Lembaran masa lalu Rojannah tersusun dari kerumitan rumah tangga yang bongkar pasang dan penuh dinamika. Fisiknya memang mungkin jauh dari standar kecantikan majalah. Ia adalah wanita yang bertubuh besar, tambun, kulitnya legam terpapar matahari, dan suaranya nyaring melengking saat menyapa orang. Namun entah mengapa, takdir membawanya melintasi gerbang pernikahan hingga beberapa kali dengan berbagai alasan yang mewarnai hidupnya.
Rojannah, ibu dari Sunday sudah beberapa kali menikah dan berganti pasangan. Semuanya karena alasan yang berbeda-beda, tidak seragam. Namun tidak dapat dipungkiri alasan paling kuat dari setiap perpisahan yang ia pilih adalah karena ada luka di dalamnya.
Luka paling dalam mungkin berasal dari suami pertamanya. Lelaki itu pemabuk, pecandu, ringan tangan dan kerap menjadikan tubuh besar Rojannah sebagai sasaran amarah. Rojannah bagaikan samsak tinju, tempat pelampiasan semua rasa sesaknya.
Di masa-masa kelam penuh kekerasan dalam rumah tangga itulah, Dedi, adik bungsu laki-lakinya, hadir sebagai pelindung. Dedi adalah satu-satunya orang yang berani pasang badan dan menghajar balik mantan iparnya demi membela sang kakak. Sejak peristiwa berdarah itu, ikatan keduanya tak lagi bisa dipisahkan. Ke mana pun Rojannah melangkah, entah saat ia kembali membina rumah tangga baru, menjadi janda, lalu menikah lagi maka Dedi akan selalu ada di sisinya.
Dedi sendiri bukan lelaki dengan masa depan mapan. Pekerjaannya serabutan, tidak tetap, dan sering kali luntang-lantung. Sebagai kakak tertua, Rojannah tidak pernah mengeluh meski harus ikut membiayai hidup adiknya dari hasil jualan kue. Bagi Dedi, mau sejauh apa pun ia merantau mencari kerja, Rojannah adalah kompas dan rumah tempatnya pulang. Setelah orang tua mereka tiada, hanya Rojannah tempatnya bernaung dari kerasnya dunia.
Cerita pernikahan Rojannah semakin berliku saat ia jatuh cinta dan menerima pinangan seorang pria yang ternyata menyembunyikan statusnya. Pria itu masih memiliki istri sah dan seorang bayi kecil yang masih merah pada saat Rojannah mengetahui semuanya. Ketika rahasia itu terbongkar, sang istri sah yang terlanjur hancur hati dan kecewa berat memilih kabur begitu saja, meninggalkan bayinya yang masih merah di tangan suaminya, memberikan seluruh kuasa agar suaminya dan Rojannah saja yang harus membesarkan bayi itu. Bukannya protes, Rojannah tidak masalah. Ia membesarkan bayi itu, ikut andil sebagai ibu sambungnya.
Bayi laki-laki itu sering sekali sakit-sakitan. Salah satu dukun yang sering suaminya temui mengatakan bayi itu terlalu rapuh dengan nama pemberian ibu kandungnya, ia menyarankan agar namanya diganti dengan sesuatu yang lebih baru. Sang suami yang putus asa kemudian meminta Rojannah memberikan nama baru untuk mengubah nasib si kecil.
Kebetulan, hari itu tepat tanggal 17 Agustus. Dengan suara nyaringnya yang khas, Rojannah menamai bayi lelaki itu Agustus Raya. Ya, karena pada saat itu memang bulang Agustus dan sedang ada perayaan nasional. Nama itu benar membawa tuah baik. Agus tumbuh sehat, tidak sakit-sakitan lagi dan menganggap Rojannah bagaikan ibu kandungnya sendiri. Bahkan, ketika pernikahan Rojannah dengan ayah kandung Agus tidak berjalan dengan baik dan pada akhirnya harus kandas di tengah jalan, Agus menolak ikut ayahnya. Pemuda itu dengan tegas memilih bertahan di bawah perlindungan Rojannah.
Seiring berjalannya waktu, Agus telah tumbuh menjadi pemuda yang tidak tamat sekolah. Karena tidak memiliki ijazah, Dedi sering kali mengajak keponakan angkatnya itu untuk ikut bekerja serabutan di luar kota. Entah pekerjaan kasar apa yang mereka lakukan di sana, ujung-ujungnya skenario hidup mereka selalu sama. Setelah beberapa bulan merantau, Dedi dan Agus akan kembali mengetuk pintu rumah Rojannah dengan pakaian kotor dan dompet kosong. Dan seperti biasa, dengan tubuh tambunnya yang hangat serta omelan suaranya yang nyaring, Rojannah akan selalu membukakan pintu, memasakkan makanan hangat, dan menjadi pelabuhan terakhir bagi kedua lelaki itu.
