"Saat kita ke luar dari sekolah ini, gandeng tanganku, ya," tutur Bagas dengan nada lembut, sambil melangkahkan kakinya secara perlahan ketika ia jalan berdampingan dengan gadis berambut panjang semapai yang bergelombang.
Gadis itu adalah Rindu. Gadis berseragam putih abu-abu.
"Kenapa?" tanya Rindu bingung.
Begitu mereka berdua tepat berada di luar gerbang sekolah, tiba-tiba saja Bagas menggandeng tangan Rindu dengan sangat erat, hingga membuat sang pemilik tangan terkejut.
"Mulai hari ini, aku akan selalu jalan berdampingan denganmu, setiap detik, setiap menit, dan setiap harinya," katanya sambil menatap wajah Rindu dengan sorotan mata yang berbinar-binar.
"Maksudmu?" tanya Rindu masih tak mengerti.
"Kamu sudah menjadi milikku hari ini," bisik Bagas di telinga Rindu hingga membuat gadis itu terkejut, serta pipinya merona merah karena malu.
Matahari sore itu merangkak pelan ke ufuk barat, meninggalkan jejak keemasan di langit yang biru kehijauan. Udara sejuk berhembus lembut, membawa aroma tanah basah setelah hujan pagi tadi. Di gerbang SMA tempat keduanya mengenyam pendidikan pada tahun 2008, Bagas dan Rindu berdiri berdampingan, tangan mereka bertaut erat―sebuah ikatan tak kasat mata yang baru saja terjalin.
Senyum tipis mengembang di bibir Bagas—seorang pria dingin yang biasanya tak mudah menunjukkan emosinya. Sedangkan Rindu―si gadis ceria dengan mata yang berbinar-binar, menatap Bagas dengan penuh kebahagiaan.
"Jadi, kita resmi pacaran sekarang?" tanya Rindu yang terlihat tak percaya dengan apa yang terjadi.
Bagas menganggukkan kepalanya, matanya pun menatap lekat ke arah Rindu. "Kalau tidak berpacaran, untuk apa aku menggandeng tanganmu?"
Rindu tersenyum lebar, ia menarik tangan Bagas agar berjalan bersamanya. "Aku nggak nyangka kamu mau pacaran sama aku."
Bagas tersenyum tipis, ia menatap Rindu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku juga nggak nyangka, Rin. Kamu adalah gadis yang baik. Aku senang bisa menggandeng tanganmu dengan leluasa."
Rindu kembali tersenyum malu-malu. Bagas adalah kakak kelasnya di sekolah. Mereka terpaut 1 tahun. Bagas yang dingin dan selalu menyembunyikan ekspresi wajahnya. Namun, di depan Rindu, ia selalu tersenyum. Walau senyumannya itu tidak selebar bahunya.
Mereka berdua berjalan beriringan, menelusuri jalanan aspal yang masih basah oleh sisa hujan tadi pagi. Di sepanjang jalan, Rindu tak henti-hentinya berceloteh, bercerita tentang hal-hal sepele yang terjadi di sekolah, sedangkan Bagas mendengarkan dengan seksama. Sesekali ia menyela dengan komentar singkat. Keheningan di antara mereka bukanlah keheningan yang canggung, melainkan keheningan yang dipenuhi dengan rasa nyaman dan juga pengertian.
"Bagas, kamu mau makan apa?" tanya Rindu seraya menghentikan langkahnya di depan sebuah warung makan sederhana.
"Aku terserah kamu, Rin," jawab Bagas singkat.
Rindu menganggukkan kepalanya seraya menarik tangan kekasihnya untuk masuk ke dalam warung. "Aku mau makan mie ayam. Kamu mau?"
Bagas menganggukkan kepalanya. "Iya, aku juga mau mie ayam."
Mereka duduk berhadapan, menikmati mie ayam yang masih mengepul panas. Rindu tampak begitu bahagia, senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya. Bagas hanya memperhatikan kekasihnya dengan tatapan penuh kasih sayang. Dia merasa sangat beruntung memiliki gadis seperti Rindu di sisinya.
"Bagas, kamu tahu nggak? Aku seneng banget karena akhirnya kita pacaran juga," kata Rindu yang kali ini matanya menatap lekat ke arah Bagas.
Bagas terdiam, menatap Rindu dengan tatapan yang tak terbaca. "Kenapa kamu mau menerima aku jadi pacarmu?"
"Karena kamu baik, perhatian, dan kamu selalu bisa membuatku tertawa," jawab Rindu polos.
Bagas tersenyum tipis, menarik tangan Rindu, dan menggenggamnya erat. "Kamu juga gadis yang baik, cantik, dan kamu selalu membuatku merasa bahagia."
Rindu tersipu malu, menunduk, dan memainkan ujung baju kekasihnya. "Bagas, aku mau kita jalan-jalan ke taman kota."
Bagas mengangguk. Setelah menghabiskan makanan mereka dan membayarnya, ia menarik Rindu ke luar dari warung. "Ayo, kita pergi ke taman kota."
Rindu tersenyum riang. Sejak awal ia mengenal sosok Bagas yang merupakan teman sepupunya, dan ia diperkenalkan kepada Bagas—sejak awal itulah ia sudah merasa yakin bahwa ia jatuh cinta kepada pria tinggi dan dingin itu. Awalnya, ia kira Bagas sama sekali tak menyukainya. Namun, rasa sukanya kini terbalas setelah 6 bulan mereka saling mengenal.
Mereka kembali berjalan beriringan sambil menelusuri jalanan yang ramai. Di sepanjang jalan, mereka saling berpegangan tangan dan menikmati suasana sore yang indah. Matahari mulai tenggelam serta menghasilkan pemandangan yang menakjubkan. Langit dihiasi warna jingga, merah, dan ungu. Rindu terkesima melihat pemandangan di hadapannya. Dia menoleh ke arah Bagas, menatapnya dengan mata yang berbinar-binar.