Sunday

nuralitayu
Chapter #6

KELUARGA DEKAT

Di ruang kerjanya yang mulai sepi Bu Anika masih duduk setengah melamun, seakan tidak punya hasrat untuk pulang ke rumah. Rasa tidak tenang yang mengganjal di dadanya sejak konfrontasi tadi siang tak kunjung sirna.

Alih-alih bersiap pulang, ia justru melangkah menuju lemari arsip besar di sudut ruangan, mengambil sebuah map biru tebal bertuliskan 'Dokumen Siswa Kelas XII-A' yang langsung ia bawa ke atas meja kerjanya lalu membalik lembar demi lembar hingga menemukan berkas milik Sunday Pelita. Bu Anika mulai membaca dengan teliti setiap detail latar belakang keluarga anak walinya tersebut, berharap bisa menemukan jawaban atas firasat janggal yang mengusik logikanya.

Di lembar data keluarga, tertulis jelas bahwa Sunday hanya tinggal berdua bersama ibunya, Rojannah. Sang ayah tercatat telah meninggal dunia sejak Sunday masih sangat kecil. Untuk keadaan ekonomi, keluarga mereka dikategorikan sebagai kelompok menengah. Pekerjaan ibunya tertulis sebagai pedagang kue tradisional. Tidak ada yang khusus sebenarnya.

Bu Anika mengetuk-ngetuk jarinya ke meja, berpikir. Sepanjang tiga tahun mendampingi Sunday, anak itu memang dikenal sebagai siswi yang sangat sederhana. Meskipun perekonomiannya berada di tingkat menengah dan ibunya hanya berjualan di pasar, Sunday tidak pernah sekalipun mengeluh kekurangan uang atau terkendala masalah biaya sekolah.

Apa karena beasiswa prestasinya selama ini yang sangat melimpah, jadi hidup anak itu tampak aman-aman saja? Sekolah memang selalu membebaskan seluruh biaya bagi siswa berprestasi seperti Sunday.

Entahlah.

Lagipula ini bukan karena masalah ekonomi. Saat Bu Anika membuka lembar berkas berikutnya dan meneliti rekam jejak akademis Sunday dari masa lalu, ia menemukan sebuah fakta yang menarik perhatiannya. Hal ini sebenarnya bukan sebuah masalah besar atau big deal, namun cukup untuk membuat kening sang wali kelas mengernyit heran.

Berkas itu menampilkan riwayat sekolah Sunday sejak kecil. Alamat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) milik Sunday semuanya tercatat dengan alamat tempat tinggal yang berbeda-beda. Jarak antara alamat-alamat tersebut bahkan cukup berjauhan, melintasi beberapa wilayah kecamatan yang berbeda. Itu berarti, selama masa pertumbuhan Sunday dari kecil hingga remaja, keluarga kecil itu setidaknya sudah tiga kali pindah rumah dan berganti alamat tinggal.

Bu Anika menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap deretan alamat itu dengan pandangan menerawang. Bagi seorang pedagang kue tradisional dan seorang anak sekolah, berpindah-pindah rumah sebanyak tiga kali dalam kurun waktu beberapa tahun tentu membutuhkan usaha dan alasan yang cukup besar. Entahlah, detail kecil itu mendadak terasa begitu menarik perhatian Bu Anika dan memicu rasa ingin tahunya yang lebih dalam.

***

Rasa ingin tahu itu terbawa hingga ke meja makan malam di rumah Bu Anika. Wanita itu duduk menopang dagu dengan sebelah tangannya, sementara pandangannya kosong menatap piring di hadapannya. Sang suami, Bimo, sedang sibuk di dapur menyiapkan iga bakar kesukaan istri tercintanya. Aroma gurih daging panggang yang memenuhi ruangan sama sekali tidak mampu mengalihkan pikiran Bu Anika dari berkas sekolah Sunday.

"Mas..." panggil Bu Anika samar, memecah keheningan.

"Kalau seseorang yang kamu kenal pintar luar biasa, tiba-tiba melakukan sesuatu yang sangat bodoh dan sama sekali tidak mencerminkan dirinya... apa itu mungkin?"

Bimo membalik potongan iga di atas pemanggang, lalu menoleh sekilas sambil tersenyum.

"Ya mungkin saja, Sayang. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Mau orang dengan otak seencer Einstein sekalipun, kalau ada sesuatu yang mendesak atau membuatnya ceroboh, dia pasti bisa melakukan hal bodoh."

Bu Anika terdiam, mencerna jawaban itu.

"Oh... jadi itu mungkin saja, ya? Aku hanya tidak mengerti. Rasanya benar-benar tidak masuk akal bagiku."

Melihat kerutan dalam di dahi istrinya, Bimo mematikan kompor. Ia memindahkan iga bakar yang sudah matang ke atas piring saji, lalu berjalan mendekat dan duduk di hadapan Bu Anika.

"Aku memang tidak tahu siapa atau apa yang sedang kamu bicarakan," sela Bimo lembut sambil menatap mata istrinya.

"Tapi, kalau kamu sampai seterkejut dan setidak terima ini, mungkin saja orang yang kamu maksud itu punya alasannya sendiri. Alasan kuat sampai dia memilih untuk melakukan hal bodoh semacam itu."

Lihat selengkapnya