Mentari pagi menyapa tim penyelamat dan tim jurnalis yang tengah beristirahat di sebuah perkampungan kecil di pedalaman Kalimantan Selatan. Setelah berhari-hari berjuang melawan banjir dan lumpur, mereka akhirnya menemukan sedikit ketenangan di desa terpencil itu.
Rumah-rumah panggung berdiri kokoh di atas tanah yang masih basah dan dikelilingi oleh pepohonan rindang yang menjulang tinggi seolah menjadi penjaga desa yang damai ini. Sungai Barito yang biasanya tenang, kini masih mengamuk, airnya berwarna cokelat pekat, hingga membawa sisa-sisa puing rumah dan pohon yang tumbang. Namun, di tengah kehancuran itu, semangat warga desa masih tetap membara.
"Pemandangan di sini memang sangat luar biasa," ucap Rindu tampak terpesona sambil mengarahkan kameranya ke arah sungai Haruyan, sungai di mana tempat tim penyelamat melakukan perjalanan selanjutnya untuk mencari para korban banjir bandang yang masih selamat, "rasanya sangat sulit untuk dijelaskan. Keindahan yang kontras dengan kerusakan di sekitarnya."
"Keindahan alam Kalimantan terutama di Kalimantan Selatan memang sangat luar biasa, Rin. Tapi, di balik keindahan ini, ada penderitaan yang harus kita atasi," jawab Bagas sambil melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah Rindu, serta kedua bola matanya yang tetap menatap ke arah perkampungan.
Bagas melihat warga bergotong royong membersihkan puing-puing rumah mereka dengan wajah-wajah yang terlihat lelah, namun mereka berusaha untuk tetap terlihat tegar.
"Aku sangat prihatin dengan keadaan masyarakat di sini. Tapi, bagaimanapun keadaan tempat tinggal mereka saat ini, warga di sini tetap terlihat kuat dan masih bisa tersenyum cerah, ya," tuturnya dengan mata berkaca-kaca, "bencana banjir ini sungguh menyayat hatiku. Melihat rumah-rumah warga yang hancur, melihat mereka kehilangan segalanya itu, rasanya sangat menyedihkan. Apalagi, pemerintah masih saja belum turun tangan dan membantu," lanjut Rindu dengan suaranya yang terdengar pilu.
"Aku tahu tim jurnalis sudah berjuang untuk menyuarakan suara masyarakat di sini. Mereka memang membutuhkan pertolongan sesegera mungkin, Rin. Bantuan dari kami pun masih terbatas. Tapi, aku tetap bangga kepada kalian. Selama 7 hari di sini, kalian sudah berjuang bersama kami."
"Sudah tugas kami untuk menyuarakan suara mereka agar terdengar, Gas. Walaupun, mereka yang duduk dengan santai di sana masih pura-pura tidak mendengar suara kami di sini," katanya pelan terdengar sarkas.
"Kamu tahu, bencana ini mengingatkan kita akan betapa rapuhnya kita di hadapan alam," jawab Bagas yang kali ini matanya menatap ke arah desa-desa yang terendam banjir dari kejauhan, "kita harus belajar untuk hidup berdampingan dengan alam, Rin, untuk menghormati alam, dan untuk menjaga kelestariannya."
"Kita juga harus bangga dengan ketahanan masyarakat Indonesia, Capt. Walaupun mereka kehilangan segalanya, mereka tetap tegar dan saling membantu. Semangat gotong royong mereka luar biasa. Aku benar-benar tersentuh dan juga merasa kagum."
"Kamu benar, Rindu. Semangat gotong royong itu adalah jiwa bangsa kita. Walau, di luar sana masih saja ada yang memberi kritikan. Ya, namanya juga hidup, tidak bisa lepas dari pro dan kontra. Namun, itulah yang membuat bangsa kita tetap kuat dan teguh di tengah kesulitan, yang terpenting itu masih ada jiwa-jiwa kemanusiaan dan kebersamaan dari jutaan manusia di dunia ini."
