SURGA DI TELAPAK KAKI IBU

Bilsyah Ifaq
Chapter #2

Puncak yang Menjauhkan

Matahari sore itu menyengat atap seng rumah Rahayu di pinggiran desa, menciptakan hawa gerah yang seolah mengendap di ruang tamu. Rahayu duduk diam sembari mengelus pinggiran foto kusam di atas meja kayu yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Di sana, Bima, Yuda, Anita, dan Fita tersenyum lebar dengan seragam sekolah yang rapi, hasil dari keringat Rahayu berjualan jamu keliling selama belasan tahun tanpa henti.

Bima, si sulung yang kini menjadi direktur di sebuah perusahaan konstruksi ternama, sudah tiga tahun tidak menginjakkan kaki di lantai tanah rumah ini. Suaranya di telepon selalu terdengar terburu-buru, seolah setiap detik yang ia habiskan untuk bicara dengan ibunya adalah kerugian finansial yang besar. "Bu, Bima sibuk sekali bulan ini, ada proyek besar di pusat kota yang harus segera selesai," ucapnya singkat sebelum memutus sambungan tanpa menunggu jawaban.

Yuda tidak jauh berbeda, kesuksesannya sebagai pengacara kondang di Jakarta membuatnya merasa telah melampaui kehidupan desa yang dianggapnya tertinggal dan membosankan. Baginya, mengirimkan uang bulanan lewat transfer bank sudah lebih dari cukup untuk menggantikan kehadirannya di sisi Rahayu yang mulai sering sakit sakitan. Ia merasa kewajibannya sebagai anak sudah tuntas hanya dengan memastikan saldo di rekening ibunya tidak pernah menyentuh angka nol.

Anita dan Fita, dua anak perempuannya yang dahulu sangat manja, kini lebih sibuk dengan lingkaran sosialita dan karier mereka yang sedang bersinar terang di ibu kota. Anita sering kali beralasan bahwa polusi dan perjalanan jauh ke desa akan merusak jadwal perawatannya yang padat dan mahal setiap akhir pekan. Sementara itu, Fita lebih memilih menghabiskan waktu liburnya di luar negeri daripada harus mencium aroma tanah basah dan dapur kayu di rumah masa kecilnya.

Rahayu sering kali menyiapkan masakan kesukaan mereka, berharap salah satu dari mobil mewah anak-anaknya akan muncul di ujung jalan setapak yang berdebu itu. Namun, sayur lodeh dan sambal terasi buatannya hanya berakhir dingin di atas meja, ditemani oleh suara jangkrik yang mulai bersahutan di balik rimbunnya pohon bambu. Harapannya selalu pupus saat malam tiba dan lampu jalan di depan rumah mulai meredup, menandakan hari telah berakhir tanpa ada satu pun suara mesin kendaraan yang mendekat.

Suatu malam, Rahayu mencoba menghubungi mereka satu per satu untuk sekadar mendengar suara cucu-cucunya yang bahkan belum pernah ia peluk secara langsung sejak lahir. Namun, yang ia dapatkan hanyalah nada sibuk atau jawaban singkat dari asisten rumah tangga mereka yang mengatakan bahwa tuan dan nyonya sedang tidak ingin diganggu. Rahayu hanya bisa menghela napas panjang, menyimpan kembali ponsel tuanya ke dalam saku daster yang warnanya sudah mulai memudar akibat terlalu sering dicuci.

Kesuksesan yang ia perjuangkan dengan air mata dan doa itu kini terasa seperti dinding kaca tebal yang memisahkan dirinya dengan darah dagingnya sendiri. Ia mulai menyadari bahwa gedung-gedung tinggi di Jakarta telah menelan ingatan anak-anaknya tentang betapa kerasnya hidup mereka dahulu sebelum mencapai puncak kejayaan. Rahayu hanya bisa menatap rembulan dari jendela kamar, bertanya-tanya dalam hati apakah mereka masih ingat jalan pulang menuju dekapan hangat seorang ibu yang merindukan mereka.

Pendingin ruangan di ruang rapat lantai empat puluh itu berdesis halus, mengiringi presentasi grafik laba yang terus merangkak naik. Bima menyesuaikan letak dasi sutranya yang terasa sedikit mencekik, sementara matanya tetap terpaku pada layar proyektor. Tiba-tiba, ponsel di atas meja mahoni itu bergetar hebat, memecah konsentrasi para direktur yang hadir. Nama "Ibu" muncul di layar, disertai foto Rahayu yang tersenyum canggung di depan rumah tua mereka di desa.

Tanpa ragu sedikit pun, jempol Bima bergerak cepat menggeser ikon merah di layar ponselnya hingga getaran itu berhenti seketika. Ia tidak ingin momentum rapat yang sedang memihaknya ini terganggu oleh urusan domestik yang biasanya hanya berisi keluhan tentang sendi yang linu. Bima berdeham pelan untuk menjernihkan suaranya yang sempat tercekat, lalu melemparkan senyum tipis yang tampak sangat profesional kepada sekretaris pribadinya.

"Nanti saja saya hubungi balik, paling cuma mau tanya kabar atau minta uang belanja tambahan," gumam Bima dengan nada datar, seolah sedang membicarakan tagihan listrik yang tidak mendesak. Sekretarisnya hanya mengangguk patuh sambil mencatat instruksi tersebut tanpa banyak bertanya. Baginya, kesuksesan memerlukan pengorbanan waktu, dan Bima merasa telah membayar harga yang cukup mahal untuk berada di posisi puncak jabatan direksi ini.

