Sunlight Through the Rain

RA Senja
Chapter #3

Di Antara Orang-Orang

Mentari baru sadar ia menahan napas ketika dadanya mulai terasa sesak. Ia mundur sampai punggungnya hampir menyentuh dinding koridor.

Hujan sudah menutup sebagian lapangan. Air memukul paving, daun-daun flamboyan bergoyang di bawahnya, dan mahasiswa yang beberapa menit lalu masih berjalan santai mulai berlarian menuju gedung terdekat.

Laki-laki itu masih berdiri di tempat yang sama. Tidak bergerak, tidak basah.

Mentari mengusap telapak tangannya ke sisi celana. Ponsel masih berada di tangannya, menunjukkan pukul 16:22.

Ia bahkan tidak sempat melihat jam ketika gerimis tadi berubah menjadi hujan deras.

Ia memasukkan ponsel ke dalam tas. Tidak ada gunanya menghitung lagi. Hujan sudah telanjur turun.

Tempias mulai mencapai lantai di dekat sepatunya. Mentari bergeser lebih dalam ke koridor, lalu mendongak.

Laki-laki itu sedang melihatnya.

Tatapan mereka bertemu cukup lama sampai Mentari akhirnya sedikit meninggikan suara.

“Kamu nggak kehujanan?”

Laki-laki itu menunduk sebentar, seolah baru memikirkan tubuhnya sendiri.

“Tidak.”

“Kok bisa?”

Ia kembali menatap Mentari. “Karena hujan tidak membasahiku.”

Mentari menatapnya beberapa detik. Jawabannya benar, tetapi bukan untuk pertanyaan yang baru saja ia ajukan.

Mentari mengernyit. “Iya, aku bisa lihat.”

Tidak ada tanggapan lain.

Hujan semakin rapat di atas atap koridor. Dari jalan depan, klakson bersahutan di antara suara kendaraan yang melintas di jalan basah. Mentari menelan ludah. Napasnya mulai terasa pendek, sementara jemarinya tanpa sadar mencari tali tas di bahu.

Ia menarik napas, tetapi berhenti sebelum terasa penuh.

Jangan sekarang.

Mentari melangkah mundur lagi, menjauh dari tempias.

“Kau takut?”

Ia mengangkat wajah.

“Siapa bilang aku takut?”

“Tubuhmu.”

Mentari terdiam.

Tidak ada nada mengejek dalam suara laki-laki itu. Ia mengatakannya begitu saja dan entah kenapa itu justru membuat Mentari kesal.

“Aku nggak takut.”

Tatapan laki-laki itu turun ke tangannya.

Mentari baru sadar jari-jarinya masih mencengkeram tali tas. Ia segera melepaskannya.

“Dan jangan sok tahu.”

Laki-laki itu tidak membalas.

Cahaya putih membelah langit. Suara petir menyusul beberapa detik kemudian, cukup dekat untuk membuat Mentari tersentak.

Ia berbalik.

Langkahnya cepat menyusuri koridor menuju lorong yang menghubungkan gedung utama dengan perpustakaan. Baru setelah suara hujan tidak lagi terasa tepat di atas kepala, Mentari berhenti di dekat jendela.

Telapak tangannya menyentuh dinding yang dingin. Ia menarik napas pelan sambil membiarkan suara-suara di sekitarnya masuk—mahasiswa yang mengeluhkan sinyal ponsel, langkah kaki dari arah tangga, dan dua orang yang sedang berdebat mau menunggu hujan atau memesan ojek.

Sedikit demi sedikit, dadanya melonggar.

Mentari menoleh ke jendela.

Sebagian lapangan masih terlihat dari sana. Pohon flamboyan bergerak diterpa hujan, jalur paving sudah dipenuhi genangan, dan laki-laki itu masih berdiri di tempat yang sama.

Lihat selengkapnya