Sunlight Through the Rain

RA Senja
Chapter #4

Dua Belas Persen

Cahaya pagi masuk dari sela tirai ketika Mentari membuka mata.

Tidak ada bunyi air di talang. Tidak ada langit abu-abu di balik kaca.

Ia meraih ponsel yang tergeletak di meja samping tempat tidur dan membuka aplikasi cuaca sebelum benar-benar bangun.

Dua belas persen.

Angkanya tidak berubah sejak semalam.

Mentari berdiri sebentar di depan jendela. Seorang anak berseragam mengayuh sepeda melewati rumah, disusul penjual bubur ayam yang mendorong gerobaknya pelan di ujung gang. Di pagar rumah sebelah, beberapa potong pakaian sudah dijemur di bawah matahari.

Pagi seperti ini biasanya lebih mudah. Jadwal kuliahnya selesai sore, perjalanan pulang sekitar empat puluh menit, dan untuk sekali ini Mentari tidak perlu memasukkan cuaca ke dalam hitungannya.

Payung lipat tetap ia masukkan ke tas setelah mandi.

Tangannya sempat berhenti di ritsleting sebelum tas itu ditutup.

“Nggak buru-buru hari ini?”

Nenek Sri sedang menaruh piring di meja makan ketika Mentari keluar dari kamar.

“Nggak, Nek.”

“Bagus. Sarapan dulu sebelum berangkat.”

Nasi goreng dan telur sudah menunggu di meja. Aroma bawang dan kecap masih hangat dari dapur.

Mentari menarik kursi, lalu melirik botol minum satu liter yang diletakkan Nenek di samping tas kameranya.

“Nek.”

“Hmm?”

“Tasku berat.”

Nenek tetap berjalan ke dapur. “Nanti kalau diminum juga jadi enteng.”

Mentari melihat botol itu sekali lagi sebelum memasukkannya ke tas.

Tidak ada gunanya berdebat.

(*)

Mentari hampir melewati lapangan begitu saja.

Hampir.

Di dekat tangga gedung utama, pandangannya bergerak ke sisi lapangan sebelum ia sempat memikirkan alasan untuk melihat ke sana.

Pohon flamboyan masih basah di beberapa bagian. Petugas kebersihan sedang menyapu daun yang jatuh semalam, sementara beberapa mahasiswa duduk di tepi paving sambil sarapan dari kotak plastik.

Tempat di dekat pohon itu kosong.

Mentari terus berjalan.

“Tar.”

Ia menoleh.

Fajar berdiri di depan gedung fotografi sambil memegang dua gelas plastik. Satu diangkat sedikit ke arahnya.

“Aku beli kebanyakan.”

Mentari menerima gelas itu. “Kebanyakan atau memang sengaja?”

“Dua-duanya mungkin.”

Es kopi susu.

Mentari membuka tutup kecilnya dan mencicipi.

“Manis banget.”

“Makanya buat kamu.”

“Kenapa yang nggak enak selalu buat aku?”

Fajar sudah berjalan masuk. “Karena kamu nggak pernah nolak.”

Mentari mengikuti sambil masih memegang gelasnya.

Dia benar.

“Lama-lama aku bisa diabetes.” 

(*)

Pak Gunawan menampilkan lima foto di layar proyektor sebelum melepas kelas mereka untuk praktik. Kelima foto itu diambil di lokasi yang sama—sebuah toko yang perlahan membuka hari, dari rolling door terangkat sampai pelanggan pertama datang.

“Satu lokasi. Lima frame,” katanya. “Saya mau lihat kalian bisa bikin rangkaian, bukan lima foto bagus yang kebetulan ditaruh bersebelahan.”

Beberapa orang langsung mulai membereskan kamera.

“Satu jam. Setelah itu kembali ke sini.”

Fajar menoleh kepada Mentari begitu mereka keluar. “Belakang perpustakaan?”

“Ada yang menarik?”

“Tadi pagi aku lihat Pak Wawan mindahin tanaman ke sana. Kayaknya bisa deh.”

“Boleh. Kita lihat dulu view-nya.”

Mereka berjalan ke belakang perpustakaan.

Area itu lebih sepi daripada halaman depan. Cahaya matahari masuk melalui kisi-kisi besi di sisi bangunan, jatuh memanjang di lantai dan sebagian dinding. Beberapa pot tanaman berjajar dekat pagar, masih menyimpan air hujan semalam.

Mentari mengangkat kamera.

Lihat selengkapnya