Hanya ada dua kemungkinan dari rencana gila Sunday, berhasil atau tidak.
Kesadaran Sunday masih terapung-apung dalam kepasrahan yang pekat saat roda mobil terus berputar menembus jalanan malam yang kian terpencil. Dalam kondisi tubuh yang lemas dan pusing yang mendera akibat efek obat yang samar, ia tahu persis ke mana mobil ini akan membawanya.
Tempat pengguguran anak.
Sunday tidak tahu apakah sosok yang menanti mereka di ujung sana adalah seorang dukun, dokter ilegal, atau entah siapa. Yang jelas, Rojannah dan Bram di kursi depan nampak sudah merencanakan semuanya dengan matang. Mereka ingin menghilangkan bayi itu dari dalam rahim Sunday, mengubur bukti 'kesalahan' tersebut, lalu melanjutkan rencana ambisius Rojannah sendiri. Sebuah rencana pelarian yang mungkin di mata orang awam terdengar sangat bagus untuk memulihkan masa depannya, tapi untuk Sunday sendiri, itu adalah gerbang yang akan membawanya kembali ke dalam pusaran kesengsaraan yang tidak ada ujungnya.
Saat Sunday menatap lemas ke luar jendela kaca, memandangi deretan pepohonan yang tersapu lampu jalan, hatinya sudah sepenuhnya pasrah.
'Mungkin ini adalah akhirnya,' batin Sunday dalam hati.
Mungkin segala sesuatu tidak melulu berjalan sesuai dengan kalkulasi dan perhitungannya yang cerdas. Mungkin Tuhan sedang menghukumnya karena ia berani melakukan hal senekat dan segila ini, memanfaatkan sebuah nyawa demi ego pelariannya. Mungkin segala kenekatan yang ia bangun sejauh ini memang ditakdirkan berbuah kegagalan.
Namun, tepat di saat Sunday sudah pasrah akan hidupnya dan bersiap memejamkan mata, sebuah kebisingan mendadak memecah kesunyian malam dari arah belakang kendaraan. Suara raungan mesin motor yang dipacu ugal-ugalan terdengar memburu, disusul suara teriakan lantang yang sangat familier di telinganya. Sunday bersusah payah membalikkan tubuhnya yang kaku, menempelkan wajahnya yang pucat ke kaca belakang mobil. Di sana, di bawah sorot lampu jalan yang sepi, Sunday menemukan Damar. Remaja itu sedang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi bersama ayahnya, Pak Danu, yang mencengkeram bahu sang putra erat-rabat. Dan tepat di belakang motor mereka, sebuah mobil minibus melaju kencang membuntuti mereka. Di dalamnya ada Bu Berlian yang memegang kemudi bersama Bu Anika di kursi penumpang. Mereka semua meneriaki mobil Bram, dan di atas segalanya, Damar-lah yang terus meneriakkan nama Sunday tanpa henti seolah membelah jalan.
Sunday terkesiap, jantungnya mendadak berdegup kencang bagai genderang perang.
Mungkin ini bukan akhirnya.
Sebuah senyum tipis yang sarat akan kelegaan muncul di sudut bibirnya yang kering. Sunday menyadari satu hal, ia masih membawa sebuah ponsel lain yang tersembunyi aman di balik pakaian dalamnya. Itu adalah ponsel cadangan pemberian Damar yang tidak pernah diketahui oleh Rojannah saat ibunya itu merampas ponsel utamanya. Ponsel kecil itu sengaja disetel untuk selalu terhubung secara otomatis dengan fitur berbagi lokasi langsung (share live location) ke ponsel utama milik Damar. Berkat koordinat GPS tersembunyi itulah, Damar bisa melacak dengan akurat dan tahu persis di mana keberadaan Sunday sekarang.
"Bram! Cepat jalan lebih mengebut lagi! Anak sialan itu mengejar kita!" jerit Rojannah panik dari kursi depan saat melihat spion, wajah tambunnya seketika pucat melihat rombongan keluarga Damar.
Bram mengumpat kasar, langsung menginjak pedal gas dalam-dalam untuk membuat mobil minibus itu melesat melarikan diri. Namun, Damar tidak berniat memberikan celah sedikit pun. Menggunakan kemampuan berkendara ugal-ugalan yang biasa ia lakukan saat membolos sekolah, Damar memutar gas motornya hingga maksimal. Dengan manuver yang teramat nekat, ia melesat menyalip mobil Bram, lalu membanting setir tajam tepat di depan moncong kendaraan tersebut, mencegat pergerakan mereka secara paksa dari arah depan.
CKIIIITTTT!
Bram menginjak rem dengan histeris hingga ban mobil berdecit keras di atas aspal. Belum sempat Bram memindahkan gigi mundur untuk kabur, mobil yang dikendarai Bu Berlian dan Bu Anika sudah melaju cepat dan langsung mengambil posisi menutup jalan di bagian belakang mobil mereka. Kendaraan Bram dan Rojannah kini benar-benar terjepit di tengah-tengah jalan terpencil itu. Mereka merasa dikepung dari dua arah dan tidak bisa berkutik lagi di tempat.
Di tengah jalanan terpencil yang mulai sepi dan gelap, kekacauan hebat pecah dalam sekejap. Pintu mobil minibus terbuka kasar, dan Rojannah turun dengan wajah merah padam, langsung mencak-mencak menumpahkan amarahnya.
"Kurang ajar! Mau apa kalian semua, hah?! Berani-beraninya menguntit dan mengepung mobil orang malam-malam begini!" jerit Rojannah histeris, menudingkan telunjuk gempalnya tepat ke arah Damar dan rombongannya.
"Cukup, Tante!" balas Damar, suaranya menggelegar memutus makian Rojannah. Tatapan matanya tajam dan menghunus penuh kemarahan.
"Jangan kira aku tidak tahu rencana busuk Tante! Aku tahu Tante mau membawa Sunday ke tempat pengguguran anak! Tante mau membunuh anakku dan mencelakai Sunday!"
Aksi saling dorong dan adu mulut sempat berjalan alot di bawah temaram lampu jalan yang sepinya bukan main. Rojannah yang panik langsung berdiri di depan pintu penumpang, menghadang dengan seluruh berat tubuh tambunnya agar Damar dan keluarganya tidak bisa menerobos masuk ke dalam mobil.
Melihat situasi yang kian mendesak, Bram melangkah maju hendak membantu Rojannah menghalau mereka. Namun, Bram salah menilai lawan. Dengan tabiat berandalannya yang sudah terbiasa dengan perkelahian jalanan, Damar bergerak dengan sangat sigap. Hanya dengan beberapa gerakan cepat dan hantaman keras, ia langsung melumpuhkan Bram hingga Ketua RT itu tersungkur tak berdaya di atas aspal.
"Penculik! Kurang ajar! Aku akan laporkan kalian semua ke polisi! Kalian semua akan membusuk di penjara!" teriak Rojannah histeris saat barikadanya jebol. Damar sama sekali tidak peduli akan ancaman itu. Dengan gerakan cepat, ia menarik gagang pintu belakang mobil, membukanya lebar-lebar, lalu merengkuh tubuh Sunday. Gadis itu nampak teramat lemah, namun kesadarannya perlahan sudah kembali penuh akibat guncangan situasi. Damar mengangkatnya, menggendong tubuh lunglai Sunday dengan penuh kehati-hatian agar bisa keluar dari mobil jahanam itu.
Melihat aset berharganya hendak dibawa pergi, Rojannah menjerit semakin kencang.