Sunday

nuralitayu
Chapter #8

INSIDEN JALAN SEROJA

"Apa benar bayi dalam kandungannya itu anakmu?"

Pertanyaan bernada tajam itu memecah keheningan di ruang tengah rumah keluarga Damar. Damar hanya bisa tertunduk lesu di sofa, dicecar habis-habisan oleh tatapan penuh selidik dari kedua orang tuanya. Utamanya adalah sang ibu, Berlian, yang sampai detik ini masih tidak habis pikir dan belum bisa meyakini kalau bayi yang ada di dalam kandungan Sunday adalah darah daging dari anak laki-laki satu-satunya yang ia miliki.

"Sudah terlambat untuk meragukan semuanya, Ma," potong Pak Danu dengan suara berat yang dipenuhi kekecewaan dalam.

"Nasi sudah menjadi bubur. Damar dan Sunday sekarang sudah resmi dikeluarkan dari sekolah. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana nasib anak di perut Sunday nantinya."

Berlian memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Wajahnya memerah menahan campur aduk antara malu dan tidak percaya.

"Tapi ini semua terjadi terlalu tiba-tiba, Pa! Mama itu sangat mempercayai Sunday. Dia kelihatan seperti anak terpelajar yang tidak neko-neko. Makanya Mama sengaja mempekerjakan dia untuk menjadi tutor pengajar bagi Damar agar nilai anak ini bisa naik dan lulus dengan aman. Tapi lihat apa yang sekarang terjadi? Bukannya lulus, dua-duanya malah dikeluarkan! Bagaimana bisa jadinya malah seperti ini?"

"Terus mau menyalahkan Sunday karena dia bukan anak kita? Di posisi seperti ini, dua-duanya salah," peringat Pak Danu tegas, menyadari ada nada dalam bicara istrinya yang mulai terasa berat sebelah karena menyinggung tentang Sunday seorang.

"Tidak ada yang menggoda dan tidak ada yang digoda di sini. Keduanya sama-sama sudah melakukan kesalahan fatal yang melanggar batas."

Berlian mengangguk pelan mengiyakan ucapan suaminya, namun hatinya sebagai seorang ibu tetap saja berontak. Ia masih tidak menyangka nasib putra mereka akan sehancur ini dalam waktu singkat.

"Iya, Mama tahu mereka berdua salah. Tapi, Pa... Damar ini memang terkenal bandel dan nakal di sekolah, tapi sebagai ibunya, Mama tahu betul watak anak kita. Damar tidak akan sampai melakukan hal yang sejauh dan di luar batas itu pada seorang gadis... kalau bukan gadis itu duluan yang memberikan sinyal."

Berlian menghela napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya agar tidak terdengar emosional.

"Mama tidak sedang menuduh Sunday sengaja menggoda putra kita, atau membela Damar secara berat sebelah hanya karena dia anak Mama. Tapi, kalau sampai Damar berani melakukan hal sejauh itu ke Sunday, pasti karena ada sesuatu yang dimulai dari Sunday sendiri."

Berlian kemudian menggeser duduknya, menatap lurus ke arah netra sang putra yang terus menghindari kontak mata.

"Benar begitu, Damar?"

Damar hanya terdiam. Mulutnya terkunci rapat, tidak memberikan jawaban sepatah kata pun atas pertanyaan ibunya. Namun, di balik bungkamnya itu, isi kepala Damar langsung melesat mundur, mengingat kembali memori hari pertama saat Sunday bekerja sebagai tutor pribadinya.

Hari itu, suasana kamar belajarnya begitu tenang. Saat Sunday hendak meraih sebuah buku referensi di atas meja, jemari gadis itu tidak sengaja menyenggol dan menyentuh punggung tangan Damar. Damar yang terkejut tentu saja agak sedikit tersentak. Refleks, ia berniat untuk segera menarik dan melepaskan tangannya dari meja. Namun, gerakan Sunday justru di luar dugaan. Bukannya menjauh karena canggung, Sunday malah membalikkan telapak tangannya sendiri. Gadis itu meraih kembali tangan Damar yang hendak menjauh, membawanya masuk ke dalam tangannya yang terasa begitu hangat, lalu menggenggamnya dengan erat.

Sore itu, mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar dalam keadaan tangan yang saling bertautan dan menggenggam satu sama lain di bawah meja. Saat itu, tangan Damar terasa dingin luar biasa karena gugup, sangat berbanding terbalik dengan telapak tangan Sunday yang begitu hangat menjalar ke kulitnya. Kehangatan yang terasa asing namun menenangkan itu, pada akhirnya membuat Damar sama sekali tidak menolak untuk terus menggenggamnya hingga sesi belajar usai.

"Damar!"suara ibunya mengembalikan kesadaran Damar, namun sekali lagi lelaki itu enggan memberikan sepatah kata dan memilih bangkit, melipir masuk ke arah kamarnya membuat Berlian hanya bisa menghela nafasnya.

"Mama hanya tidak mau anak kita sampai dimanfaatkan," ucap wanita itu dengan lirih sembari melihat ke arah suaminya yang juga terlihat tertegun, tidak tahu harus menjawab apa.

***

Hal pertama yang dilakukan Bu Anika setibanya di rumah adalah meletakkan tasnya dengan terburu-buru. Ia langsung membuka laptop, menyalakan mesin pencari, dan mengetikkan kata kunci pencarian. Insiden Jalan Seroja, begitu apa yang ia coba ketik.

