“Kau mengikutiku?”
Mentari membeku.
Suara laki-laki itu datang dari belakang.
Sangat dekat.
Mentari memutar badan terlalu cepat sampai ujung payung ikut berayun, melemparkan beberapa tetes air dari pinggirannya. Tumitnya bergeser di atas paving basah ketika menemukan laki-laki itu berdiri tak sampai dua meter di hadapannya.
Tadi dia ada di ujung deretan ruko.
Mentari yakin.
Ia melihat sendiri punggung kemeja putih itu menjauh. Lalu sebuah mobil berhenti, pintunya terbuka, menghalangi pandangan hanya beberapa detik. Ketika mobil pergi, laki-laki itu sudah tidak ada.
Sekarang dia berdiri di belakangnya.
Tatapan Mentari bergerak melewati bahunya, menyusuri jalan kecil di sebelah kanan sampai deretan motor yang terparkir di depan warung. Tidak ada gang lain. Tidak ada celah di antara bangunan yang cukup lebar untuk dilewati.
Hujan masih turun rapat, tetapi guntur yang tadi bergulung di atas ruko sudah menjauh. Tinggal bunyi air yang memukul payung, talang, dan jalan di sekeliling mereka.
“Kau mengikutiku?” tanyanya lagi.
“Nggak.”
Jawaban itu keluar lebih cepat daripada yang sempat Mentari pikirkan.
“Siapa yang ngikutin? Rumahku di sekitar sini.”
Laki-laki itu memandangnya.
“Aku memang habis dari minimarket.” Mentari mengangkat kantong belanja di tangan kirinya sedikit. Dua kilo gula menarik plastik tipis itu sampai pegangannya menekan ruas jari. “Aku mau pulang.”
Tatapan laki-laki itu turun ke kantong tersebut, lalu kembali ke wajah Mentari.
“Tapi kau berjalan di belakangku.”
“Ya karena aku lagi jalan.”
“Di belakangku.”
“Terus? Orang jalan di belakang orang lain kan biasa.”
Tidak ada jawaban.
Laki-laki itu hanya berdiri di sana, menatap Mentari dengan wajah setenang sebelumnya.
Mentari bertahan beberapa detik.
“Okay, fine.”
Ia memindahkan kantong belanja ke tangan yang memegang payung. “Aku memang ngikutin kamu.”
Tidak ada senyum karena berhasil menangkap kebohongannya.
Tidak ada ekspresi puas sama sekali.
Justru itu yang membuat Mentari semakin salah tingkah.
“Jangan lihat aku begitu.”
“Bagaimana?”
“Kayak begitu.”
“Aku sedang melihatmu.”
“Iya. Aku tahu.”
Tatapan itu tidak juga berpindah. Mentari mengusap pipinya.
“Kenapa sih dilihatin terus?”
Laki-laki itu tetap diam.
Mentari menurunkan tangannya perlahan.
Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat hal-hal yang sebelumnya hanya tampak dari seberang jalan atau sisi lapangan. Rambut hitam laki-laki itu jatuh rapi tanpa satu helai pun menempel di dahi. Kemeja putihnya tidak berubah warna di bagian bahu. Bahkan ujung celananya masih terlihat kering.
Padahal hujan jatuh rapat di sekeliling tubuhnya.
Mentari menggeser payung sedikit ke belakang.
“Kamu sebenarnya siapa?”
Ada jeda sebelum laki-laki itu menjawab.
“Itu tidak penting.”
Alis Mentari langsung terangkat. “Penting buat aku.”