Sebungkus keripik rumput laut mendarat di atas buku catatan Fajar.
Fajar yang sedang menulis berhenti. Ujung pulpennya masih menempel di kertas ketika matanya turun ke bungkus hijau di depannya.
Ia mengangkat wajah.
Mentari sudah menarik kursi di sebelahnya.
“Eh, beneran dibeliin?”
Mentari meletakkan tas kamera di bawah meja. “Kemarin kamu minta.”
“Aku cuma bercanda lho.”
Tangannya langsung terulur lagi. “Ya udah. Kalau nggak mau, sini.”
Tangan Fajar lebih cepat menarik keripik itu ke dada.
“Siapa bilang nggak mau?”
Mentari mendengus kecil. “Dasar.”
Fajar membalik bungkusnya, membaca sesuatu di bagian belakang. “Kenapa nggak yang besar sekalian?”
“Kamu mintanya yang kecil.”
“Besok beliin yang besar dong.”
“Wah… ngelunjak ni anak.”
Fajar terkekeh lalu memasukkan keripik itu ke dalam tas. “Makasih ya.”
Suara kursi bergeser dari barisan belakang. Beberapa mahasiswa baru masuk sambil membawa gelas kopi dan map tugas. Dari jendela di sisi kanan kelas, cahaya pagi jatuh sampai ke lantai. Di antara dua gedung kampus, langit membentang biru dengan beberapa awan tipis yang nyaris tidak bergerak.
Tidak ada tanda-tanda hujan.
Mentari menatapnya sedikit lebih lama.
“Kenapa?”
Kepalanya langsung berbalik. “Apanya yang kenapa?”
Fajar mengikuti arah pandangannya ke jendela. “Ngelihatin apa?”
“Langit.”
“Langitnya kenapa?”
“Cuma lihat aja. Nggak boleh?”
Fajar mengangkat tangan, menunjuk ke arah jendela. “Boleh. Langitnya lagi bagus tuh.”
“Ya, kan?”
Fajar mengangguk.
Mentari mengambil buku catatan dari tas dan membukanya. Satu sikunya bertumpu di meja, menopang dagu.
Beberapa detik kemudian, matanya kembali bergerak ke jendela.
Langit masih biru.
(*)
Kelas pagi selesai lebih cepat dari jadwal. Mentari keluar dari gedung sambil memasukkan ponsel ke dalam tas. Masih ada sekitar dua puluh menit sebelum kelas berikutnya dimulai di studio.
Ia baru melewati taman ketika pandangannya tertahan pada seseorang.
Seorang perempuan duduk sendirian di bangku bawah pohon.
Sebuah tote bag krem tergeletak di sebelahnya. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajah karena kepalanya terus tertunduk. Mahasiswa berlalu-lalang di jalur paving di depannya tanpa ada satu pun yang menyapa.
Langkah Mentari melambat.
Ia seharusnya menuju gedung studio di sisi lain kampus. Namun, matanya kembali pada perempuan di bawah pohon itu.
Dua mahasiswa berjalan melewati bangku tersebut sambil mengobrol. Mereka tidak menoleh.
Seorang laki-laki menyusul beberapa langkah di belakang mereka. Juga tidak menoleh.
Mentari menggeser tali tas di bahunya.
Perempuan itu tetap menunduk.
Bibir Mentari merapat.
Bagaimana caranya aku tahu sosok mana saja yang bukan manusia?
Kemarin laki-laki berkemeja putih itu sendiri yang mengatakan orang lain tidak bisa melihatnya. Tapi kalau tidak ada yang memberi tahu—
“Han!”
Seorang perempuan berlari dari arah gedung administrasi ke bangku taman.
Perempuan di bangku mengangkat kepala.
“Sorry! Udah nunggu lama banget, ya?”
“Nggak. Baru sepuluh menit.”
Perempuan yang baru datang menjatuhkan tubuh di sebelahnya, lalu mengambil botol minum dari tote bag krem tanpa meminta izin.
Mentari masih memperhatikan keduanya beberapa detik sebelum mengalihkan pandangan.
Manusia.
Mentari kembali berjalan.
Panas matahari mengenai sisi wajahnya ketika ia keluar dari bayangan pohon.
Tidak sampai semenit kemudian, langkahnya melambat lagi.
Seorang laki-laki berdiri di ujung koridor terbuka.
Sendirian.
Mentari berhenti.
Laki-laki itu mengenakan jaket abu-abu meskipun udara siang mulai hangat. Kedua tangannya masuk ke saku. Dua mahasiswa melewatinya dari arah berlawanan. Jarak salah satunya bahkan tidak sampai satu langkah, tetapi laki-laki itu tidak bergeser. Mereka juga tidak menoleh.
Mentari melangkah lagi, lebih pelan.
Laki-laki itu tiba-tiba mengangkat wajah.