Namun, sebelum jemarinya sempat menekan tombol enter untuk melakukan penelusuran di browser, suara nyaring bel depan pintu mendadak berbunyi, menandakan kedatangan seorang tamu. Bu Anika menghela napas, beranjak dari kursinya untuk membuka pintu. Begitu daun pintu terbuka, ia terkejut menemukan wajah yang sangat ia kenal berdiri di sana. Sosok Rojannah, ibu dari Sunday, datang dengan napas memburu dan raut wajah yang dipenuhi amarah.

Belum sempat Bu Anika mempersilakan Rojannah masuk dengan sopan, wanita tambun itu sudah menudingkan jarinya tepat di depan wajah Bu Anika.

"Ibu yang harus bertanggung jawab!" seru Rojannah tanpa basa-basi. Rojannah merasa Bu Anika memiliki andil besar atas kemalangan yang menimpa putrinya.

"Orang pertama yang membawa Sunday ke rumah keluarga Damar itu Bu Anika kan?" cecar Rojannah sembari memberikan telunjuknya tepat di wajah Bu Anika.

Bu Anika mengangguk, membenarkan hal itu.

"Iya, memang saya yang mengajaknya waktu itu, tapi..."

"Tidak ada tapi-tapi!" potong Rojannah, suaranya naik satu oktav dari sebelumnya.

"Sunday tidak akan sampai hamil sejauh ini kalau hari itu Bu Anika tidak membawanya ke rumah keluarga itu! Sunday tidak akan bertindak sejauh ini dan merusak masa depannya sendiri kalau bukan karena Bu Anika yang menjerumuskannya ke sana!"

Bu Anika mengernyitkan dahi, benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin Rojannah tuntut darinya. Sebuah pertanggungjawaban? Atas dasar apa?

"Bu Rojannah, tenang dulu. Saya berjanji akan membantu Sunday mencari jalan keluar, tapi saya tidak ada niat untuk menjerumuskan Sunday, tapi..."

"Tidak ada tapi-tapi! Membantu apa?!" potong Rojannah lagi dengan kasar.

"Putriku sudah dikeluarkan dari sekolah! Dia tidak punya masa depan lagi sekarang, dan itu semua karena Bu Anika! sudah gagal membimbing putriku, Bu Anika sudah gagal menjadi wali kelas yang becus!"

Setelah meluapkan makiannya, Rojannah berbalik dan melangkah pergi keluar dari halaman rumah Bu Anika dengan emosi yang masih mencak-mencak dan marah-marah. Bu Anika yang tidak terima disalahkan begitu saja segera berlari menyusul ke luar gerbang, berniat memberikan penjelasan dan meluruskan kesalahpahaman ini. Ia paham kalau Rojannah masih kecewa atas keluarnya Sunday dari sekolah, tapi ia sendiri juga sangat menyayangkannya.

Bu Anika masih berusaha menyusul Rojannah namun, tepat di ujung jalan komplek rumahnya, langkah Bu Anika mendadak terkunci oleh sebuah pemandangan yang tak terduga. Seorang wanita paruh baya yang entah datang dari mana tiba-tiba saja berlari kencang dan langsung menjambak hijab yang dikenakan Rojannah. Serangan mendadak itu membuat pakaian dan penutup kepala wanita tambun itu seketika koyak dan berantakan.

"Dasar wanita tidak tahu malu! Tukang perebut suami orang!" teriak wanita penyerang itu dengan suara histeris, terus menarik kain hijab Rojannah tanpa ampun. Melihat kegaduhan tersebut, Bu Anika bergegas mendekat untuk melerai mereka berdua. Ia memegangi lengan wanita yang mengamuk itu.

"Tunggu, Ibu! Tolong lepaskan dulu! Siapa sebenarnya Anda dan ada masalah apa ini?" tanya Bu Anika panik.

Wanita itu menoleh dengan mata merah mendelik kesetanan. "Saya ini istri Pak RT di jalan tempat tinggal si gembrot ini tinggal! Dan semalam, suami saya tidak pulang karena tidur di rumah perempuan jalang ini!" teriak Bu RT, sukses membuat Bu Anika tersentak kaget. Sementara itu, Rojannah yang jilbabnya sudah awut-awutan justru hanya memasang wajah jutek, melipat tangan di dada tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.

Bu Anika mencoba mencerna situasi gila ini. Ia bertanya lagi pada Bu RT, "Apa yang membuat Ibu bisa menuduh Bu Rojannah sedemikian rupa? Apa Ibu punya bukti?"

"Bukti?!" jerit Bu RT bertenaga.

"Semalam saya curiga karena suami saya pamit ronda tapi tidak kunjung pulang sampai subuh! Saya susul ke pos ronda, dia tidak ada! Dan subuh tadi, saya lihat dengan mata kepala saya sendiri dia keluar lewat pintu belakang rumah perempuan ini sambil membetulkan ritsleting celananya! Mau mengelak apa lagi kamu?!"

Mendengar tuduhan telak itu, Rojannah akhirnya balas berteriak dengan nada menantang yang melengking.

"Itu salahmu sendiri! Lagipula itu karena kamu sudah membosankan sebagai istri! Makanya Pak RT mendatangi tempatku semalam mencari hiburan!"

Lihat selengkapnya