“Mentari.”
Suara Nenek Sri datang dari dapur, disusul bunyi tutup toples beradu dengan meja. Mentari yang sedang memasukkan kamera ke dalam tas menoleh ke arah pintu.
“Iya, Nek.”
“Gulanya habis.”
Mentari melongok dari pintu kamar.
“Habis banget?”
“Kalau masih ada, Nenek nggak bilang habis.”
Mentari tersenyum. “Nanti aku beli.”
Ia kembali ke tasnya, memastikan payung lipat masih di dalam sebelum menutup ritsleting. Ponselnya tergeletak di kasur dengan aplikasi cuaca masih terbuka.
Tujuh puluh delapan persen.
Sejak bangun tadi angkanya belum berubah. Hujan diperkirakan turun menjelang pukul empat sore.
“Nanti itu kapan?” suara Nenek terdengar lagi.
“Pulang kuliah.”
“Kemarin juga bilang pulang kuliah.”
Mentari keluar kamar sambil membawa tas. Nenek berdiri di depan meja makan dengan toples gula terbuka di tangannya. Beberapa butir terakhir menempel di sudut kaca.
“Kemarin lupa, Nek. Hari ini aku beli.”
Nenek menatapnya.
Mentari mengambil sepotong telur dadar dari piring sarapannya. “Beneran.”
“Dua kilo.”
“Banyak banget.”
“Biar kalau kamu lupa lagi, Nenek masih punya cadangan.”
Mentari tertawa sambil menggigit telur. “Iya, Nek. Dua kilo.”
Kali ini Nenek baru menutup toplesnya.
(*)
Menjelang siang, cahaya yang masuk dari jendela kelas perlahan meredup. Bayangan kusen yang tadi jatuh sampai ke kaki meja sudah menghilang ketika Mentari melirik keluar.
Awan menumpuk di atas gedung administrasi.
Untuk sekali ini, ponselnya tetap berada di dalam tas.
Baru ketika kelas terakhir selesai pukul 15:02, Mentari mengecek prakiraan lagi.
Delapan puluh tiga persen.
Hujan diperkirakan mulai 16:05.
Masih cukup.
Mentari memasukkan ponsel ke tas bersama buku catatannya. Di luar kelas, koridor sudah dipenuhi mahasiswa yang bergegas ke tangga atau masih bergerombol di depan pintu.
Mentari baru berjalan beberapa meter ketika seseorang menarik ujung tali tas kameranya dari belakang.
“Tar.”
Mentari menoleh. “Apaan?”
“Pulang?”
“Iya.”
“Buru-buru banget.”
“Mau beli gula.”
Fajar berjalan di sebelahnya sambil memasukkan satu tangan ke saku celana.
“Segitunya?”
“Dari kemarin Nenek minta. Aku lupa.”
Fajar mengangguk pelan. “Oh.”
Mentari meliriknya. “Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”