Sunday

nuralitayu
Chapter #11

EFEK RUMAH KACA

Sunday tidak tahu sejak kapan jiwanya terasa kosong dan hampa. Entah itu saat ayah kandungnya, satu-satunya pelindung yang ia miliki meninggal dunia secara mendadak. Entah saat ia harus menjadi korban pelecehan keji yang merenggut kesuciannya di Jalan Seroja. Atau, sejak bayi pertamanya direnggut dari dekapannya, lalu dijual dengan paksa oleh ibunya sendiri seharga sepuluh juta rupiah.

Kehilangan demi kehilangan itu perlahan membunuh jati diri Sunday. Di mata dunia, ia adalah Sunday Pelita, si murid pintar, gadis berprestasi, dan mutiara kelas dan juga sekolah yang selalu bersinar cemerlang. Namun, semua branding mengagumkan itu sebenarnya hanyalah sebuah topeng tebal yang melekat di wajahnya. Di balik senyum santun dan deretan nilai sempurnanya, gadis belia itu sebenarnya sudah sangat rapuh, babak belur, dan terjerumus ke dalam jurang depresi yang teramat dalam.

Sunday hidup seperti sebuah robot indah. Ia bergerak, belajar, dan meraih prestasi hanya karena tuntutan obsesif ibunya. Baginya, setiap piagam dan piala yang ia bawa pulang terasa hampa dan tidak bermakna. Langkah kakinya hanya menuruti program yang dirancang Rojannah untuk meraih kesuksesan semu di masa depan. Banyak anak lelaki di sekolah yang menaruh kagum pada dirinya. Mereka memandang Sunday sebagai sosok gadis ideal yang begitu bercahaya dan tanpa cela. Namun, setiap kali tatapan-tatapan kagum itu tertuju padanya, Sunday hanya bisa tersenyum getir di dalam hati. Jauh di lubuk batinnya, Sunday tahu kalau dirinya sudah cukup rusak untuk dikagumi. Ia sudah terlalu kotor untuk menjadi pujaan semua orang. Karena itulah, ia tidak pernah peduli pada surat cinta atau perhatian dari siapa pun. Gadis itu sudah cukup hancur sendirian, dan ia tidak punya waktu maupun tenaga untuk membagi kehancuran hidupnya dengan orang lain.

Sampai akhirnya, sepasang matanya menyadari kehadiran seorang anak laki-laki di kelasnya yang bernama Damar.

Damar adalah antitesis dari dirinya. Seorang anak berandalan, malas, hobi membuat keributan, dan jarang sekali masuk sekolah. Mereka berada di dunia yang sepenuhnya berbeda. Namun, tanpa pernah disangka oleh siapa pun, anak berandalan yang kerap dicap sebagai sampah sekolah itu secara tidak langsung pernah menggagalkan rencana bunuh diri Sunday.

Ya, Sunday sudah beberapa kali bermaksud menghilangkan nyawanya sendiri untuk menyudahi penderitaan ini. Keputusasaan yang mencekik bahkan membuatnya senekat itu untuk mencoba mati di area sekolah. Siang itu, saat jam istirahat kedua ketika seluruh koridor sepi, Sunday berdiri di balkon lantai atas gedung sekolah yang kosong. Kepalanya terasa pening, jiwanya sudah menyerah, dan ia sudah bersiap untuk melompat bebas ke bawah demi mengakhiri segalanya.

Namun, tepat sebelum Sunday menjatuhkan tubuhnya, sebuah pergerakan kecil terjadi. Damar, yang siang itu sedang membolos di balik pilar lantai bawah untuk merokok diam-diam, tiba-tiba melempar kaleng minuman kosongnya ke arah tong sampah dengan tendangan keras hingga menimbulkan suara dentangan yang nyaring memecah kesunyian. Tak hanya itu, Damar sempat berteriak memaki korek apinya yang mogok, sebelum akhirnya melangkah pergi dengan menghentakkan kaki.

Damar tahu ada siluet seseorang yang berdiri di atas balkon, dan ia menyadari ada suasana yang tidak beres di atas sana. Tindakan kasarnya yang sengaja membuat keributan di bawah lantai balkon itu sebenarnya bertujuan untuk merusak keheningan si calon pelaku bunuh diri. Namun, Damar sama sekali tidak tahu bahwa sosok yang berada di atas sana adalah Sunday Pelita.

