'Damar, ibuku membawaku pergi. Ia akan menghilangkan bayi ini.'
Kalimat pendek di layar ponsel itu membuat napas Damar seketika tercekat. Ia baru saja membaca pesan dari Sunday tersebut setelah selama berhari-hari ponselnya disita dan ditahan oleh sang ibu, Berlian, tepat sejak hari di mana mereka berdua didepak dari sekolah. Pagi itu Damar dengan nekat menyelinap ke kamar orang tuanya, mencuri kembali ponselnya yang disembunyikan di dalam laci, dan pesan dari Sunday itulah yang pertama kali muncul di bilah notifikasi. Pesan itu dikirim kemarin malam dengan tanda bahwa jam terkirim itu adalah kali terakhir bagi si pengirim pesan terlihat aktif dan menggunakan akunnya.
Alih-alih merasa takut atau bersalah karena telah melanggar perintah dengan mengambil kembali ponselnya, Damar justru langsung berlari setengah kesetanan menuju ruang tengah. Dengan wajah pucat pasi dan pancaran mata yang dipenuhi kepanikan luar biasa, ia menghampiri kedua orang tuanya, Pak Danu dan Bu Berlian, yang sedang duduk bersantai sambil menonton televisi.
"Papa, Mama! Tolong antar aku sekarang! Kita harus cari Sunday! Sunday butuh bantuan kita!" seru Damar dengan suara gemetar, napasnya memburu kelimpungan.
Pak Danu dan Bu Berlian yang terkejut melihat kedatangan putra mereka mendadak kebingungan.
"Damar, tenang dulu! Ada apa ini? Bicara yang benar, jangan berteriak-teriak seperti orang linglung!" tegur Pak Danu sambil meletakkan remot televisinya.
Sementara itu, Berlian langsung berdiri sambil berkacak pinggang saat menyadari benda yang ada di genggaman putranya.
"Damar! Berani-beraninya kamu menyelinap dan mengambil kembali ponselmu?! Mama kan sudah bilang..."
"Mama, tolong!" potong Damar dengan nada frustrasi yang amat sangat, memutus kalimat ibunya tanpa ragu.
"Aku perlu ponsel ini untuk menyelamatkan Sunday, Ma! Tolong dengarkan aku dulu!"
Pak Danu yang melihat kesungguhan dan ketakutan nyata di wajah putranya mulai ikut tegang. Ia menepuk bahu istrinya agar tenang, lalu menatap Damar.
"Memangnya Sunday kenapa, Damar? Apa yang terjadi?"
Tanpa banyak bicara, Damar langsung menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah kedua orang tuanya.
"Lihat ini, Pa, Ma! Sunday mengirim pesan ini sebelum ponselnya mati. Ini gawat! Kalau benar ibunya berniat melakukan sesuatu yang berbahaya untuk menghilangkan bayi di dalam perut Sunday, kita harus menolongnya sekarang juga! Nyawa mereka bisa terancam!"
Berlian membaca pesan singkat itu dengan dahi berkerut dalam. Namun, alih-alih ikut panik, keraguan dan rasa curiga yang sejak kemarin menumpuk di dadanya kembali mencuat.
"Tunggu dulu, Damar. Jangan langsung gegabah lagi. Mama takut... takut kalau ini semua cuma akal-akalan Sunday saja untuk menjebakmu lebih jauh lagi. Bagaimana kalau ini cuma taktik dia dan ibunya yang penjual kue itu supaya kita makin tersudut dan terpaksa menuruti kemauan mereka?"
"Enggak, Ma! Sunday bukan orang yang seperti itu!" tepis Damar dengan suara meninggi, menolak keras tuduhan ibunya.
"Sunday tidak pernah berbohong soal hal mengerikan seperti ini! Kita tidak punya waktu untuk berdebat lagi, Ma, Pa! Aku harus cepat menemui dan menyelamatkannya!"
Melihat kepanikan Damar yang sudah di ambang batas, hati Pak Danu akhirnya luluh oleh rasa khawatir yang sama. Sebagai seorang ayah, ia tidak bisa tinggal diam jika ada nyawa calon cucunya yang sedang dipertaruhkan.
