Sunday

nuralitayu
Chapter #9

DUA GARIS DI LACI USANG

Rojannah melangkah masuk ke dalam rumah dengan sisa-sisa kepanikan yang masih mendera dadanya. Di ruang tengah, ia mendapati Dedi dan Agus sedang duduk santai. Mengambil napas dalam-dalam, Rojannah langsung memasang wajah gusar yang dibuat-buat, bersiap memutarbalikkan fakta demi menyelamatkan dirinya sendiri.

"Dedi, Agus! Cepat bereskan barang-barang kalian sekarang!" seru Rojannah setengah berteriak, memecah keheningan rumah.

Dedi dan Agus serentak menoleh dengan dahi berkerut dalam. "Ada apa ini, Mbak? Baru juga pulang merantau, belum sempat istirahat, kok tiba-tiba disuruh beres-beres?" protes Dedi dengan nada malas.

Agus ikut menimpali dengan tatapan tidak suka.

"Iya. Lagipula Sunday kan masih sakit di kamarnya. Kenapa mendadak sekali?"

Rojannah mendengus, lalu berkacak pinggang.

"Pemilik kontrakan ini tiba-tiba datang memotong jalanku tadi! Dia bilang, rumah ini mau dipakai buat saudaranya lusa! Kita diusir secara halus! Makanya, aku minta kalian berdua pergi dulu sementara waktu malam ini atau besok ke rumah kawan kalian. Kalian kan sering kerja serabutan, pasti punya banyak kawan di luar sana!"

"Lho, kalau rumah ini dipakai, terus Ibu sama Sunday mau ke mana?" tanya Agus menuntut, matanya menyipit penuh selidik.

"Ibu punya kerabat di kecamatan sebelah. Untuk sementara, aku dan Sunday akan tinggal di sana dulu. Kami berdua akan pergi duluan besok siang. Kalian berdua minimal besok malam harus sudah tidak ada di rumah ini karena kontrakannya mau dikosongkan. Nanti, kalau kerabatku itu mengizinkan, baru aku akan jemput kalian untuk ikut tinggal bersama," kilat Rojannah berbohong.

Agus mendengus sinis.

"Halah, kerabat Ibu yang mana? Mereka semua kan tidak pernah suka padaku."

Sementara itu, Dedi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tampak bingung.

"Mbak... kerabat yang mana maksudmu? Aku ini adik kandungmu, tapi kok rasanya aku tidak tahu ada kerabat kita di kecamatan sebelah?"

Rojannah yang kepalanya sudah mau pecah langsung membentak keras, memotong kecurigaan Dedi.

"Sudah! Tidak usah banyak tanya! Turuti saja kata-kataku! Kalian mau kita semua telantar di jalanan, hah?!"

Dedi dan Agus saling berpandangan. Karena tidak punya modal uang dan pilihan lain, mereka akhirnya terpaksa mengangguk mengiyakan. Namun, sebelum beranjak, Agus melangkah mendekati Rojannah. Ia menatap ibu sambungnya itu dengan pandangan dingin yang menusuk.

"Ibu tahu sendiri, kan... apa akibatnya kalau sampai Ibu berani meninggalkan kami?" ancam Agus dengan suara rendah yang mengintimidasi.

Rojannah menelan ludah, mencoba menahan getaran di suaranya.

"Iya, Ibu tahu. Memangnya kapan Ibu pernah meninggalkanmu, Agus? Bahkan setelah semua kekacauan yang terjadi dulu, Ibu masih selalu menerimamu di rumah ini."

Mendengar itu, seulas senyum yang agak sedikit mengerikan terbit di bibir Agus.

"Nah, itu baru Ibuku," ujarnya puas. Ia lalu menoleh ke arah pamannya.

"Ya sudah, Ded. Besok kita pergi saja ke rumah Jordi, salah satu teman kerja kerja kita waktu di proyek dulu."

Dedi membelalakkan mata.

"Jordi? Jordi yang itu?"

Agus mengangguk dingin.

"Iya, Jordi yang itu."

Selagi Dedi dan Agus sibuk berbincang dan merencanakan kepindahan mereka ke rumah Jordi, Rojannah perlahan mundur. Ia merogoh kantong pakaiannya, meraih ponsel, lalu melangkah ke sudut ruangan yang agak sepi untuk menelepon seseorang.

Panggilan tersambung. Di seberang sana, terdengar suara berat seorang pria yang mengangkat teleponnya. Lelaki itu bernama Bram, seorang kenalan lama yang sudah lama tidak ia hubungi.

"Halo? Ada apa, Jannah? Tumben sekali kamu menghubungiku. Apa... kamu sedang merindukanku?" tanya Bram di seberang sana dengan nada menggoda. Rojannah tidak ingin membuang waktu dengan basa-basi yang tidak penting.

"Aku butuh bantuanmu, Bram. Sediakan sebuah tempat tinggal untukku dan putriku di kecamatan sebelah, tempat kamu tinggal sekarang. Kami harus pindah besok."

Mendengar permintaan yang terkesan menuntut itu, lelaki di seberang telepon terdengar tertawa kecil.

"Hahaha... kamu ini memang masih belum berubah ya, Jannah. Selalu datang kalau ada maunya saja."

"Kamu bisa mengabulkannya atau tidak?" desak Rojannah dengan napas memburu. Bram terdiam sejenak sebelum akhirnya mengiyakan dengan nada suara yang melunak.

"Tentu saja bisa. Lagipula, aku juga merindukanmu, Jannah."

Rojannah akhirnya bisa mengembuskan napas lega yang sempat tertahan di dadanya.

"Bagus. Aku akan pindah ke kecamatanmu mulai besok siang. Kamu harus menyiapkan segalanya."

"Tunggu dulu, Jannah," potong Bram, tawanya kembali terdengar pelan namun sarat akan maksud terselubung.

"Kamu tentu tahu sendiri, kan, apa bayarannya jika aku menyediakan semuanya sesuai dengan kemauanmu?"

Rojannah memejamkan mata rapat-rapat, mengepalkan tangannya.

"Iya, aku tahu. Aku akan kembali kepadamu... seperti dulu."

Bram di seberang sana kembali tertawa puas, dan tak lama kemudian panggilan pun berakhir. Tawa Bram yang berderai itu rupanya terdengar hingga ke ruangan sebelah rumahnya. Pintu kamar kerjanya terbuka, dan sang istri melangkah masuk dengan dahi berkerut, menatap suaminya dengan heran.

"Ayah kenapa? Kok tertawa sendiri di dalam kamar?" Bram dengan cepat menghentikan tawanya. Ia berdeham, mengubah ekspresi wajahnya menjadi senormal mungkin.

"Ah, bukan apa-apa, Bu. Cuma ingatan lucu waktu kerja tadi."

Bram dengan cepat menghentikan tawanya. Ia berdeham, mengubah ekspresi wajahnya menjadi senormal mungkin.

"Ah, bukan apa-apa, Bu. Cuma ingatan lucu waktu kerja tadi."

Lihat selengkapnya