Termasuk pada kali ini.
Dedi dan Agus kembali ke rumah, ikut makan di meja makan dengan lahap sampai akhirnya pertanyaan Agus yang tajam memecah suasana, menanyakan kenapa Sunday tidak pergi ke sekolah.
"Kenapa Sunday tidak pergi ke sekolah?"
"Oalah, Gus... kamu ini baru menapakkan kaki di rumah sudah langsung menginterogasi adekmu," sahut Rojannah. Nada suaranya diusahakan seenteng mungkin, lengkap dengan tawa renyah yang dipaksakan hingga tubuh tambunnya sedikit terguncang.
"Sunday itu sedang sakit, makanya ndak bisa pergi ke sekolah hari ini. Ibu sendiri yang menyuruh dia tinggal di rumah untuk istirahat."
Agus tidak bergeming. Sepasang matanya yang tajam bak elang masih tertuju lurus pada Sunday yang berdiri terpaku. Tatapannya menuntut penjelasan yang lebih logis. Di matanya, Sunday adalah anak emas kebanggaan keluarga yang tidak akan melewatkan satu hari pun di sekolah hanya karena alasan sepele.
"Sakit apa?" tanya Agus lagi. Suaranya datar, tanpa emosi, namun justru karena itulah terdengar begitu menakutkan bagi kedua wanita di hadapannya. Rojannah buru-buru menimpali sebelum Sunday sempat mengeluarkan suara.
"Cuma ndak enak badan, Gus. Demam, meriang sedikit karena cuaca akhir-akhir ini kan tidak menentu. Kadang panas menyengat, sorenya langsung hujan lebat. Anak sekolahan kalau kecapekan belajar ya badannya gampang tumbang."
Wanita itu melangkah mendekati meja, mencoba mengalihkan perhatian anak sambungnya dengan meraba tas ransel kumal milik Agus.
"Sudah, kalian pasti capek habis perjalanan jauh dari luar kota. Sana mandi dulu, Ibu sudah buatkan sayur lodeh hangat di dapur."
Namun, usaha pengalihan itu sia-sia. Sunday sama sekali tidak berniat mencairkan suasana. Gadis berprestasi yang biasanya selalu ceria itu tidak menyapa Paman Dedi yang sudah berbulan-bulan tidak dilihatnya. Ia juga tidak memandang Agus, kakak laki-laki sambungnya. Kehadiran dua lelaki yang baru pulang dari perantauan jauh itu dianggapnya seolah-olah mereka adalah udara kosong baginya.
Dengan wajah pucat pasi dan mata yang membengkak, Sunday melangkah memutari ruang tamu dengan kepala tertunduk. Ia berjalan cepat menuju kamarnya yang terletak di sebelah dapur. Tanpa mengatakan satu kata pun, tanpa ada sepatah kata salam atau pandangan mata yang bersinggungan, gadis itu menyelinap masuk ke dalam ruangan pribadinya.
Brak! Klik!
Suara daun pintu yang ditutup dengan rapat disusul oleh bunyi kunci yang diputar dua kali dari dalam menggema di seluruh penjuru rumah. Pintu kayu itu kini menjadi pembatas kokoh, menyembunyikan Sunday sepenuhnya dari pandangan dunia luar, sekaligus meninggalkan tanda tanya besar yang menggantung tebal di ruang tamu yang mendadak sunyi.
"Si Sunday kenapa?" celetuk Dedi sambil menunjuk ke arah kamar Sunday yang sudah tertutup rapat.
"Oalah, Di, kamu ini bagaimana, toh? Orang sakit kan memang seperti itu!" sahut Rojannah setengah berseru, lengkap dengan kibasan tangannya yang gempal di udara.
"Namanya juga badan lagi demam, meriang, kepalanya pasti pusing kepalang. Orang kalau lagi sakit begitu jangankan mau menyapa paman atau kakaknya, digerakkan sedikit saja badannya sudah linu semua. Makanya dia buru-buru masuk kamar karena ndak kuat berdiri lama-lama."
