Jendela tua itu terlihat lebih menarik dari seberang jalan.
Mentari mundur dua langkah, lalu mengangkat kameranya lagi. Pantulan gedung baru memenuhi sebagian kaca, menimpa kusen kayu yang catnya sudah mengelupas. Ia menurunkan kamera.
Belum.
Seorang mahasiswa lewat di depannya. Mentari menunggu sampai laki-laki itu menjauh, bergeser sedikit ke kanan, lalu mencoba sekali lagi.
Klik.
Foto keenam.
Kali ini ia diam lebih lama di depan layar.
“Dapet nggak?”
Mentari mengangguk.
Fajar, yang sejak tadi duduk di pembatas trotoar, bangkit sambil menepuk bagian belakang celananya. Kamera menggantung di depan dada dengan tutup lensa masih terpasang.
“Kamu dari tadi nggak motret?”
“Udah.”
“Berapa?”
Fajar memeriksa kameranya. “Dua puluh tiga.”
Mentari menatapnya.
“Apa?” Fajar menyipitkan matanya.
“Nggak apa-apa.”
Mentari memasukkan kameranya ke dalam tas.
Mereka sudah hampir satu jam berkeliling kawasan lama Bumimaya untuk tugas fotografi minggu itu. Fajar memotret apa saja yang menarik perhatiannya—orang menyeberang, penjual buah, sepeda tua yang disandarkan di depan toko. Mentari bahkan belum sampai dua puluh foto.
Di ujung jalan, seorang pemilik toko mulai mengangkat barang dagangannya dari trotoar. Mentari mendongak. Langit yang tadi masih menyisakan sedikit biru sudah tertutup awan. Angin menggerakkan papan nama toko hingga beradu pelan dengan besi penyangganya.
Ia mengeluarkan ponsel.
16:34.
Ikon awan memenuhi layar aplikasi cuaca. Hujan diperkirakan mulai pukul lima.
“Aku pulang dulu.”
Fajar ikut melihat langit. “Wah, mendung.”
“Makanya. Aku harus pulang sekarang.”
“Tapi masih ada satu lokasi lagi.”
“Besok aja.”
Fajar tidak membantah. Ia membuka tas, memasukkan kamera, lalu mengeluarkan botol air yang tinggal separuh.
“Mau dianter?”
“Nggak usah. Kamu beda arah.”
“Aku bisa muter.”
Mentari menggeleng.
Fajar memasukkan kembali botolnya. “Ya udah.”
Mereka berjalan bersama sampai persimpangan. Halte berada sekitar seratus meter di sebelah kiri, sedangkan parkiran motor tempat Fajar menitipkan motornya ada di arah sebaliknya.
“Kirim file yang tadi, ya.” Fajar membetulkan tali tas di bahunya.
“Nanti malam.”
“Asal jangan jam dua pagi.”
Mentari menoleh. “Memangnya pernah?”
“Pernah.”
“Kapan?”
Fajar hanya terkekeh sambil berjalan mundur.
Mentari mengibaskan tangan, menyuruhnya pergi. Fajar akhirnya berbalik menuju parkiran, sementara ia melanjutkan langkah ke halte.
Begitu mendapat tempat duduk di dalam angkot, Mentari mengecek jam sekali lagi.
16:43.
Masih tujuh belas menit.
(*)
Hujan turun pukul 16:51.
Delapan menit lebih cepat.
Mentari menatap angka di layar beberapa saat sebelum memasukkan ponselnya kembali ke tas.
Awalnya hanya titik-titik kecil di kaca angkot. Tidak sampai semenit, bunyinya mulai memenuhi atap kendaraan. Penumpang di sebelah Mentari buru-buru menutup jendela, tetapi bau aspal basah telanjur masuk bersama angin.
Mentari menarik napas perlahan.