"Kita sebagai warga negara Indonesia memang memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melindungi Ibu Pertiwi kita, Capt," lanjut Rindu yang kali ini suaranya bergetar dengan emosi, "kita harus ikut serta dalam upaya pelestarian alam dan penanggulangan bencana yang terjadi."
Bagas tersenyum tipis. Ia merasa takjub dan bangga dengan pemikiran wanita manis yang berdiri di sampingnya itu. Ternyata, belasan tahun tidak berjumpa, membuat Bagas melihat sisi lain dari mantan kekasihnya itu.
"Iya, Rindu. Kita harus menanamkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air dalam diri kita. Dan, kita juga harus menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah."
Rindu tersenyum lebar. Ia menatap wajah tampan Bagas dengan sorot mata yang berkaca-kaca dan lagi-lagi penuh kerinduan. Sudah lama sekali ia tak bisa berdialog seperti ini dengannya. Ada rasa bangga dan haru menyelimuti hatinya. Pria berpangkat Kapten ini benar-benar membuat Rindu sangatbangga.
"Kita harus bertindak, Bagas. Benar, kan?"
"Iya, kamu benar."
"Kita harus melakukan sesuatu untuk membantu warga yang terdampak bencana. Kita harus menunjukkan bahwa kita peduli dengan sesama dan dengan Ibu Pertiwi. Tidak melihat usia, pendidikan, profesi, ataupun agama. Seperti Pancasila sila ke 5. Jadi, kita akan tetap berdiri tegak dan membantu mereka sampai akhir, kan?"
"Iya, Rin. Kita akan terus membantu mereka."
Mereka berdua saling beradu pandang dengan penuh rasa cinta dan kekaguman. Keduanya menyadari bahwa kecintaan mereka terhadap Ibu Pertiwi adalah kekuatan yang dapat menggerakkan mereka untuk berbuat kebaikan. Mereka berdua siap untuk menghadapi masa depan bersama, dengan penuh harapan dan cinta, serta untuk terus berjuang demi bangsa dan negara.
"Sertu Adit, bagaimana kondisi perahu? Aman untuk kita lanjutkan perjalanan?" tanya Bagas kemudian, setelah cukup lama berbincang-bincang dengan Rindu.
"Aman, Kapten. Tapi mesinnya agak rewel, sepertinya perlu perawatan ekstra nanti," jawab Sertu Adit sambil memeriksa mesin perahu karet, "semoga tidak mogok di tengah sungai, ya. Ini sudah cukup membuat saya gugup sejak kemarin."
"Sebelum kalian pulang ke Jakarta, aku akan mengajak kalian untuk melihat keindahan Kalimantan lebih lama. Kalian mau, kan?"
"Tentu, aku tak sabar menunggu hari itu tiba."
Bagas tersenyum. Keduanya pun saling melempar senyum di tengah keindahan sungai Haruyan yang tertutupi. Perjalanan mereka selanjutnya pun membawa mereka kembali menyusuri sungai Haruyan dengan perahu karet. Pohon-pohon raksasa menjulang tinggi, menaungi sungai dengan kanopinya yang hijau dan juga rimbun.
Di sepanjang perjalanan, mereka menyaksikan keindahan alam Kalimantan Selatan yang dikelilingi batu-batu besar. Air terjun sungai Haruyan yang menawan, tebing-tebing karst yang menjulang, dan gua-gua misterius yang tersembunyi di balik pepohonan lebat.
"Bagas, lihatlah! Pemandangannya bagus!" seru Rindu yang begitu takjub melihat pemandangan sungai Haruyan yang tampak indah seraya menarik-narik pergelangan tangan Bagas pelan.
Ia tidak sadar, kalau rasa takjubnya dengan pemandangan di Kalimantan ini, membuatnya menarik pergelangan tangan sang mantan kekasih, hingga membuat Bagas sedikit terkejut, dan membuat tim yang lain langsung memalingkan wajah mereka dengan gugup.
