Setahun berlalu begitu cepat hingga menorehkan banyak jejak waktu yang tak terhenti. Bagas―sang Kapten dari Batalyon Infanteri 303, kini berdiri tegak di tengah hamparan tanah merah yang luluh lantak diterjang banjir bandang. Matahari senja mulai meredup dan mulai menyapa bumi dengan warna jingga yang menyayat hati. Di sekelilingnya, para prajurit muda yang tergabung dalam tim penyelamat berjibaku melawan derasnya air dan medan yang sulit.
"Kapten, laporan dari pos 2. Ada warga yang terjebak di atas pohon. Mereka kehabisan air dan makanan!" ujar Sertu Adit—anak buah Bagas yang setia dengan perawakannya yang tegap dan berkulit sawo matang.
Bagas mengangguk, matanya yang tajam menatap ke arah sekeliling hutan yang terendam air.
"Kita harus segera ke sana. Sertu Adit, kau pimpin tim untuk evakuasi. Serka Joni, siapkan perahu karet. Serda Yanto, siapkan tali dan perlengkapan pertolongan pertama."
"Siap, Kapten!" jawab para prajurit serempak dengan semangat mereka yang berkobar di tengah kepedihan yang melanda.
Bagas menghela napas panjang seraya berkacak pinggang. Ia teringat pesan atasannya beberapa hari yang lalu saat ia masih berada di wilayah perbatasan Kalimantan Barat.
"Bagas, berangkatlah sore nanti ke Kalimantan Selatan. Di sana juga akan ada beberapa tim Jurnalis dari Jakarta yang akan bergabung dengan tim-mu. Mereka akan meliput kejadian banjir bandang yang berada di Kalimantan Selatan sebagai relawan dan untuk membantu menyebarkan informasi. Pastikan mereka aman dan terlindungi."
Bagas mengerutkan kening. "Tim Jurnalis?"
"Iya. Media News Life akan menjadi tambahan untuk tim-mu. Jadi, kau sambut mereka dengan baik. Lindungi mereka selama di Kalimantan hingga nanti mereka kembali ke Jakarta."
Bagas berdiri tegak dan memberi hormat. "Siap, Kolonel!"
Bagas sama sekali tak pernah membayangkan jika dirinya akan bertemu dengan mereka, khususnya Rindu di medan tugas yang berat seperti ini. Selama sepekan ini, hujan deras telah melanda tanah Kalimantan Selatan hingga terjadi banjir bandang yang meluap begitu dashyat. Ia dan tim-nya ditugaskan untuk mengevakuasi korban banjir di sana, serta mendistribusikan beberapa perlengkapan logistik.
Mendengar nama media News Life, Bagas cukup terkejut karena media tersebut merupakan tempat di mana Rindu bekerja dan secara otomatis mereka pasti akan kembali bertemu. Perempuan itu adalah perempuan yang pernah mengisi hatinya dan yang telah menghilang dari hidupnya selama 12 tahun, namun pernah bertemu lagi dengannya di Jakarta 1 tahun yang lalu.
"Kapten, tim Jurnalis baru saja datang, mereka sedang dalam perjalanan menuju posko kita," ujar Sertu Adit menyadarkan Bagas dari lamunannya.
Bagas tertegun. Jantungnya berdebar kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongganya. Ia tak bisa menyembunyikan rasa gugup yang tiba-tiba saja menyergapnya.
"Siapa saja mereka?" tanya Bagas masih dengan ekspresi datarnya.
"Ada Rindu dari Media News Life, Capt. Dan beberapa rekannya yang lain," jawab Sertu Adit kemudian.
"Total tim?"
"Perkiraan 15 orang, Capt."
"Pastinya?" tanya Bagas lagi dengan nada tegas.
"Siap, 15 orang, Capt!" seru Sertu Adit dengan suara lantang dan berdiri tegak.
Bagas terdiam, matanya menatap ke arah hutan yang semakin gelap.
"Kapten, kita harus bersiap. Tim Jurnalis sudah hampir sampai," ujar Sertu Adit kembali.
Bagas menarik napas dalam-dalam dan berusaha untuk menenangkan dirinya. Ia harus bersikap profesional. Tugasnya adalah untuk menyelamatkan warga dan memimpin tim-nya, bukan untuk bernoslagia dengan sang mantan kekasih.
"Baiklah," jawab Bagas yang kali terlihat lebih tenang.
Tak lama kemudian, sekelompok orang berpakaian rapi muncul dari balik rimbunnya pepohonan. Rindu dengan seragam jurnalisnya yang khas, berjalan di depan dengan langkah cepat. Wajahnya tampak lelah namun ia tetap terlihat bersemangat. Di belakangnya, ada Dita rekan jurnalisnya yang selalu setia mendampinginya dan beberapa anggota timnya yang lain menyusul di belakang..
"Kapten Bagaskara," tutur Rindu pelan dengan suaranya yang terdengar sedikit gugup begitu ia tepat berdiri di samping pria tinggi itu.
Bagas mengangguk, matanya menatap Rindu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mbak Rindu."
"Aku tak menyangka akan bertemu lagi denganmu di sini. Aku senang bertemu denganmu."
"Ini bukan waktu yang tepat untuk bernostalgia, Mbak Rindu. Tugas kita adalah untuk menyelamatkan warga. Kita harus bekerja sama," ujarnya dengan suara yang terdengar dingin dan sinis.
"Ah, iya, maafkan saya, Capt," tutur Rindu terlihat salah tingkah dan merasa konyol karena sudah melakukan hal bodoh.
"Selesaikan kewajibanmu bersama tim-mu. Mohon kerjasamanya selama kita berada di sini."
Rindu mengangguk dengan gugup, matanya menatap Bagas dengan penuh kerinduan yang mendalam. Ia tak menyangka akan bertemu Bagas kembali setelah 1 tahun berlalu, bahkan di tengah situasi yang sangat sulit seperti ini.
"Saya mengerti, Kapten, saya akan melakukan yang terbaik untuk membantu."
"Bagus," tutur Bagas kembali dingin, "Sertu Adit, kau tunjukkan jalan pada Tim Jurnalis ke posko. Pastikan mereka aman dan terlindungi."
"Siap, Kapten," jawab Sertu Adit dengan suaranya yang lantang, "mari ikut saya."