Mentari pagi menyapa dengan hangat, serta membelah kabut tipis yang menyelimuti perbatasan. Udara sejuk khas pegunungan berhembus lembut, membawa aroma tanah basah, dan dedaunan yang baru saja tersiram embun. Di tengah hamparan hijau yang membentang luas, sebuah pos penjagaan berdiri kokoh dan menjadi saksi bisu dari segala aktivitas yang terjadi di wilayah perbatasan Kalimantan Barat.
Di dalam pos penjagaan, seorang pria berwajah tegas dengan sorot mata yang tajam, sedang memeriksa peralatan tempurnya. Namanya Bagaskara―seorang Kapten Angkatan Darat. Pria itu merupakan salah satu anggota pasukan khusus yang berpengalaman. Wajahnya terukir garis-garis tegas yang menandakan bahwa perjalanan panjang yang telah dilaluinya, dipenuhi dengan tantangan, dan juga pengorbanan.
"Siap, Kapten," sahut seorang prajurit muda yang memecah keheningan pagi.
Bagaskara mengangguk dan berkacak pinggang. "Kita akan berpatroli ke arah Selatan. Pastikan semua senjata dalam kondisi siap tempur. Ingat, kita bertugas untuk menjaga keamanan negara dan kita tidak boleh lengah sedikit pun."
"Siap, Kapten!" jawab para prajurit serempak dengan suara mereka yang bergema di ruangan sempit tersebut.
Bagaskara yang akrab disapa Kapten Bagas oleh rekan-rekannya itu adalah sosok pria yang dikenal tegas, disiplin, dan memiliki jiwa patriotisme yang tinggi. Setelah enam bulan yang lalu kembali ke kota asalnya di Jakarta untuk menenangkan diri, ia kembali lagi ke medan tugasnya di daerah perbatasan Kalimantan Barat. Ia merasa terlahir kembali di sini, di tengah medan yang menantang, dan tugas yang berat. Di sinilah, ia menemukan kembali jati dirinya sebagai seorang perwira sejati yang siap berkorban untuk tanah air.
"Bagas, kau tahu, kan, misi kau kali ini cukup berbahaya," ujar Danu yang merupakan salah satu rekannya yang paling berpengalaman itu, datang menghampirinya.
"Tentu saja aku tahu. Kita, kan, sudah membahasnya kemarin," jawab Bagas tenang sambil menyimpan rompi miliknya di atas meja.
"Kau harus tetap hati-hati dan jangan sampai lengah," tambah Danu kemudian yang entah kenapa terlihat khawatir sekali.
"Tenang saja, Dan. Kita, kan, sudah terlatih untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi," jawab Bagas berusaha menenangkan rekannya itu.
"Iya, aku tahu. Tapi, Gas, menjinakkan bom itu berbeda dengan kau yang sudah terlatih sebagai sniper bertahun-tahun lamanya. Lagi pula, kemampuanmu itu sudah di atas rata-rata. Aneh saja kalau kau belajar menjinakkan bom secara tiba-tiba. Tapi, kau benar sudah baik-baik saja, kan?" tanya Danu kembali untuk memastikan, seraya menatap wajah rekannya itu dengan seksama, dan penuh kekhawatiran yang mendalam.
Bagas menghela napas pendek dan memegang bahu rekannya itu pelan. "Aku baik-baik saja. Kau tidak usah khawatir, aku sudah tidak pernah bermimpi buruk lagi. Lagian kau ini kenapa, sih, berisik sekali seperti wanita!" sindirnya seraya menatap wajah temannya itu dengan sinis.
"Kau yakin?" tanya Danu kembali untuk memastikan dan masih memasang ekspresi cemas.
"100% yakin," jawabnya dengan penuh keyakinan.
