Di tengah heningnya pagi, Bagas berdiri di tepi sungai yang meluap―memandang ke arah desa yang terendam banjir. Suara gemuruh air yang mengalir deras seolah mengingatkannya pada hari-hari penuh kesedihan yang baru saja mereka lalui.
Hari pertama meng-evakuasi korban bencana alam yang kemarin telah dimulai, membuat para tim penyelamat bekerja lebih keras dari biasanya. Hari ini pun, mereka semua harus berusaha lebih baik lagi, terutama untuk Bagas dan Rindu. Meski ada rasa canggung yang masih menyelimuti, masih ada harapan yang mulai tumbuh di dalam hati keduanya.
"Jadi, mau sampai kapan elo terus memandangi ketampanan wajah sang Kapten terkasih?" bisik Dita menyindir yang tiba-tiba saja mengejutkan Rindu, ketika sedang mempersiapkan peralatan yang harus ia bawa sambil sesekali melirik ke arah Bagas dan tim-nya yang sedang briefing.
"Dita! Apaan, sih!" serunya yang langsung mengalihkan pandangan matanya karena malu.
"Ganteng, ya? Jadi buat terpesona, ya?" tutur Dita kembali menggoda temannya.
"Perlu, ya, gue jawab? Kayanya, elo tahu, deh, jawaban gue apa!" seru Rindu hingga membuat Dita tertawa kecil mendengar jawaban temannya yang sedang diserang penyakit kerinduan yang tak tertahankan itu.
Rindu kembali menyibukkan dirinya untuk mengatur peralatan evakuasi yang harus ia bawa. Rambutnya yang basah terkena percikan air tadi pagi karena sempat hujan beberapa saat, menambah pesona wajahnya yang penuh ketegasan. Bagas melirik ke arah sang mantan dan menatapnya sejenak, ia merasakan getaran emosional yang sulit dijelaskan. Mereka berdua pernah berbagi banyak kenangan di masa lalu. Namun, di tengah situasi yang genting ini, rasa canggung itu seolah menjadi penghalangnya.
"Kapten, sepertinya kita perlu memeriksa kembali area Selatan!" seru Serda Yanto—si pria yang tubuhnya penuh dengan otot itu memecah keheningan.
"Iya, kita ke sana sekarang! Bawa lebih banyak peralatan!" perintah Bagas.
"Siap, Kapten!"
Tim penyelamat dari pasukan khusus TNI AD―termasuk Sertu Adit, Serka Joni, dan Serda Yanto, mulai bergerak, saling membantu, dan mendukung satu sama lainnya. Mereka tahu, perjalanan panjang ini bukan hanya tentang menyelamatkan nyawa saja, tetapi juga tentang membangun kembali harapan baru.
"Rindu," tutur Bagas datang menghampiri seraya memanggil namanya pelan.
"Iya?" sahut Rindu sambil membalikkan badan dan menatap wajah Bagas dengan gugup.
"Mau membantu saya dengan membawa peralatan ini?" tanya Bagas berusaha menghilangkan kecanggungan di antara mereka.
Rindu menoleh, matanya berbinar, dan terlihat senang. "Tentu saja. Ayo, kita lakukan bersama," jawabnya dengan senyuman yang terlihat tulus.
Bagas membalas senyuman manis Rindu, kali ini senyumannya sedikit lebih lebar hingga membuat sang mantan kekasih merasa gugup karena sudah lama sekali ia tidak melihat senyuman tipis yang memikat dari pria militer itu. Pada akhirnya, mereka berdua mulai mengangkat peralatan, merasakan beban yang sama, dan dalam proses itu sedikit demi sedikit dinding pemisah diantara mereka berdua mulai runtuh.
"Kamu lama di sini?" tanya Rindu yang memberanikan diri berjalan di samping Bagas.
"1 bulan aku di sini, karena bulan depan aku harus kembali ke wilayah perbatasan," jawab Bagas yang kali ini lebih hangat dan bersahabat. Karena ia sudah menggunakan kata aku, bukan saya lagi. Dan, Rindu cukup senang mendengarnya.
"Oh, cukup lama juga. Terus, yang menggantikan kamu dan tim-mu di sini siapa?"
"Ada, tim khusus dari Jakarta akan menggantikan kami di sini bulan depan."
Krik . . . krik . . . suasana kembali sunyi dan terlihat canggung.
"Kamu sendiri bagaimana?" tanya Bagas sambil menatap wajah Rindu.
"Aku? Aku dan tim hanya 15 hari di sini, karena kami juga harus kembali lagi ke Jakarta secepatnya. Pekerjaan kami di sana masih banyak yang menanti," jawab Rindu seraya memperbaiki rambutnya yang beberapa kali tertitup angin.
"Rindu?" panggil Bagas kembali. Ia melangkah mendekat. Setiap langkah pria berseragam hijau tua itu, bergema di telinga Rindu―yang selalu mengalahkan setiap detak jantungnya yang berpacu kencang. Rindu yang berdiri di samping Bagas, melihat siluetnya terukir jelas di bawah sinar mentari yang mulai meredup. Kamera dan tas besarnya yang selalu setia menemani perjalanannya, tergenggam erat di tangan kanannya.
Bagas merasakan hawa panas membara di pipinya. Tatapannya tak berani bertemu dengan mata Rindu. Karena mata itu selalu memancarkan kehangatannya. Sementara Rindu, ia ingin sekali mendekat dan ingin merasakan kehangatan sosok Bagas yang selalu membuatnya merasa aman.
Dengan perlahan, Bagas meraih sapu tangan dari saku celananya. Kain lembut itu terasa dingin di telapak tangannya. Ia mendekat perlahan dan dengan hati-hati ia mengikatkan sapu tangan miliknya itu ke arah rambut Rindu yang sejak tadi menari-nari tertiup angin. Rambut Rindu yang bergelombang seperti ombak laut yang menari-nari dan terurai indah di pundaknya.