"Jangan lihat, fokus kerja!" seru Aryo dengan gugup, serta langsung mengajak rekannya yang lain untuk tetap fokus, dan mengabaikan pemandangan atasannya yang sedang dilanda kasmaran itu.
"Tidak pernah rasanya gue melihat Mbak Rindu salah tingkah dan mabuk cinta seperti itu," tutur Andin pelan.
"Biasanya, kalau di kantor ngomel-ngomel terus, ya?" timpal Dito menjawab.
"Iya, dengan ciri khas rambutnya yang berantakan, 3 gelas kopi di dekat mejanya, dan berkas yang menumpuk di mana-mana," ujar Andin mengingat kebiasaan atasannya itu.
"Satu lagi, teriakannya yang ngebass. 'Aryo, kerjain sekarang juga sebelum gue kena omelan Mas Fauzi,' benar-benar membuat gue frustasi!" cerita Aryo yang mengikuti suara Rindu ketika sedang stress dan dikejar deadline.
Mendengar celotehan tim Videografer, rekan-rekannya yang lain saat berada di atas beberapa perahu karet di samping mereka, tertawa lebar sembari menikmati pemandangan sungai Haruyan yang sangat indah.
"Ahh, iya," sahut Bagas tampak gugup begitu Rindu menarik pergelangan tangannya.
Karena tersadar akan sikapnya, Rindu yang gugup, langsung melepas tangannya dari pergelangan tangan Bagas dengan cepat.
"Ma-maaf, tadi aku reflek."
"Tidak masalah. Oya, kamu tahu, Rin, salah satu air terjun indah di wilayah Haruyan itu adalah air terjun 7 tingkat yang dinamakan Rampah Piruah oleh warga lokal, " jawab Bagas dengan matanya yang menatap pemandangan di depannya dengan penuh kekaguman, "Serka Joni, kau sudah siap dokumentasikan pemandangannya, kan?"
"Siap, Kapten! Lensa sudah siap, kamera juga sudah siap. Semoga hasilnya memuaskan," jawab Serka Joni sambil mempersiapkan kameranya, "tapi, jujur saja, Kapten, pemandangannya membuat saya terpesona karena saking menakjubkannya. Saya jadi lupa sejenak dengan tugas, jadi ingin menikmati pemandangannya saja," ujarnya seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena malu mengucapkan hal tersebut kepada atasannya.
"Santai saja dulu, Jon. Kau nikmati pemandangan di sini sebelum beberapa saat lagi kita kembali bertugas. Nikmati dengan gratis pemandangan Indonesia yang luar biasa ini," ujar Bagas sambil menepuk bahu anak buahnya itu layaknya seorang sahabat.
"Siap, Kapten!"
"Sumpah, yah, ini gila, sih. Ini beneran surga tersembunyi!" celetuk Aryo dengan matanya yang berbinar-binar mengagumi pemandangan di sekelilingnya.
"Gak nyangka di Kalimantan Selatan ada tempat seindah ini," tutur Seno tampak takjub.
"Bener banget, Sen. Airnya jernih banget kayak kaca. Padahal di beberapa tempat, sungainya kotor karena terkena dampak banjir bandang," timpal Rian yang kali ini bersuara.
"Pengen nyebur rasanya," timpal Aryo kembali sambil mengabadikan momen tersebut dengan kameranya.
Rindu tersenyum saat melihat rekan-rekannya terlihat senang. Ia juga ikut merasakan kekaguman yang sama.
"Ini baru sebagian kecil dari keindahan Kalimantan Selatan. Masih banyak lagi tempat-tempat yang lebih menakjubkan yang belum kita datangi," tutur Bagas memberi tahu, "siap, Nona Jurnalis? Petualangan kita akan segera dimulai!"
"Hah? Pergi sekarang, nih? Bukannya kamu bilang nanti sebelum kami pulang?"
"Iya, sekarang saja. Kebetulan cukup cerah hari ini. Jadi, apakah kamu sudah siap berpetualang?"