Pergerakan kecil dari Damar siang itu berhasil mengejutkan Sunday, memecah fokus kegelapannya, dan seketika membatalkan niatnya untuk mengakhiri hidup hari itu. Damar melangkah pergi begitu saja tanpa pernah menoleh lagi, menganggapnya angin lalu. Tidak ada satu orang pun di sekolah yang tahu tentang insiden siang itu. Hanya Sunday, dan hanya dia sendirian, yang tahu bahwa detak jantungnya hari ini bisa berlanjut berkat sebungkus rokok dan kaleng kosong seorang Damar.

Saat itu... penyelamatan itu memang hanya sebatas itu. Damar berlalu tanpa pernah tahu, meninggalkan Sunday yang kembali merayap di dalam kegelapannya sendiri. Namun, beban mental Sunday justru semakin bertambah dan menghimpit dada begitu Dedi dan Agus kembali ke dalam hidupnya, memutuskan untuk tinggal bersama mereka di satu atap yang sama.

Agus, kakak angkat tirinya itu, terasa semakin posesif dan perilakunya kian meresahkan dari hari ke hari. Sunday sendiri sulit memahami sejak kapan Agus mulai menunjukkan obsesi yang begitu besar. Namun, satu hal yang pasti, setelah Sunday tumbuh menjadi remaja sekolah menengah, sikap Agus berubah menjadi semakin menekan dan mengintimidasi. Keinginan Agus untuk menguasai hidup Sunday di masa depan disampaikan secara terbuka, sebuah tuntutan yang bagi Sunday sangat tidak masuk akal dan menyesakkan.

Dan parahnya, Rojannah justru memberikan restu secara tersirat.Entah karena rasa takut yang mendalam atau ketidakpedulian yang nyata terhadap nasib anak perempuannya, Sunday merasa ibunya benar-benar tidak bisa diandalkan. Melihat ibunya membiarkan tuntutan Agus begitu saja, Sunday menyadari kenyataan pahit. Memangnya sejak kapan ibunya itu benar-benar hadir untuk melindunginya?

Jika saja Rojannah adalah sosok ibu yang sigap, maka trauma masa lalu pada Jalan Seroja tidak akan pernah membekas sedalam ini. Kejadian kelam itu tidak seharusnya dialami oleh remaja di bawah umur seperti dirinya. Kini, Sunday merasa seolah sejarah kelam itu sedang bersiap untuk terulang kembali dalam bentuk yang berbeda.

Bahaya tidak hanya datang dari satu sisi. Sosok Dedi juga menjadi ancaman nyata di rumah itu. Sunday berkali-kali merasakan tatapan yang tidak pantas dan kehadiran yang mengancam dari paman kandungnya sendiri. Pernah suatu malam, keamanan ruang pribadinya dilanggar, membuat Sunday harus bertindak cepat menggunakan kecerdasannya untuk bertahan. Melalui gertakan dan ancaman balik, Sunday berhasil membuat pria itu mundur sementara waktu. Namun, rasa tidak aman itu tetap menghantui setiap sudut rumah.

Rojannah sebenarnya menyadari ketegangan dan bahaya yang mengintai di bawah atap mereka. Namun, ia memilih untuk diam dan melakukan pembiaran. Ia membiarkan Sunday hidup dalam kecemasan, terjepit di antara dua sosok yang mengancam keselamatannya. Sunday merasa benar-benar sendirian, menyadari bahwa rumah yang seharusnya menjadi perlindungan justru menjadi tempat yang paling berbahaya baginya. Keadaan inilah yang akhirnya memicu Sunday untuk memikirkan cara ekstrem demi melepaskan diri dari lingkaran penderitaan tersebut hingga nekat beberapa kali ingin menghilangkan nyawanya sendiri.

Sampai akhirnya... keinginan Sunday untuk hidup hadir kembali.

Ketika Sunday menemani Bu Anika melangkah menyusuri sebuah komplek perumahan mewah. Tugas mereka sederhana, hanya cukup mengantarkan rapor milik teman sekelasnya, Damar, yang sudah berhari-hari bolos sekolah dan memiliki masalah ketuntasan nilai. Namun, begitu langkah kaki mereka berhenti tepat di depan gerbang sebuah bangunan megah, seluruh dunia Sunday seolah runtuh dan berputar balik begitu saja.