"Ya sudah, Papa akan ikut menemui Sunday. Papa akan mendampingimu sekarang, kalau sampai terjadi apa-apa di sana kita bisa bertindak cepat," putus Pak Danu tegas sambil meraih kunci mobil di atas meja.
Saat ayah dan anak itu bergegas bersiap untuk pergi menuju pintu depan, Berlian yang awalnya penuh dengan pertimbangan dan kecurigaan mendadak terdiam. Dilema di hatinya runtuh seketika saat membayangkan pesan mengerikan di ponsel tadi. Dengan gerakan cepat, ia meraih hijab instan yang tergantung di dekat ruang tengah, memakainya dengan terburu-buru, lalu menyambar sandal jepit andalannya.
"Mama ikut!" seru Berlian, melangkah cepat menyusul suami dan anaknya. Pak Danu sempat menghentikan langkahnya di ambang pintu, menoleh lalu menggoda halus sang istri demi mencairkan ketegangan.
"Lho, bukankah Mama tadi masih meragukan dan mempertanyakan niat Sunday?"
Berlian mendengus kesal, namun wajahnya tidak dapat menyembunyikan gumpalan rasa khawatir yang kini tak kalah besar dari suami dan anaknya.
"Bagaimanapun juga... ada cucu kita di dalam kandungan anak gadis itu, Pa! Mama tidak mungkin membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya!" seru Berlian sambil meraih tangan suaminya menuju ke arah depan rumah, bersiap-siap untuk pergi mencari Sunday.
Namun, tepat saat mereka bertiga baru saja membuka pintu depan dan bersiap melangkah keluar rumah untuk memulai pencarian, langkah mereka serentak terhenti karena terkejut. Di depan pagar halaman rumah mereka, sosok Bu Anika, sang mantan wali kelas Damar dan Sunday sudah nampak berdiri di sana dengan napas terengah-engah seakan juga ingin bertemu mereka.
"Bu Anika..." sahut Damar dengan wajah terkejut, menatap mantan wali kelasnya yang berdiri di ambang pintu halaman. Bu Anika nampaknya memiliki sesuatu yang sangat penting untuk dikatakan atau justru ingin ia tanyakan pagi itu. Namun, sebelum kata-kata sempat meluncur dari bibir guru itu, Bu Berlian dengan gerakan cepat langsung maju dan menggandeng erat tangan Bu Anika, menariknya ikut masuk ke dalam barisan langkah mereka.
Bu Anika yang ditarik begitu saja menjadi kebingungan, menahan langkahnya sejenak sambil bertanya dengan nada panik, "Tunggu dulu, Bu Berlian... Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa semuanya nampak terburu-buru dan panik begini? Memangnya kalian semua mau ke mana?"
Berlian menoleh, menatap Bu Anika dengan sepasang mata yang dipenuhi kecemasan seorang ibu sekaligus seorang nenek. "Kita semua mau mencari Sunday sekarang, Bu Anika! Kami harus menyelamatkan bayi yang ada di dalam perut Sunday... cucu dari keluarga kami!" jawab Berlian dengan suara bergetar.
Mendengar penuturan jujur yang begitu mendadak itu, Bu Anika tersentak hebat di tempatnya berdiri. Rasa terkejut yang tidak kalah besar seketika menghantam dadanya.
Tanpa perlu banyak penjelasan lagi, Bu Anika mengangguk tegas. Rasa ragunya luruh seketika, dan ia mau tidak mau langsung memantapkan langkah untuk ikut bersama mereka sekeluarga, bergegas masuk ke dalam mobil milik Bu Berlian sementara Damar sudah pergi duluan bersama Pak Danu dengan tergesa-gesa demi mencari keberadaan Sunday Pelita sebelum semuanya terlambat.
***
"Ponsel..." tagih Rojannah dengan tangan gempal yang menengadah, memaksa Sunday untuk memberikan benda pipih itu sebelum mereka pergi ke suatu tempat.
Sunday merasa tidak memiliki pilihan lagi. Dengan tubuh yang lemas karena kehamilan yang kian membebani fisiknya, ia mau tidak mau menyerahkan ponselnya ke tangan sang ibu. Di balik layar kusam tersebut, Rojannah langsung mendapati deretan notifikasi berupa puluhan panggilan tidak terjawab dari Agus dan Damar.