Satu tahun kemudian.
Satu tahun berlalu dengan begitu cepat, membawa perubahan besar yang menjungkirbalikkan takdir kelam masa lalu. Siang itu, di sebuah kafe kecil yang tenang dekat pusat kota, Sunday kembali bertemu dengan Bu Anika.
Suasana pertemuan mereka terasa begitu hangat. Di atas meja, beberapa lembar dokumen penting telah rapi tertata. Bu Anika, dengan ketulusan yang tidak pernah luntur, rupanya telah menguruskan seluruh berkas administrasi agar Sunday dan Damar dapat mengikuti ujian kesetaraan Paket C. Melalui jalur ini, pintu masa depan kembali terbuka lebar. Mereka berdua kini bersiap untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi bersama-sama.
Satu tahun ini telah mengubah segalanya. Kehidupan Sunday dan Damar berjalan dengan begitu harmonis dan penuh cinta. Beberapa bulan setelah malam penyelamatan itu, Sunday akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat lucu dan sehat. Sunday tidak ingin mengulangi kesalahan ibunya yang memberikan nama asal-asalan. Anak ini adalah bagian dari hidupnya, maka ia menyematkan nama yang mengandung makna mendalam dan indah, Arka Pelita Mahesa. Nama Arka berarti surya atau matahari yang menerangi, sebuah simbol bahwa kehadiran bayi kecil ini telah menghalau kegelapan dan membawa cahaya baru ke dalam hidupnya, melengkapi nama Pelita yang kini bermakna sebagai lentera penuntun, bukan lagi sekadar nama rumah sakit belaka.
Tak lama setelah Arka lahir, Sunday dan Damar meresmikan hubungan mereka dalam sebuah ikatan pernikahan yang sah. Sebagai hadiah pernikahan yang tak ternilai harganya, Pak Danu dan Bu Berlian memberikan rumah itu sepenuhnya menjadi milik Damar dan Sunday. Hadiah itu bukan sekadar formalitas materi, melainkan sebuah simbol pengakuan hubungan mereka, sekaligus cara mertuanya untuk mengembalikan hak milik Sunday yang sempat terenggut dulu. Pak Danu dan Bu Berlian benar-benar menjelma menjadi mertua idaman setiap orang. Mereka memperlakukan Sunday layaknya putri kandung sendiri, dan sangat menyayangi Arka melebihi apa pun di dunia ini.
Damar pun tumbuh menjadi sosok suami yang luar biasa pekerja keras. Setelah menikah, ia menolak untuk langsung duduk manis di jabatan tinggi. Remaja itu memilih turun langsung ke lapangan, belajar dari nol sebagai pekerja paling awal di bisnis perkebunan milik ayahnya untuk memahami setiap proses dengan benar. Meski sibuk bekerja fisik, Damar tetap memiliki tekad kuat untuk melanjutkan pendidikan. Apalagi Sunday, istrinya yang cerdas itu, tidak pernah lelah menyemangati dan mendorongnya untuk terus memperbarui kualitas diri.
Mereka memang masih sangat muda saat menikah. Menjadi pasangan suami istri di usia remaja dan langsung memikul tanggung jawab sebagai orang tua tentu membuat banyak orang di luar sana menyayangkan keputusan mereka. Banyak yang mencibir dan berpikir bahwa jalur ekstrem yang mereka tempuh adalah sebuah kesalahan besar. Namun, bagi Sunday dan Damar, apa yang mereka miliki hari ini, kehangatan rumah, pelukan Arka, dan dukungan keluarga adalah sebuah karunia yang tiada tara di dalam hidup mereka.
Bu Anika menatap Sunday yang kini tampak jauh lebih segar dan bahagia. Guru wanita itu menggelengkan kepala pelan dengan senyum tipis. Antara ingin memuji kecerdasan Sunday atau marah pada jalan hidup ekstrem yang dipilih muridnya itu, Bu Anika memilih untuk berdamai. Pada akhirnya, tidak dapat dipungkiri bahwa ia turut bersyukur melihat akhir yang indah ini.
"Sunday..." Bu Anika menyesap tehnya sebentar, menatap murid kesayangannya dengan lembut.
"Apa... Bu Rojannah tidak pernah menemuimu lagi setelah kejadian waktu itu?"
Sunday menggelengkan kepalanya dengan tenang.
"Tidak, Bu. Saya tidak pernah bertemu dengan Ibu lagi sejak malam itu. Beliau benar-benar menghilang entah ke mana. Saya sempat mendengar kabar burung kalau Ibu pindah ke kota sebelah dan sudah menikah lagi dengan pria lain, tapi hanya sebatas itu. Saya tidak ingin mencari tahu lebih jauh."