Tangan Rahayu yang kasar dan pecah-pecah terus mengaduk adonan kue cucur di dalam baskom plastik kusam. Asap dari tungku kayu bakar menusuk matanya, namun ia hanya menyekanya dengan ujung daster yang sudah pudar warnanya. Di sudut dapur yang sempit, Bima dan Yuda berbagi satu buku tulis untuk mengerjakan tugas sekolah mereka.
"Ibu, pensil Bima sudah pendek sekali, susah dipegang," keluh si sulung sambil menunjukkan potongan kayu kecil di tangannya. Rahayu berhenti mengaduk sejenak, lalu memberikan senyum tipis yang menyembunyikan rasa lelahnya yang luar biasa. Ia merogoh saku dasternya, memastikan beberapa koin hasil jualan kemarin masih tersisa di sana.
"Selesaikan dulu baris itu, Bima. Besok kalau kue ini laku semua, Ibu belikan pensil baru yang lebih panjang untukmu," ucap Rahayu dengan nada suara yang tenang namun tegas. Ia selalu punya cara untuk menenangkan kegelisahan anak-anaknya, meski perutnya sendiri seringkali hanya diganjal dengan air putih hangat agar jatah nasi cukup untuk berempat.
Anita dan Fita, dua putri kecilnya, tidur berhimpitan di atas tikar pandan yang sudah mulai bolong di beberapa bagian. Rahayu memandangi wajah lelap mereka dengan tatapan yang penuh dengan doa dan harapan besar. Baginya, setiap tetes keringat yang jatuh ke lantai tanah ini adalah investasi untuk gelar sarjana yang kelak akan mereka sandang.
Suara jangkrik di luar rumah bambu itu seolah mengiringi tekad Rahayu yang tidak pernah luntur oleh kemiskinan. Ia tidak peduli jika harus memakai baju yang sama selama bertahun-tahun, asalkan Bima, Yuda, Anita, dan Fita bisa memakai seragam sekolah yang bersih dan rapi setiap pagi. Masa depan mereka adalah satu-satunya alasan mengapa ia masih sanggup berdiri tegak.
"Ibu tidak tidur?" tanya Yuda sambil menguap lebar, menutup buku tulisnya yang sudah penuh dengan coretan perhitungan matematika. Rahayu menggeleng perlahan, tangannya kembali sibuk menata kayu bakar agar api tetap stabil dan kue-kuenya matang dengan sempurna. Ia ingin memastikan bahwa besok pagi, anak-anaknya memiliki sesuatu untuk dibanggakan.
"Tidurlah, Nak. Ibu harus menyelesaikan ini agar kalian bisa sekolah dengan tenang besok pagi," jawabnya singkat sambil terus bekerja di bawah temaram lampu minyak yang bergoyang ditiup angin malam. Rahayu tidak pernah menyangka bahwa pengabdian tanpa batas ini suatu saat nanti akan diuji oleh keberhasilan yang ia perjuangkan dengan seluruh nyawanya.
"Bima, habiskan nasinya. Kamu butuh tenaga untuk ujian hari ini," kata Rahayu sambil menyeka keringat yang menetes di dahi. Di dapur sempit itu, aroma minyak goreng bekas masih menggantung di udara yang lembap. Ia terus mengawasi putra sulungnya itu dengan tatapan penuh harapan yang tidak pernah redup.
Tangan Rahayu yang kasar karena terlalu sering mencuci pakaian tetangga bergerak lincah membagi sebutir telur goreng menjadi empat bagian kecil. Ia memastikan Yuda, Anita, dan si bungsu Fita mendapatkan jatah yang sama adilnya. Meski porsinya sangat sedikit, ia ingin anak-anaknya merasa dicukupi oleh kasih sayang.
Perut Rahayu sendiri sebenarnya berbunyi cukup keras karena belum terisi apa pun sejak kemarin sore. Namun, ia segera meminum seteguk air putih hangat untuk meredam rasa lapar yang melilit. Baginya, melihat keempat anaknya mengunyah dengan lahap adalah kemewahan yang jauh lebih mengenyangkan daripada sepiring nasi.
Bima sempat berhenti menyuap dan menatap piring ibunya yang kosong melompong tanpa sebutir nasi pun. "Ibu tidak makan lagi? Ayo bagi dua telur ini denganku, Bu," tanyanya dengan suara serak. Bima memang selalu menjadi anak yang paling peka terhadap keadaan sulit yang sedang mereka hadapi di rumah kontrakan itu.
Rahayu menggeleng cepat sambil mengusap kepala Bima dengan lembut, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan saat menutupi kesedihan. "Ibu sudah kenyang, tadi sudah makan sisa kerak nasi di panci," dustanya dengan nada suara yang tetap tenang. Ia tidak ingin beban pikiran mengganggu fokus anak-anaknya yang sedang berjuang.
Di dalam hati yang paling dalam, Rahayu memanjatkan doa dan janji suci kepada Sang Pencipta. Ia bersumpah akan membanting tulang lebih keras lagi demi menyekolahkan mereka hingga ke jenjang paling tinggi. Ia percaya bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar bagi mereka untuk meraih masa depan yang jauh lebih layak.
Suasana pagi itu ditutup dengan tawa kecil Fita yang sedang berebut remah telur dengan Anita di pojok meja kayu yang sudah lapuk. Rahayu tersenyum lebar, menyembunyikan rasa lelah yang luar biasa di balik binar matanya yang tulus. Ia tidak pernah menduga bahwa pengorbanan sebesar ini suatu saat nanti akan diuji oleh waktu.
Suara mesin jahit tua merek Butterfly itu menderu konsisten, membelah kesunyian malam di ruang tamu yang sempit. Rahayu mencondongkan tubuhnya ke depan, memastikan jarum perak itu melompat tepat di atas garis kapur yang ia buat tadi sore. Cahaya lampu bohlam lima watt yang menggantung rendah di atas kepalanya tampak berkedip pelan, seolah ikut kelelahan menyaksikan jemari Rahayu yang tak kunjung berhenti bergerak di atas kain katun cokelat.
Pintu kayu yang sudah lapuk diketuk tiga kali dari luar, membuat konsentrasi Rahayu sedikit terpecah namun kakinya tetap mengayuh pedal mesin dengan ritme yang sama. "Bu Rahayu, ini saya, Pak RT," suara serak dari balik pintu itu terdengar di sela-sela deru mesin. Rahayu segera menghentikan kayuhannya, menyeka keringat di pelipis dengan punggung tangan, lalu bergegas membukakan pintu untuk tamunya yang datang membawa bungkusan plastik besar berisi kain.