Di sudut lain yang berjarak ratusan kilometer, Rahayu duduk di amben bambu yang mulai rapuh sambil memandangi layar ponselnya yang kembali gelap gulita. Ia baru saja memasak sayur lodeh kesukaan Bima, berharap bisa mendengar suara putra sulungnya meski hanya untuk beberapa detik saja. Jemarinya yang kasar karena bertahun-tahun mencuci baju orang lain kini gemetar, meraba permukaan layar yang terasa dingin dan tidak memberikan jawaban apa pun.

Rahayu menghela napas panjang, sebuah kebiasaan lama yang selalu ia lakukan untuk mengusir rasa sesak yang sering muncul tiba-tiba di dadanya. Ia mencoba memaklumi bahwa Bima sekarang adalah orang penting yang jadwalnya diatur oleh asisten, bukan lagi bocah yang mengekor di daster batiknya. Namun, ada sesuatu yang ia simpan rapat-rapat dalam laci hatinya, sebuah rahasia kecil tentang hasil pemeriksaan dokter di puskesmas kemarin pagi.

Ia tidak ingin membebani anak-anaknya yang kini sudah sukses, meski rasa nyeri di ulu hatinya kian hari kian tidak tertahankan lagi. Rahayu bangkit dengan perlahan, memegangi pinggangnya yang kaku, lalu berjalan menuju dapur untuk menutup panci sayur yang uapnya mulai menghilang. Baginya, kebahagiaan anak-anak adalah segalanya, walaupun ia harus menelan sendiri rasa sepi yang mulai menggerogoti sisa-sisa kekuatannya di masa tua yang sunyi ini.

Tiba-tiba, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Bima di tengah perdebatan sengit mengenai akuisisi perusahaan kompetitor yang sedang berlangsung panas. Pesan itu bukan dari ibunya, melainkan dari adik bungsunya, Fita, yang mengirimkan foto amplop putih dengan logo rumah sakit daerah. Bima tertegun sejenak, merasakan firasat buruk yang mulai merayap di balik jas mahalnya, tepat saat pintu ruang rapat terbuka dengan paksa oleh seorang kurir yang tampak sangat panik.

Lampu gantung kristal di ruang tengah rumah baru Yuda memantulkan cahaya yang menyilaukan, selaras dengan denting gelas sampanye yang saling beradu. Aroma parfum mahal dan cerutu impor memenuhi udara, mengaburkan bau cat dinding yang sebenarnya belum sepenuhnya kering. Yuda berdiri di tengah kerumunan kolega bisnisnya, memamerkan lantai marmer Italia yang baru saja selesai dipasang seminggu lalu dengan nada bicara yang penuh kebanggaan yang meluap-luap.

Sambil sesekali membetulkan letak jam tangan mewahnya, Yuda tertawa lebar menanggapi pujian dari rekan-rekannya mengenai pemilihan lokasi rumah di kawasan elit ini. Ia merasa telah mencapai puncak dunia, sebuah pembuktian diri bahwa anak desa sepertinya bisa menaklukkan ibu kota. Setiap sudut rumah itu dirancang untuk menunjukkan status sosialnya yang baru, mulai dari kolam renang tanpa tepi hingga sistem keamanan canggih yang terhubung langsung ke ponsel pintarnya.

Siska, istrinya, mendekat dengan langkah anggun sambil membawa nampan berisi kudapan kecil yang ditata sangat rapi dan artistik. Ia menarik Yuda sedikit menjauh dari kerumunan setelah tamu-tamu mulai asyik dengan obrolan masing-masing di sudut ruangan. Ada keraguan yang tersirat di wajah Siska saat ia menatap deretan kamar kosong di lantai dua yang masih belum memiliki penghuni tetap sejak mereka pindah kemarin.

"Yud, kamar di sebelah perpustakaan itu masih kosong dan sangat luas untuk ditempati sendirian," bisik Siska pelan agar tidak mengganggu suasana pesta. Ia meletakkan tangannya di lengan Yuda, mencoba mencari perhatian suaminya yang masih tampak sibuk memandangi tamu-tamunya. Siska merasa rumah sebesar ini terlalu sunyi jika hanya mereka berdua yang tinggal, sementara ada kewajiban moral yang belum mereka tunaikan.

"Maksudmu apa? Kita butuh ruang itu untuk tamu VIP atau mungkin ruang hobi yang baru," sahut Yuda sambil meneguk minumannya hingga separuh gelas. Ia tidak menoleh sedikit pun, matanya masih sibuk memindai ruangan untuk memastikan semua orang terkesan dengan kemewahan yang ia sajikan malam ini. Baginya, setiap jengkal tanah di rumah ini adalah investasi yang harus memberikan kepuasan visual bagi siapa pun yang melihatnya.

"Bukan itu, Mas. Aku berpikir apakah sebaiknya kita menjemput Ibu Rahayu sekarang? Dia sudah terlalu lama sendiri di desa," lanjut Siska dengan nada yang lebih mendesak namun tetap terjaga. Ia teringat mertuanya yang selalu mengirimkan doa lewat pesan singkat setiap pagi, meski jarang sekali mendapatkan balasan dari anak laki-lakinya yang kini sudah menjadi orang sukses dan sangat sibuk ini.

Yuda menggelengkan kepalanya dengan cepat, sebuah gerakan spontan yang menunjukkan penolakan keras tanpa perlu banyak kata-kata penjelasan lebih lanjut. Ia meletakkan gelasnya di atas meja marmer dengan sedikit hentakan, lalu menatap istrinya dengan pandangan yang seolah menganggap ide tersebut adalah sebuah kekeliruan besar. Tidak ada sedikit pun keraguan atau rasa rindu yang terpancar dari sorot mata tajam milik anak sulung itu.

Lihat selengkapnya