Sunlight Through the Rain

RA Senja
Chapter #7

Yang Terlewatkan

“Itu yang ingin kutahu.”

Mentari tidak langsung menanggapinya.

Bunyi hujan memenuhi ruang di bawah payungnya. Air jatuh dari ujung kanopi, memukul paving yang sudah dipenuhi genangan kecil. Di seberang jalan, pemilik warung akhirnya selesai menarik terpal dan mulai mengikat salah satu ujungnya pada tiang.

Mentari mengerutkan kening.

“Kamu nggak tahu kenapa aku bisa lihat kamu?”

“Tidak.”

Mentari merapatkan bibir. Matanya turun sebentar ke kemeja putih yang masih kering itu, lalu bergerak ke orang-orang yang berlalu-lalang di belakangnya.

Tidak ada satu pun yang menoleh.

Mentari menggeser kantong belanja yang mulai menekan ruas jarinya. Pandangannya kembali pada kemeja putih yang tetap kering di tengah hujan.  

“Jadi...” Ia menelan ludah. “Kamu hantu, ya?”

Laki-laki itu menatapnya.

“Aku bukan hantu.”

Jawabannya terlalu cepat.

Sudut bibir Mentari naik sebelah. “Bohong.”

“Tidak.”

“Mana ada hantu yang mau ngaku.”

“Aku tidak perlu mengaku apa-apa.”

Laki-laki itu memandanginya dengan wajah datar.

Mentari membuka mulut, lalu berhenti.

“Ya... ya. Tapi kamu itu mencurigakan.” Matanya menyipit sedikit.

“Pertama, orang lain nggak bisa lihat kamu. Kedua, kamu nggak basah kena hujan. Ketiga, tadi kamu ada di depan, terus tiba-tiba muncul di belakangku.” Mentari mengangkat telunjuk setiap kali menyebut satu hal. “Kalau bukan hantu, terus apa?”

“Kau tidak perlu tahu.”

“Tuh, kan. Jawaban kamu kayak gitu lagi.”

Mentari mengembuskan napas panjang. “Dari tadi aku nanya, ujung-ujungnya tetap nggak tahu apa-apa.”

“Sekarang kau sudah tahu aku bukan hantu.”

Mentari terdiam sesaat.

“Okay, fine. Kamu bukan hantu. Tapi kamu juga bukan manusia.” Ia mendecak pelan. “Informasi yang sangat membantu.”

Laki-laki itu tidak bereaksi. Mentari menunggu beberapa detik, tetapi wajah di hadapannya tetap sama datarnya.

Entah dia tidak paham sedang disindir atau memang tidak peduli.

Ponselnya tiba-tiba bergetar kencang dari dalam tas. Mentari tersentak, lalu buru-buru merogoh ke dalam. Begitu nama di layar terbaca, matanya langsung membesar.

Nenek.

Ia melirik jam di sudut layar.

16:21.

“Astaga.”

Mentari mengangkat telepon. “Halo, Nek?”

“Kamu di mana, Mentari?”

“Ini...” Mentari menoleh ke belakang. Deretan ruko basah memanjang sampai tikungan, dan minimarket yang tadi ia datangi bahkan sudah tidak terlihat dari sana. “Di dekat rumah.”

“Di dekat rumah sebelah mana? Dari tadi belum sampai.”

“Aku beli gula.”

“Beli gula sampai ke mana?”

Mentari menunduk melihat kantong di tangannya.

“Cuma ke minimarket, Nek.”

“Terus kok belum pulang?”

“Ini mau pulang.”

“Kehujanan nggak?”

“Nggak. Aku bawa payung.”

Hening sebentar di ujung telepon.

“Ya sudah, langsung pulang. Jangan ke mana-mana lagi.”

“Iya.”

“Gulanya ketinggalan nggak di minimarket?”

Mentari hampir tertawa. “Nggak, Nek. Tenang aja.”

“Ya sudah.”

Lihat selengkapnya