" tanya Bu Anika menyelidiki. "Seingat dan sepengetahuan Ibu, kalian berdua hampir tidak pernah berinteraksi di kelas. Sangat jarang."

Wajar jika Bu Anika merasa heran. Di matanya, dunia Sunday dan Damar seperti minyak dan air yang tidak akan pernah bisa menyatu. Sunday adalah sang juara kelas, gadis yang rajin, tekun, dan tidak pernah sekalipun absen dari catatan kehadiran. Sementara Damar adalah kebalikan dari Sunday. Ia adalah siswa yang ogah-ogahan, malas belajar, dan biasanya hanya menampakkan batang hidungnya ke sekolah seminggu tiga kali jika tidak dipaksa.

Damar mengusap tengkuknya yang tidak gatal, ada kilat kenangan yang melintas di matanya.

"Kami mulai dekat dan akrab sejak Sunday menjadi tutor pendamping saya, Bu. Menjelang ujian sekolah ini."

"Sunday? Menjadi tutor pendamping kamu?" Bu Anika terkejut, matanya sedikit melebar. Ia sama sekali tidak pernah menerima laporan tentang program tutor sebaya di antara mereka berdua.

Pak Danu yang melihat keterkejutan sang wali kelas langsung menyahut, "Lho, Bu Anika tidak tahu? Sunday sendiri yang datang menawarkan diri ke rumah kami waktu itu. Dia bilang ingin menjadi tutor pendamping Damar agar anak ini bisa lulus ujian tahun ini. Terutama untuk mata pelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sains)."

Pak Danu menjeda kalimatnya, mengingat kembali momen kedatangan gadis itu.

"Sunday bilang saat itu kalau nilainya adalah yang tertinggi di angkatan tahun ini. Jadi dia menjamin, kalau dia yang mengajari Damar, nilai anak saya pasti akan ikut naik dan membaik. Dia tahu kalau keluarga kami memiliki bisnis yang bergerak di bidang tanaman, pembibitan, dan hal-hal yang berhubungan dengan alam serta perkebunan. Sunday bilang, setidaknya Damar harus punya dasar pengetahuan sains yang bagus untuk melanjutkan bisnis saya nanti. Karena alasannya masuk akal dan niatnya baik, saya langsung menerima Sunday jadi tutor Damar," lanjut Pak Danu yang membuat kening Bu Anika semakin tambah mengerut jadinya

Otak Bu Anika langsung menghubungkan benang-benang merah yang tercecer. Sebuah ingatan masa lalu mendadak berputar di kepalanya.

"Tunggu... apa Sunday datang menawarkan diri menjadi tutor setelah dia ikut bersama saya mengunjungi rumah kalian waktu itu? Yang waktu kita berdua datang untuk mengantarkan rapor Damar?" tanya Bu Anika memastikan.

Damar mengangguk pelan.

Lihat selengkapnya