Sunday benar-benar dibuat terkejut saat melihat bangunan itu kembali. Sepasang matanya membelalak, tubuhnya membeku seketika di tempat ia berdiri. Ia dibuat terhenyak, tertegun, sekaligus terkesima saat melihat rumah kediaman Damar... yang sekaligus adalah rumah lama miliknya sendiri.

Itu adalah rumah ayah kandungnya. Rumah masa kecilnya yang paling berharga.

Kenangan yang selama ini ia kubur dalam-dalam mendadak meledak keluar memenuhi isi kepalanya. Saat hidup bersama mendiang ayahnya yang membesarkannya dengan penuh ketulusan, Sunday pernah menghabiskan waktu kurang lebih delapan tahun di dalam rumah berpagar tinggi itu. Dulu, mereka hanya tinggal berdua saja. Hanya Sunday kecil dan ayahnya. Meski tanpa sosok ibu, Sunday tidak pernah merasa kesepian sedikit pun, karena sang ayah selalu ada untuknya, menjaganya, dan menemaninya.

Hari Minggu adalah hari yang paling disukainya sepanjang minggu. Pada hari itu, ayahnya libur bekerja dan akan mendedikasikan seluruh waktunya untuk menemani Sunday seharian penuh di rumah. Mereka akan menghabiskan waktu dengan bermain kejar-kejaran, mewarnai gambar bersama di ruang tengah, atau sekadar menonton acara televisi dan kartun yang hanya spesial tayang di hari Minggu. Karena memori indah itulah, Sunday tidak pernah benar-benar membenci namanya dan hari Minggu. Meski Rojannah memberinya nama Sunday dengan asal-asalan, bagi Sunday hari Minggu adalah hari suci. Hari kelahirannya, sekaligus hari di mana ia bisa bermanja-manja dengan bebas di dalam pelukan hangat ayahnya yang sangat ia sayangi melebihi apa pun di dunia ini.

Namun, semua kehangatan itu berubah menjadi kelabu yang pekat begitu ayahnya meninggal dunia secara tiba-tiba akibat serangan jantung. Di tengah isak tangis Sunday yang mendadak yatim piatu, pihak keluarga besar ayahnya mendadak bingung dan panik. Mereka saling melempar tanya tentang bagaimana nasib Sunday yang kini sebatang kara, dan siapa di antara mereka yang bersedia merawat anak malang itu. Di saat genting itulah, Rojannah tiba-tiba kembali hadir. Wanita itu pulang setelah bertahun-tahun lamanya menghilang entah ke mana, menelantarkan anak kandungnya sendiri. Rojannah datang dengan topeng barunya sebagai seorang ibu kandung yang penuh kasih, membungkam seluruh keresahan pihak keluarga ayah Sunday yang sibuk berdebat.

Hubungan Rojannah dengan keluarga pihak suaminya memang sejak dulu tidak pernah baik, sehingga ketegangan yang amat pekat langsung tercipta di ruang duka malam itu. Rojannah ingin membungkam keluarga suaminya dengan cara mengambil paksa hak asuh Sunday. Di sisi lain, pihak keluarga suaminya sama sekali tidak percaya Rojannah bisa menjaga Sunday dengan benar. Namun karena keterbatasan dan kesibukan, tidak ada satu pun dari kerabat ayahnya yang sanggup merawat Sunday sepenuhnya. Ujung-ujungnya, di atas kertas hukum, hak asuh Sunday jatuh telak di tangan Rojannah sebagai satu-satunya ibu kandung yang masih hidup.

Tanpa membuang waktu, Rojannah langsung membawa Sunday keluar dari rumah itu. Rumah ayahnya yang sudah menyimpan jutaan kenangan manis bagi masa kecil Sunday. Sunday kecil menangis histeris, ia memberontak dan memegangi tiang pintu karena sebenarnya sama sekali tidak ingin pergi dari sana. Itu adalah rumahnya. Hanya rumah itu yang memiliki aroma khas parfum dan tembakau ayahnya yang menenangkan.

Namun, Rojannah mencengkeram lengannya dengan kasar, menatapnya dengan mata melotot kejam.

"Kalau kamu tidak mau mendengar kata-kata Ibu, Ibu akan membawamu ke jalanan! Biar kamu jadi peminta-minta di sana!" ancam Rojannah malam itu.

Lihat selengkapnya