Walau Bagas sudah mengatakan ia baik-baik saja. Namun, Danu tetap merasa khawatir karena ia tahu kepulangan Bagas 6 bulan yang lalu itu adalah untuk terapi lukanya, untuk menenangkan hati, serta pikirannya sejenak. Karena ia tahu, 6 bulan yang lalu hati rekannya itu terlalu rapuh dan sulit untuk mengendalikan diri. Ia sempat depresi hingga membuat rekan-rekannya meminta dirinya untuk mengambil cuti sejenak. Maka dari itu, rekan-rekannya dan atasannya di wilayah perbatasan, menasehati Bagas untuk pulang ke Jakarta sejenak, serta untuk memulihkan luka hatinya.
"Aku harap kau jangan memendamnya sendiri. Kami selalu ada untukmu, Gas," tutur Danu kembali seraya memegang bahu kanan rekannya itu.
Bagas hanya tersenyum tipis dan kembali menghela napas pendek. "Kau tenang saja, Dan. Aku sekarang sudah baik-baik saja, lagian aku juga sudah jarang minum obat."
"Apa perlu kau . . ."
"Aku baik-baik saja. Percayalah padaku, Dan. Kalau kondisiku memburuk, aku tak mungkin kembali ke Kalimantan, kan?" tegasnya memotong pembicaraan temannya itu dengan cepat.
Danu hanya mengangguk pasrah dan mempercayai rekannya itu, walau dengan terpaksa.
Di sisi lain, di kota Jakarta―seorang jurnalis muda bernama Rindu terlihat sibuk di kantornya. Ia bekerja di sebuah kantor redaksi News Life yang dikenal karena keberaniannya dalam mengungkap berbagai permasalahan di Indonesia. Rindu sendiri memiliki tekad yang kuat untuk menguak berbagai kejanggalan di negaranya, termasuk di bidang militer.
"Rin, elo udah siap, kan, untuk meliput demonstrasi mahasiswa besok?" tanya Dita yang merupakan salah satu rekan kerjanya yang merupakan teman semasa kuliahnya dulu.
"Tentu saja gue udah siap. Gue akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan informasi yang akurat dan juga objektif," jawab Rindu dengan semangat 45.
"Gue percaya, ko, kalau lo itu tidak akan mengecewakan kami. Gue tahu lo seperti apa dan bagaimana," tutur Dita kembali sambil menatap wajah rekan kerjanya itu seraya tersenyum tipis, dan dengan penuh rasa bangga.
"Harus percaya, dong. Kalau nggak percaya, lo mesti traktir gue makan di resto favorit gue full selama seminggu," ujar Rindu seraya tertawa lebar.
"Sialan lo! Mau buat gue bangkrut, ya!" seru Dita seraya mendorong bahu rekannya itu pelan.
Rindu hanya tertawa seraya merapihkan isi ransel miliknya.
Rindu. Ya, dia adalah sosok jurnalis yang idealis dan bersemangat dalam mengungkap kebenaran. Ia selalu ingin menjadi suara bagi mereka yang tidak bersuara, terutama bagi mereka yang terpinggirkan, dan terlupakan. Ia adalah sosok wanita yang tangguh. Selalu berani terjun ke lapangan langsung, walau situasinya selalu terlihat mencekam.
"Rin," panggil Dita pelan.
"Hm . . ."
"Elo tahu, kan, meliput demonstrasi mahasiswa itu cukup berbahaya? Walau banyak sekali polisi yang berjaga di sana, sih. Tapi, mereka itu sulit dikendalikan. Elo sendiri juga tahu, kan, kejadian tahun lalu saat kita meliput demonstrasi kenaikan BBM?" ujar Dita tampak khawatir.
"Iya, gue tahu, Ta. Gue akan berusaha untuk tetap profesional dan berhati-hati. Gue pastikan kejadian setahun yang lalu itu tidak akan terjadi lagi," jawab Rindu penuh keyakinan.
"Jangan sampai terluka, Rin. Badan elo itu udah penuh luka akibat lo terlalu berani. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa. Apalagi sampai masuk rumah sakit lagi!"
Mendengar hal tersebut Rindu hanya tertawa kecil. Akibat sikap dan tindakannya yang terlalu berani, ia sering kali terluka saat turun ke lapangan. Bahkan, nyawanya saja dulu hampir melayang karena keberaniannya yang terlalu ceroboh.