Sebelum Dedi sempat menyela atau melayangkan pertanyaan lanjutan, Rojannah dengan cepat memotong pergerakan adiknya. Ia tidak ingin kedua lelaki itu menyelidiki lebih jauh atau setidaknya yang paling ia takuti, mengetuk pintu kamar Sunday untuk meminta penjelasan langsung.
"Sudah, sudah, jangan dibahas lagi. Kalian berdua ini baru saja menapakkan kaki di rumah setelah perjalanan jauh berjam-jam dari luar kota. Muka sudah kusam, baju kotor semua," ucap Rojannah, nadanya berubah menjadi omelan khas seorang kakak yang cerewet namun penuh perhatian. Ia berjalan mendekati Agus, menepuk-nepuk bahu tegap anak sambungnya itu dengan telapak tangannya yang hangat.
"Lebih baik kalian berdua pergi mandi sana, biar badannya segar lagi. Baju-baju kotor di tas itu taruh saja di ember belakang, nanti biar aku yang cuci sekalian."
Sembari mendorong pelan pundak Agus ke arah kamar mandi, Rojannah mengalihkan pandangannya ke dapur.
"Sementara kalian membersihkan diri, aku mau bersiap-siap menyiapkan makanan di dapur. Tadi subuh sebelum ke pasar aku sudah potong ayam, ini mau aku goreng hangat-hangat sama buatkan sambal korek kesukaan kalian. Ayo, cepat mandi, jangan ditunda-tunda lagi!" pungkasnya seraya bergegas menuju kompor, menyalakan api dengan gerakan yang sengaja dibuat sibuk agar terhindar dari tatapan menyelidik Dedi dan Agus.
***
Beberapa puluh meter dari pagar rumah itu, sebuah mobil terparkir tenang di bawah bayang-bayang pohon talok. Di balik kemudi, Bu Anika masih duduk diam dengan tatapan yang tak lepas dari pintu depan rumah Sunday. Dari posisinya, ia sempat melihat dua pria berbadan kurus baru saja masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa, disusul oleh pintu yang langsung ditutup rapat oleh Bu Rojannah dari dalam. Sudah hampir satu jam ia berada di sana, mengamati rumah itu dari balik mobilnya.
Di tengah pengintaiannya yang tanpa arah, tangan Bu Anika perlahan bergerak membuka laci dasbor mobil, mengambil beberapa lembar map berisi berkas informasi pribadi Sunday yang sengaja ia bawa dari sekolah. Lembar demi lembar ia balik, hingga matanya tertuju pada sebaris tulisan di kolom riwayat tempat tinggal: Jalan Seroja, Kecamatan Sukamaju.
"Kecamatan Sukamaju..." gumam Bu Anika lirih.
Itu adalah alamat lama Sunday saat gadis itu masih duduk di bangku SMP. Letaknya di kecamatan sebelah, cukup jauh dari lokasi pasar dan rumah tempat Sunday tinggal sekarang. Namun, nama Jalan Seroja seketika memicu gelombang memori di kepala Bu Anika. Ia sangat familiar dengan kawasan itu. Waktu masih gadis dulu, sebelum menikah dan menetap di pusat kota, ia pernah mengontrak sebuah rumah petak di sana selama hampir dua tahun. Ia hafal betul lekuk-lekuk gang di daerah pinggiran yang padat dan semi-permanen tersebut.
Seharusnya, sesuai rencana awal. Bu Anika semestinya turun dari mobil. Langkah kakinya yang pelan akan membawa dirinya mengetuk pintu kayu rumah Sunday, bertamu dengan sopan, lalu duduk bersama Bu Rojannah. Ia mengemban misi berat yang tak lain dan tak bukan adalah membujuk wanita pedagang kue itu agar mau membuka pintu komunikasi lagi dengan keluarga Damar. Masalah kehamilan Sunday tidak bisa ditutupi selamanya dengan hanya mengurung diri di rumah. Masa depan dua anak yang masih bersekolah itu harus segera diputuskan, dan pertanggungjawaban dari pihak keluarga Damar perlu dibicarakan kepala dingin tanpa emosi yang membabi buta.
Namun, entah mengapa, setelah mengintai dan menunggu di dalam mobil selama beberapa puluh menit, jemari Bu Anika yang sudah memegang gagang pintu mobil mendadak kaku. Niatnya urung. Ada bisikan halus di dalam benaknya yang menahan langkah tersebut.
