Sunlight Through the Rain

RA Senja
Chapter #2

Orang yang Menunggu Hujan

Mentari menatap foto itu lebih lama daripada yang seharusnya.

16:27.

Ia membuka informasi file sekali lagi. Tanggalnya benar. Lokasinya juga sama dengan foto-foto lain yang ia ambil sore tadi. Dua puluh empat menit sebelum hujan turun.

Mentari kembali ke deretan enam foto jendela.

Foto pertama kosong. Foto kedua tertutup sebagian oleh seorang mahasiswa yang lewat. Laki-laki berkemeja putih itu baru muncul di foto ketiga, berdiri di seberang jalan dengan wajah menghadap tepat ke arah kamera.

Di foto keempat, ia sudah tidak ada.

Begitu juga foto kelima dan keenam.

Mentari kembali ke foto ketiga dan memperbesarnya sampai gambar mulai pecah. Kemeja putih. Celana gelap. Wajah yang semakin kehilangan bentuk setiap kali diperbesar.

Mungkin orang yang berbeda.

Bumimaya tidak kekurangan laki-laki berkemeja putih. Lagi pula, ia melihatnya dari seberang jalan, di tengah hujan deras, dengan pandangan yang bahkan tidak sepenuhnya jelas.

Masuk akal.

Seharusnya.

Kursor bergerak menuju ikon tempat sampah, lalu berhenti sebelum sempat diklik.

Mentari akhirnya memindahkan foto itu ke folder lain.

Setelahnya, ia menutup laptop.

Hujan masih turun di luar.

(*)

Pagi berikutnya, foto itu tetap ada.

Mentari tahu karena ia mengeceknya lagi sebelum berangkat kuliah. Hanya sebentar, sekadar memastikan semalam ia tidak terlalu lelah sampai membayangkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

Laki-laki itu masih di sana.

“Nggak sarapan?”

Suara Nenek Sri terdengar dari dapur.

Mentari menutup laptop. “Nggak sempat, Nek.”

“Nggak sempat atau bangunnya kesiangan?”

“Dua-duanya.” Mentari meringis sambil memasukkan charger ke dalam tas. 

Nenek muncul di ambang pintu sambil membawa pisau kecil dan setengah buah apel yang belum selesai dikupas.

“Tidur jam berapa semalam?”

“Nggak malam-malam banget.”

Nenek mendengus. “Matanya cekung begitu.”

Mentari hampir mengatakan sesuatu, lalu mengurungkannya. Foto semalam kembali terlintas sebentar.

Ia tersenyum kecil sambil meraih tas kamera. “Nanti aku tidur cepat.”

Sebelum ia sempat lewat, Nenek menyodorkan dua potong apel.

“Bawa. Buat di jalan.”

“Nek, aku—”

“Bawa.”

Mentari mengambilnya. Satu langsung masuk ke mulut.

“Aku berangkat, Nek.”

“Hati-hati.”

“Iya.”

Langit Bumimaya pagi itu bersih.

Tetap saja, sebelum keluar dari pagar, Mentari mengecek prakiraan cuaca.

(*)

“Ini miring.”

Mentari menggeser laptop ke arah Fajar.

Fajar yang sedang mengunyah tahu isi ikut mendekat. “Aku tahu.”

“Terus?”

“Aku suka.”

Mentari menoleh kepadanya. “Kamu suka horizon miring?”

“Aku suka fotonya.” Fajar menunjuk layar. “Kalau dilurusin, bagian kirinya kepotong.”

Mentari melihat lagi.

Benar juga.

Lihat selengkapnya