Mata Bu Anika kembali menatap berkas usang bersimbol cap SMP itu. Naluri kewanitaannya, atau mungkin naluri tajam seorang pengajar yang sudah belasan tahun menghadapi berbagai macam karakter siswa justru mengatakan sesuatu yang lain. Naluri itu berbisik kuat, mengarahkannya bukan ke pintu rumah di hadapannya, melainkan ke Jalan Seroja.
Ia sendiri tidak yakin apa yang bisa ia temukan di alamat lama itu. Sunday yang sedang berbadan dua ada di dalam rumah di depannya sekarang. Ibunya, Bu Rojannah, juga ada di sana. Logikanya mengatakan bahwa berpindah tempat hanya akan membuang waktu. Namun, rasa penasaran yang mengusik batinnya terasa begitu pekat. Ada sesuatu yang penting di masa lalu Sunday yang tertinggal di Jalan Seroja, sesuatu yang mungkin menjadi kunci dari benang kusut yang sedang terjadi saat ini.
Bu Anika menarik kembali tangannya dari gagang pintu. Ia memutar kunci kontak. Mesin sedan peraknya menderu halus, memecah keheningan di bawah pohon talok. Dengan satu gerakan mantap pada tuas persneling, ia memutar arah kendaraannya.
Mobil itu perlahan bergerak meninggalkan pekarangan rumah Bu Rojannah, membelah jalanan pagi, meluncur mantap menuju kecamatan sebelah. Bu Anika membiarkan nalurinya mengambil alih kemudi, membawa dirinya menuju sebuah gang sempit di Jalan Seroja, mencari sepotong jawaban yang masih sangat mengganjal di hatinya.
***
Sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah jendela kayu rumah, membawa serta aroma harum nasi goreng bumbu kampung yang beradu dengan wangi bawang goreng khas. Sunday yang awalnya berniat untuk mengunci diri di kamar sepanjang hari, malah berakhir duduk kaku di kursi meja makan, ikut sarapan bersama ibu, paman, dan kakak sambungnya.
Rojannah yang memaksanya keluar tadi. Sebelum Dedi dan Agus selesai mandi, wanita bertubuh tambun itu menyelinap masuk ke kamar Sunday dan berbisik setengah mengancam. Rojannah memaksa Sunday untuk ikut sarapan kalau tidak ingin membuat kecurigaan Agus dan Dedi semakin kuat. Apalagi pagi ini Rojannah sudah memasakkan sarapan. Jika Sunday tidak sarapan, Agus pasti akan bersikeras mendobrak pintu atau menyeretnya keluar agar ikut makan. Sunday yang tidak ingin berdebat panjang akhirnya mengalah. Energinya sudah terkuras habis oleh tangis dan ketakutan sejak kemarin. Terlebih, fisiknya memang sudah sangat lemas karena sejak kemarin ia tidak memasukkan makanan apa pun ke dalam mulutnya dan hanya mengurung diri di kamar.
Di meja makan, sepiring besar nasi goreng hangat, telur dadar suwir, dan kerupuk udang sudah tersedia dan kelihatan sangat enak. Bagaimanapun, Rojannah adalah pembuat kue yang handal. Dalam hal memasak makanan berat pun, masakannya tidak pernah gagal menggugah selera. Perut Sunday sudah keroncongan hebat karena lapar. Apalagi sekarang ada janin kecil yang tumbuh di dalam perutnya, rasa lapar itu menjadi dua kali lipat lebih menyiksa dan tidak bisa dipungkiri lagi.
Begitu piring dibagikan, tanpa sadar Sunday langsung kalap. Ia mengambil porsi yang cukup banyak dan makan dengan sangat lahap, menyendokkan nasi demi nasi ke mulutnya tanpa peduli etika. Sikapnya ini membuat Agus dan Dedi yang duduk di hadapannya cukup terkejut. Ini seperti bukan Sunday yang biasanya makan dengan porsi kecil dan pelan.
Agus yang sejak tadi menaruh curiga, menghentikan kunyahannya sejenak.
"Kamu makan seperti orang yang sudah tidak ketemu nasi berminggu-minggu saja," celetuk Agus dengan alis bertaut, menatap cara makan adiknya yang seperti orang kelaparan.
Namun, Sunday sama sekali tidak peduli dengan sindiran itu. Ia terus mengunyah, menutup telinga dari dunia luar demi memberikan nutrisi pada dirinya dan juga bayi dalam kandungannya yang terus menuntut energi lebih.
Melihat gelagat Agus yang kembali menyelidik, Bu Rojannah dengan cekatan langsung mengalihkan pembicaraan kembali.